Lebaran Online, Ajang Silaturahmi Era New Normal

Rizka Diputra, Jurnalis · Rabu 27 Mei 2020 10:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 27 614 2220149 lebaran-online-ajang-silaturahmi-era-new-normal-ENCYEpEvEF.jpg (Foto: Shutterstock)

BANYAK cara dilakukan untuk mengekspresikan lebaran kepada keluarga, teman ataupun kerabat di momen Idul Fitri. Bahkan jauh sebelum pandemi Covid-19, aktivitas mengekspresikan lebaran bisa dilakukan melalui perangkat elektronik, mulai dari berucap selamat melalui pesan singkat atau SMS hingga di zaman sekarang via aplikasi WhatsApp atau berbagai media sosial lainnya.

Namun, ucapan selamat hari raya dan saling bermaafan via daring itu hanya sebagai permulaan saja. Jika nantinya bertatap muka, mereka masih mengucapkan kalimat yang sama yaitu saling bermaafan. Sehingga ada kesan bahwa ucapan via pesan singkat atau melalui media sosial belum dianggap nyata.

Dai muda Nahdlatul Ulama (NU), Ustadz Khoirul Anam mengatakan, di tengah pandemi corona saat ini dipastikan kita tidak bisa bertemu banyak orang, terutama yang jauh di kampung halaman sana. Oleh karenanya, ucapan selamat dan permohonan maaf secara online ini menjadi lebih riil.

Baca juga: Ini Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri yang Sahih

"Para penganut madzhab WHO menyebut kenyataan ini sebagai new normal, atau normalitas baru. Tapi baiklah, berdamai saja," kata Ustadz Khoirul dalam keterangannya dikutip Okezone, Rabu (27/5/2020).

Menurut dia, saat ini ucapan selamat dan anjang kegembiraan atau tahniah, saling berjabat tangan atau mushafahah, peluk-cium dan cipika-cipiki atau mu’anaqah, dan cium tangan atau taqbil al-yad secara online ini bisa diekspresikan dalam bentuk yang beragam.

Ilustrasi

"Istilah-istilah Arab barusan adalah terkait beberapa kesunnahan di hari lebaran, saya ambilkan dari kitab Tanwirul Qulub karya Syekh Amin Kurdi yang dibaca di bulan puasa kemarin," tuturnya.

"Untungnya, kita sudah sangat pintar memanfaatkan berbagai aplikasi dalam smartphone kita untuk merangkai kata dan gambar, pilihan warna, olah video, dan penambahan pernak-pernik yang meriah di sana-sini sehingga ekspresi berlebaran secara online ini menjadi lebih riil," tambah Ustadz Khoirul.

Baca juga: Cek Arah Kiblat, 27 dan 28 Mei Matahari Tepat di Atas Ka'bah

Tahun lalu kata dia, kelompok anti bid’ah masih sibuk berfatwa mengenai ucapan lebaran seperti apa yang dipraktikkan oleh baginda Nabi SAW dan para sahabatnya dan harus seperti itu, tapi sekarang di musim lebaran online ini fatwa itu tidak terdengar lagi.

"Kreasi kita (bid’ah hasanah) di musim lebaran 1441 H ini sudah tidak terbendung lagi. Riwayat-riwayat mengenai ekspresi berlebaran di masa Nabi menjadi dasar (ihtijaj) atau kaidah umum untuk membuat banyak kreasi di masa new normal ini, dan semua itu menjadi biasa saja," urainya.

Ustadz Khoirul menambahkan, beberapa orang khawatir, ikatan sosial akan semakin melemah di era normalitas baru ini. Ikatan kekerabatan semakin menyempit ke keluarga inti, itu pun yang sudah terlanjur berkeluarga. Orang semakin individualis. Beragama atau ber-Tuhan menjadi urusan personal.

"Lalu, ormas-ormas dan kumpul-kumpul semakin tidak relevan. Tapi melihat respons dan kepedulian sosial kita terhadap sesama di masa pandemi, lalu menyaksikan fenomena lebaran online ini, sepertinya kok normalitas baru ini hanyalah penerjemahan realitas lama ke dalam media baru saja. Substansinya, muatan nilai-nilainya tetap sama," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini