Bolehkah Haji Diwakilkan?

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 25 Juni 2020 14:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 25 330 2236225 bagaimana-hukumnya-badal-haji-orang-sakit-atau-meninggal-453Vgi4OSo.jpg Jamaah haji berwukuf di Padang Arafah (Kemenag)

BADAL haji, mungkin saja sebagian muslim masih awam dengan pelaksanaan ibadah tersebut, namun ini bukan istilah asing. Secara harafiah artinya pengganti atau wakil.

Ibadah satu ini sama juga dengan mewakili seseorang berhaji, dengan ketentuan orang yang mewakili harus sudah lebih dulu melaksanakan ibadah haji secara sempurna. Hukumnya dibolehkan atau mubah.

“Dalam istilah haji, orang yang menghajikan orang lain disebut mubdil. Badal dapat dilakukan berdasarkan beberapa dalil dan rujukan riwayat,” ujar Pimpinan Majelis Ta'lim Dzikrul Muhajirin Depok, Ustadz Amar Ma’ruf (Gus Ma'ruf Halim) saat dihubungi Okezone, Kamis (25/6/2020).

Baca juga: Ini Alasan Arab Saudi Selenggarakan Haji 2020 secara Terbatas

Menurut madzhab Syafii, boleh menghajikan orang lain dalam dua kondisi. Pertama, untuk mereka yang tidak mampu melaksanakan haji karena sudah lanjut usia dan sakit. Jika memiliki harta ia wajib membiayai haji orang lain.

“Kedua, orang yang telah meninggal dan belum melaksanakan ibadah haji, ahli warisnya wajib menghajikannya dengan harta yang ada, kalau ada,” ucapnya.

Lebih lanjut, ulama Syafii dan Hambali melihat kemampuan melaksanakan ibadah haji ada dua macam, yaitu kemampuan langsung, seperti yang sehat, dan mempunyai harta.

Namun ada juga kemampuan sifatnya tidak langsung, mereka secara fisik tidak mampu namun dari sisi finansial mampu. Maka keduanya wajib melaksanakannya (ibadah haji).

Kemudian sebagian ulama madzhab Hambali memakruhkan biaya jasa badal haji. Namun Mazhab Asy-Syafiiyah dan Al-Malikiyah membolehkan seseorang meminta upah atas haji yang dikerjakannya untuk orang lain.

Hukum badal haji terdapat dalam hadist Rasulullah SAW, diriwatkan Ibnu Abbas:

"Seorang perempuan dari bani Juhainah datang kepada Rasulullah bertanya, "Rasulullah! Ibuku pernah bernadzar ingin melaksanakan ibadah haji, hingga beliau meninggal padahal dia belum melaksanakan ibadah haji tersebut, apakah aku bisa menghajikannya?. Rasulullah menjawab "Hajikanlah untuknya, kalau ibumu punya hutang kamu juga wajib membayarnya bukan? Bayarlah hutang Allah, karena hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi," (H.R. Bukhari dan Nasa’i).

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini