Memberi makan kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, artinya berusaha mengurangi beban penderitaan yang dialami dan dirasakan oleh anak-anak, yang notabene masih sangat membutuhkan belaian kasih sayang orang tua, tetapi takdir berkehendak lain, yaitu salah satu orang tuanya, yakni ayahnya sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya, dengan memberikan kebutuhan pokok untuk mereka.
Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa yang lebih diutamakan adalah anak yatim yang masih ada hubungan kekerabatan atau persaudaraan. Hal ini dimaksudkan agar tali persaudaraan sedarah semakin erat dan kuat. Jika hubungan persaudaraan terjalin erat, maka akan menghadirkan keharmonisan dalam keluarga.
Memberi makan kepada orang miskin yang sangat fakir, artinya meringankan beban hidup mereka dengan memberikan santunan berupa makanan agar bisa tetap bertahan hidup, untuk kemudian mampu berusaha menghidupi diri mereka sendiri.
Mereka termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.
Jalan mendaki itu memang sukar dan melelahkan. Tetapi, ketika jalan itu mampu kita lewati, maka kebahagiaan akan kita dapatkan. Lihatlah, betapa payah dan kelelahannya para pendaki gunung itu. Tetapi, ketika mereka sampai di puncak gunung, setelah melewati beragam hambatan dan rintangan, kebahagiaan dan kepuasan batin pun mereka rasakan. Sirna sudah segala lelah. Hilang sudah segenap penat. Yang tersisa hanyalah kebahagiaan menikmati indahnya pemandangan alam dari puncak gunung.
Demikian juga halnya ketika kita mampu melewati segala aral yang melintang, ujian dan cobaan yang menghadang perjalanan kita menuju kebahagiaan ukhrawi. Kelak, setelah kita berlelah-lelah di dunia fana ini dengan segenap perjuangan mengalahkan keinginan duniawi, kita akan dapati nikmatnya kebahagiaan ukhrawi yang tiada henti.
Ya, jalan terjal itu harus kita daki, hingga akhirnya kita berjumpa dengan Sang Ilahi.
(Salman Mardira)