Deglobalisasi dan Pelokalan Gerakan Zakat di Era Covid-19

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 18 Juni 2020 19:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 18 614 2232483 deglobalisasi-dan-pelokalan-gerakan-zakat-di-era-covid-19-gi1ScfC86d.jpg ilustrasi (Okezone)

JAKARTA - Pandemi Covid-19 menjadikan banyak pembuat kebijakan dan pebisnis memikirkan kembali deglobalisasi atau mengurangi saling ketergantungan. Lalu bagaimana para pengelola zakat merespon kecenderungan deglobalisasi yang tengah menguat?

“Zakat adalah rukun Islam ketiga yang memiliki aspek spiritual, sosial dan ekonomi di dalamnya. Dalam harta seseorang yang telah mencapai nishab terkandung harta para mustahik,” kata Haryo Mojopahit, MS dari Direktorat Pengembangan Zakat Dompet Dhuafa dalam keterangannya, Kamis (18/6/2020).

 Baca juga: Kisah Abu Jahal Menentang Islam Meski Percaya Muhammad Rasulullah

Hukum Islam membagi mustahik (orang yang berhak menerima zakat) ke dalam delapan golongan (asnaf), yaitu fakir, miskin, gharimin, fii sabilillah, muallaf, rikab (budak), ibnu sabil (orang dalam perjalanan yang kehabisan bekal), dan amil (pengelola zakat).

“Porsi kepemilikan para mustahik harus dikeluarkan untuk membersihkan harta seseorang dengan cara berzakat. Tidak sempurna Islamnya jika seseorang tidak mengeluarkan hak para mustahik dari hartanya selama setahun. Sedemikian pentingnya ibadah zakat. Sehingga Khalifah Abu Bakar memerangi mereka yang tidak mau membayar zakat,” ujarnya.

Para ulama memprioritaskan pendistribusian dan pendayagunaan zakat di daerah tempat zakat itu ditunaikan. Zakat yang dikumpulkan di sebuah wilayah hendaknya didistribusikan dan disalurkan di wilayah itu juga. Zakat baru diperbolehkan diberikan ke mustahik di daerah lain saat tidak ada lagi mustahik di daerah tersebut.

 

Dalam sejarah peradaban Islam, hal tersebut pernah terjadi di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menyalurkan zakatnya ke wilayah Afrika. Ini berarti pelokalan zakat merupakan prioritas ketika di daerah tersebut masih ada mustahik yang memerlukan.

“Sementara itu, pengelolaan zakat di Indonesia tidak berhenti pada penyaluran sosial saja. Misalnya, memberikan bahan kebutuhan pokok atau membantu seseorang terbebas dari hutang. Beberapa Organisasi Pengelola Zakat (OPZ), baik level pemerintah dengan Badan Amil Zakat (BAZ) dan swadaya masyarakat melalui Lembaga Amil Zakat (LAZ), telah melakukan aktivitas pemberdayaan ekonomi masyarakat menggunakan dana zakat yang bergulir untuk membantu para mustahik keluar dari jerat kemiskinan,” lanjut Haryo Mojopahit.

Penyaluran dana zakat di tingkat lokal dalam mengurangi dampak ekonomi pandemi Covid-19, telah dilakukan oleh OPZ-OPZ di wilayah masing-masing. Mulai dari bantuan sosial berupa bahan kebutuhan pokok hingga memberikan bantuan ketahanan pangan keluarga, seperti bibit tanaman dan peternakan, serta pendampingan untuk memproduksi makanan sendiri di tingkat rumahan.

Saat ini, di komunitas juga tengah marak aktivitas jual-beli sesama anggota. Baik komunitas di lingkungan rumah hingga komunitas teman kerja. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyuburkan kegiatan jual-beli intra-komunitas.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Jual beli antar-tetangga menjadi sebuah hal yang diminati masyarakat. Membeli hasil panen petani lokal juga makin semarak dilakukan. Sosial media merupakan platform penting untuk aktivitas jual-beli di komunitas.

Ini merupakan semangat perberdayaan tingkat lokal yang harus ditangkap para pembuat kebijakan dan gerakan zakat.

Menumbuhkan Local Supply Chain

“Gejala deglobalisasi di tingkat internasional, prioritas penyaluran zakat untuk tingkat lokal dan semangat masyarakat untuk berjual beli secara lokal dari orang terdekat, harus disinergikan dalam rangka menumbuhkan local supply chain dari hulu hingga hilir. Dari sisi penawaran, dana zakat harus digulirkan untuk menumbuh-berdayakan para produsen bahan baku, UMKM yang menghasilkan produk-produk turunan dari bahan baku hingga barang jadi yang siap dikonsumsi oleh masyarakat di daerah tersebut,” ujar Haryo Mojopahit, MS.

Sedangkan, dari sisi permintaan, dana zakat bisa dipergunakan untuk membeli produk-produk yang dihasilkan oleh para produsen lokal. Kemudian dikelola untuk diberikan sebagai bantuan sosial kepada keluarga mustahik atau mereka yang terdampak pandemi Covid-19.

Cita-cita tersebut sebenarnya juga sudah dicanangkan Ir. Soekarno saat menggagas konsep Marhaenisme yang diambil dari pengalamannya bertemu dengan petani Marhaen yang memiliki tanah dan alat-alat pertaniannya sendiri dan hasilnya dikonsumsi sendiri. Namun, dalam perjalanannya, tidak ada negara yang sanggup menolak pusaran globalisasi.

Inilah saat terbaik bagi gerakan zakat untuk menumbuh-berdayakan local supply chain di tingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten atau Kota di Seluruh Indonesia dengan keunikannya masing-masing. Kelak ketika dunia benar-benar ter-deglobalisasi, ekonomi Indonesia memiliki ketahanan yang baik. Karena dukungan gerakan zakat terhadap keberlanjutan ekonomi berbasis local supply chain.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya