UNTUK menuju atau mendapatkan kasih sayang Allah SWT terkadang kita harus melalui jalan yang terjal dan sulit. Berbagai ujian terjadi, tapi itulah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya kelak.
Allah berfirman dalam Alquran yang artinya:
“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (Q.S. Al-Balad: 12-17)
Dr. Didi Junaedi, dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang juga penulis buku-buku motivasi Islami, menjelaskan dalam kolomnya seperti dikutip dari laman jaringansantri, Kamis (25/6/2020), sebagai berikut;
Jika untuk mencapai kesuksesan di dunia yang bersifat sementara saja, kita harus membayarnya dengan kerja keras, ketekunan, kesabaran, semangat pantang menyerah, serta perjuangan tak kenal lelah, maka lebih-lebih jika kita bercita-cita untuk dapat mencapai kesuksesan di akhirat yang bersifat kekal-abadi.
Baca juga: Keistimewaan Sedekah untuk Anak Yatim, Kelak Bersanding dengan Rasulullah
Tentu, usaha yang kita lakukan harus jauh melebihi usaha yang kita lakukan untuk mencapai kesuksesan di dunia.
Jika kita rela berlelah-lelah demi meraih sukses duniawi, maka sudah sepatutnya kita lebih rela berlelah-lelah demi mencapai sukses ukhrawi. Ya, jalan menuju sukses itu memang tidak mudah, terjal dan mendaki, kadang juga berliku dan licin.
Sukses duniawi hanya akan diperoleh ketika kita mampu menaklukkan jalan terjal dan mendaki itu. Pun demikian dengan sukses ukhrawi. Ia hanya bisa didapatkan dengan perjuangan (jihad) yang luar biasa. Perjuangan di jalan Allah (jihad fi sabilillah), dengan mengerahkan seluruh daya dan upaya, mengeluarkan kemampuan terbaik yang kita miliki, disertai kesabaran, keikhlasan serta kepasrahan (tawakkal) yang total kepada Allah Swt.
Jalan itu memang mendaki dan sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? Di dalam QS Al-Balad ayat 13-17 dijelaskan bahwa jalan yang mendaki dan sukar itu adalah sebagai berikut:
Pertama, melepaskan budak dari perbudakan; Kedua, Memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.
Dari keterangan ayat di atas, dapat dipahami bahwa jalan terjal yang mendaki dan sukar itu adalah jalan Tuhan (Ilahi) yang termanifestasi pada nilai-nilai kemanusiaan (insani). Membebaskan budak dari perbudakan (pada masa jahiliyah dulu), artinya membebaskan manusia dari diskriminasi strata sosial.
Karena, pada hakekatnya setiap manusia sama di hadapan Allah, hanya tingkat ketakwaan yang membedakan mereka. Dengan demikian, membebaskan budak artinya mengakui eksistensi setiap manusia. Tidak ada superioritas ataupun inferioritas, yang ada adalah kesetaraan, kesejajaran dan kebersamaan.