Pembayaran Zakat Konvensional Masih Digemari Masyarakat

Pristia Astari, Jurnalis · Senin 29 Juni 2020 14:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 29 614 2238162 pembayaran-zakat-konvensional-masih-digemari-masyarakat-88WQ22DEHp.JPG Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

FORUM Zakat (FOZ) dan Filantropi Indonesia (FI) mengkaji dampak pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang telah merubah pola interaksi dan transaksi masyarakat, termasuk dalam pembayaran zakat.

Perubahan ini mendorong 98 persen Lembaga Amil Zakat (LAZ) untuk mengembangkan berbagai inovasi digital, seperti pengembangan web (93%), pemanfaatan kanal sosial media (99%) dan platform crowdfunding (17,3%) untuk pengelolaan ZIS.

“Selain itu, LAZ juga berinovasi dengan berpromosi melalui kanal digital (80%), mengontrak influencer (29%) dan membayar ads/iklan digital (78%). Sementara untuk penyaluran dan pendayagunaan ZIS, platform digital secara umum berdampak positif dalam mempermudah, mempercepat, memperluas cakupan program dan layanan LAZ,” ungkap Ketua Umum FOZ, Bambang Suherman, dalam konferensi pers secara virtual bertema "Kesiapan LAZ Dalam Menghadapi Era Digital" via Zoom, Senin (29/6/2020).

Sementara, Direktur Eksekutif FI, Hamid Abidin mengatakan, jumlah dana zakat yang digalang dengan memanfaatkan platform digital ini belum sebesar yang dikumpulkan secara konvensional. Hasil analisis tim peneliti terhadap 104 LAZ pada periode 2016-2018 menunjukkan bahwa perolehan dana Zakat, Infak, Shodaqoh dan Wakaf (ZISWAF) masih didominasi oleh pengumpulan secara konvensional.

Baca juga: 4 Keistimewaan Rasulullah yang Tidak Dimiliki Manusia Lain

Sebagai perbandingan, hasil penggalangan ZISWAF secara konvensional mencapai Rp2,15 triliun, sementara yang tergalang melalui metode digital hanya Rp155 miliar. Artinya, baru 6,74% yang tergalang melalui platform digital.

“Kondisi ini disebabkan rendahnya kapasitas muzakki dalam menggunakan media digital dan belum terbiasanya masyarakat menyalurkan zakat secara digital. Selain itu, pegiat LAZ juga belum sepenuhnya optimal dalam memanfaatkan platform digital dalam kegiatan pengumpulan,” kata Hamid.

“Beberapa tantangan lainnya terkait kualitas jaringan internet yang buruk (khususnya bagi LAZ di daerah), pemadaman listrik, serta biaya internet yang relatif mahal. Selain itu, maraknya kejahatan siber juga perlu diwaspadai dan diantisipasi oleh LAZ, seperti manipulasi data, gangguan sistem, peretasan sistem elektronik, pencurian data, akses ilegal, penipuan online, dan sebagainya," ulasnya.

Senada, Co-Chair Badan Pengarah FI, Erna Witoelar berharap bahwa pemanfaatan platform digital di kalangan LAZ bisa mendorong program-program penyaluran dan pendayagunaan ZIS lebih berkembang dan inklusif. Saat ini program-program penyaluran dan pendayagunaan ZIS, menurut Erna, perkembangannya tidak sepesat program-program penggalangan ZIS yang penuh terobosan dan inovasi.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Selain itu, pemanfaatan platform digital juga diharapkan dapat meningkatkan peran dan kontribusi LAZ dalam pencapaian Sustainable development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

“Pemanfaatan platform digital bisa mendukung LAZ dalam menjalankan prinsip-prinsip SDGs, yakni universal, integration dan no one left behind. Platform digital bisa membantu LAZ berkomunikasi dan bersinergi dg banyak pihak sehingga program-program yang didukung lebih universal dan inklusif.

Penggunaan platform digital kata Erna, seharusnya bisa memfasilitasi LAZ untuk melibatkan dan berkontribusi pada kelompok-kelompok rentan, serta mereka yang ada di daerah terluar, terjauh dan terpinggir.

"Sehingga, program-program yang dikembangkan LAZ lebih partisipatif dan menjangkau kelompok-kelompok rentan dan terpinggirkan,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya