Menelusuri Jejak Imam Asal China Penyebar Islam di Hong Kong

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Senin 06 Juli 2020 18:28 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 06 614 2242052 menelusuri-jejak-imam-asal-china-penyebar-islam-di-hong-kong-w4mgxWybkE.JPG Imam asal China penyebar Islam di Hong Kong, Uthman Yang Xing Ben (Foto: SCMP)

ISLAM memasuki Hong Kong sejak tahun 1840-an. Diketahui dalam beberapa tahun terakhir, pemeluk Islam di Hong Kong kian bertambah. Salah satu perngaruhnya adalah Imam Uthman yang merasa tergerak untuk lebih dalam menjelaskan mengenai Islam di Hong Kong.

Melalui bukunya yang berbahasa Mandarin, 'Understanding Islam', ia menjelaskan tentang apa yang membedakan Islam dengan agama atau keyakinan lainnya. Menurutnya, sebagaimana tertulis dalam bukunya, Islam menyentuh seluruh bagian kehidupan dari seorang manusia.

Menelusuri keislaman di Hong Kong, terdapat Masjid Ammar dan Pusat Islam Osman Ramju Sadick yang terletak di jalan setapak yang tenang dan nampak tersembunyi di Hong Kong. Letaknya sekaan terpisah dari hingar binger kota, yang tak jauh dari distrik Wan Chai.

Di satu sisi, bangunan dengan struktur pondasi warna putih yang menjulang tinggi dan sentuhan hijau pastel di bagian puncaknya tentu mengingatkan pada bentuk menara karena kemiripannya. Di pintu masuk, telah sigap seorang petugas yang akan memeriksa suhu setiap jemaah yang ingin masuk, diberlakukan sejak merebaknya pandemi coronavirus.

Di mimbar, akan ada Imam Utsman Yang Xing Ben yang akan menyambut para jamaah, yang mayoritas adalah pria dan para remaja, saat mereka masuk ke dalam bangunan masjid sebelum memulai sholat.

Para jamaah tentunya tak bisa begitu saja menghiraukan keindahan ornamen mozaik besar dengan kedetilannya, serta gambaran Masjid Agung Makkah di Arab Saudi yang terukir di dinding. Tak luput juga di tengahnya terdapat gambar Ka’bah, bangunan yang akan dikelilingi oleh para jamaah haji sebanyak 7 kali dalam ritual thawaf. Yang, imam besar di masjid tersebut, diketahui telah menunaikan ibadah haji sebanyak 3 kali.

Baca juga: Indahnya Masjid Agung Sang Ciptarasa Dibangun dengan Batu Bata Merah

“Ibadah ini wajib dilakukan oleh seorang muslim (jika mampu). Yakinlah Anda akan sangat takjub ketika melihat situs-situs suci ini secara langsung, dengan mata kepala Anda sendiri. Saya merasa sangat bersyukur bisa berada di sana, karena prosedur dan persyaratannya yang tak mudah. Anda diharuskan sehat, memiliki kemampuan finansial untuk bepergian ke tanah suci, serta waktu yang tepat. Anda juga harus dipastikan memiliki perjalanan yang aman saat menuju kesana, dan saat kembali pulang,” jelas pria berusia 56 tahun tersebut, dilansir dari laman South China Morning Post.

Uthman Yang Xin Ben adalah salah satu dari dua imam asal China yang bertempat di Hong Kong. Belum lama ini ia menerbitkan sebuah buku bertajuk 'Understanding Islam'.

Menggunakan bahasa Mandarin, bukunya tersebut berisikan penjelasan mengenai agama Islam, menjelaskan tentang tradisi serta praktiknya, hingga turut membahas sejarah umat muslim di kota yang berasal dari pertengahan abad ke-19.

Keberadaan muslim di Hong Kong telah berlangsung lama. Terhitung sejak awal era kolonial Inggris pada tahun 1841, para penganut muslim mayoritas datang dari India, di mana sebagian besar adalah pasukan dan beberapa lainnya ialah para pedagang.

Saat ini, terdapat sekitar 12.000 keluarga muslim yang menetap di kota nyaman tersebut. Beberapa di antaranya merupakan keturunan para pemukim India pada awal masuknya Islam ke Hong Kong yang mayoritas tinggal di Moro Kai atau “Street of the Moors”, yang sekarang disebut Lower Lascar Row, di lngkungan Sheung Wan di Hong Kong.

Komunitas muslim yang telah dibentuk dan berkembang disana membangun Masjid Jamia, yang mulai dioperasikan pada tahun 1850 di 30 Shelley Street di daerah pusat. Masjid ini diceritakan perah dihancurkan untuk membuka peluang bagi masjid yang lebih besar dan dibuka tahun 1915. Kini, bangunan tersebut masih berdiri kokoh dengan arsitektur bertingkat dan menjulang tinggi di lingkungan kelas menengah atas.

Untuk mengakomodasi umat muslim yang kian meningkat di Hong Kong. Dibangunlah tempat ibadah kedua di sisi lain Victoria Harbour di Nathan Road pada tahun 1896. Bangunan ini disebut Masjid Kowloon, dan juga terdapat pusat pembelajaran Islam di sana.

Baca juga: Quraish Shihab Ungkap Amalan yang Membahagiakan Ahli Kubur

Diceritakan pula saat terowongan Mass Transit Railway dibangun melalui Tsim Sha Tsui tahun 1976, proyek tersebut juga mengalami dampak parah yang berpengaruh pada masjid dan kemudian dirobohkan pada tahun 1980. Selanjutnya, barulah diadakan pembangunan kembali terhadap masjid yang memiliki daya tamping hingga 3.500 jamaah tersebut.

Selanjutnya yakni masjid ketiga di Hong Kong, Masjid Ammar. Masjid yang dibangun bersamaan dengan Pusat Islam Osman Ramju Sadick ini berada di pusat kota, yang dibuka pada tahun 1981. Pemberian nama Sadick diambil dari nama seorang muslim sekaligus arsitek China yang mendanai dan merancang pembangunan tempat ibadah ini.

Jumlah penganut Islam di Hong Kong kian bertambah

Ketika Yang tiba di Hong Kong pada Desember 1993, ia mengatakan ada sekitar 60 ribu muslim di sana. Hari ini, terhitung sudah mencapai 300 ribu umat Islam, dengan 60 persen di antaranya ialah orang Indonesia. Yang mengatakan, sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai asisten rumah tangga.

Sedangkan lainnya adalah 40 ribu muslim dari etnis China, 30 ribu lainnya dari Pakistan, lalu sisanya ialah berasal dari Timur Tengah, Afrika dan sebagian juga dari Asia. Seiring dengan semakin bertambahnya populasi, Yang menyadari bahwa jumlah organisasi Islam dan restoran berlabel halal di Hong Kong mulai meningkat sejak kedatangannya.

Muslim Hong Kong

“Kami mensertifikasi semua restoran bahkan hingga hotel bintang lima. Sebelumnya, tempat seperti Disneyland dan Ocean Park tak menyajikan makanan halal, namun seiring berjalannya waktu kini mereka mulai mengembangkannya, seperti halnya Layanan Katering Cathay Pacific.” kata Yang.

Berasal dari Taian, Provinsi Shandong, China bagian Timur, Yang bercerita bahwa ia mengikuti jejak sang ayah yang merupakan seorang imam dan kini telah berusia 85 tahun.

Untuk sampai pada titik ini, Yang sebelumnya harus mengikuti pembelajaran ekstensif, belajar selama empat tahun di Institus Islam China di Beijing dari tahun 1984 hingga 1988, dan kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi di Universitas Islam Internasional di Islamabad, Pakistan, selama empat tahun lamanya.

Meskipun banyak muslim yang berharap menjadi imam, Yang Xin Ben mengatakan hanya sedikit yang dapat berada di posisi sebagai ulama. “Banyak teman sekelas saya yang tak bisa menjadi imam. Mereka kini kebanyakan menjadi pengusaha, melakukan perdagangan di Timur Tengah, terlebih jika mereka menguasai bahasa Arab dan Inggris.

Pada tahun 1992, Persatuan Islam Hong Kong menghubungi Asosiasi Islam China di Beijing, berusaha mencari seorang imam berusia muda yang dapat berbahasa Mandarin di daratan Cina setelah sekian lama tak menemukan orang yang memenuhi syarat untuk peran di kota itu.

Setelah sekitar satu tahun mengalami rintangan birokrasi, Yang tiba di Hong Kong dan mulai mempelajari dialek Kanton setempat.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

“Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini, kota ini seperti kota mati, dengan gedung-gedung tinggi yang mendominasi. Disini bahkan tidak dapat melihat matahari, yang penting sebagai acuan untuk mengetahui waktu berdoa. Saya ingat misi saya disini bukanlah untuk bersenang senang, namun untuk membantu umat Islam di Hong Kong. Saya akan melakukannya,” paparnya.

Yang mulai menuliskan buku 'Understanding Islam' dua tahun lalu, yang dilatarbelakangi dari kondisi di Hong Kong yang sangat sulit untuk menemukan buku-buku komprehensif yang membahas hal tersebut dan tertulis dalam bahasa Mandarin. “Saya ingin membantu nonmuslim untuk memahami Islam dan bagaimana cara hidup kami,” tambahnya.

Selama berada di Hong Kong, ia juga pernah berkesempatan diundang ke kampus-kampus untuk menjadi pembicara di hadapan mahasiswa mengenai keyakinannya. “Pada tahun 2001 (pasca serangan 11 September di AS), saya ditanya apa itu jihad, dan harus menjelaskan dan meluruskan bahwa membunuh nonmuslim itu tidak ada dalam Alquran,” kata dia.

Cerita lainnya yakni dari Masjid Kowloon dan komunitas muslim yang menjadi sorotan pada 20 Oktober 2019 lalu. Pasalnya, terdapat tim kepolisian yang dikerahkan karena harus membubarkan pengunjuk rasa oposisi pemerintah di Tsim Sha Tsui.

Mereka dibubarkan dengan meriam air yang disemprotkan dengan cairan berwarna biru ke bagian gerbang dan pintu masuk gedung. Polisi mengklaim bahwa itu murni sebuah kecelakaan.

“Mengenai hal tersebut, saya berpikir bahwa polisi sengaja melakukannya. Jika dilihat dari video, tak ada orang di sana (di depan masjid). Lebih parah, mereka bukan menyemprotkan air jernih melainkan cairan berwarna biru. Meskipun begitu, mereka kemudian datang dan meminta maaf, dan kami menerima permintaan maaf mereka.” ujar Yang.

Dirinya menyebut, Islam adalah agama komprehensif, sebab berbeda dengan sistem kepercayaan lain dan sangat menyentuh semua bagian kehidupan dari manusia. Bukti nyatanya menjadi seorang muslim tak bisa berperilaku seenaknya. Ada aturan (batasan halal dan haram) yang harus dipatuhi demi kebaikan atau kemaslahatan umat.

“Sebagai seorang muslim kita hanya diperbolehkan memakan makanan halal, para wanita diwajibkan untuk mengenakan hijab, sholat 5 waktu. Jika umat lainnya lebih dibebaskan memakan apa saja selepas beribadah, justru umat muslim berbeda. Kami tak bisa sembarangan, salah satunya adanya larangan memakan daging babi," jelas Yang.

Jalan seorang muslim menurutnya hanya satu, yakni memercayai dan mencintai satu Tuhan, Sang Pencipta, yakni Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai utusan Allah dan tak ada yang lain selain dia. Sebagai muslim juga percaya bahwa Allah itu hanya satu, Tuhan tidak beranak maupun diperanakkan.

Terkait dengan kebersihan, Yang meyampaikan bahwa menjaga kebersihan ialah bagian penting dari Iman sebagai muslim. Inilai mengapa, sebagaimana tertulis dalam bukunya, orang-orang muslim yang beriman selalu senantiasa membersihkan wajah, tangan dan kaki mereka sebelum beribadah yaitu dengan berwudhu.

“Air sangat berharga di Timur Tengah, dan orang-orang di gurun mungkin tak sering mencuci karena sulitnya air. Namun mereka tetap harus melakukannya (berwudhu) untuk sholat, karena jika tidak mereka tidak dianggap bersih dan sah untuk beribadah," tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya