Arsitektur Unik Masjid Aladdin, Mahakarya Warisan Dinasti Seljuk

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Senin 06 Juli 2020 18:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 06 615 2242039 arsitektur-unik-masjid-aladdin-mahakarya-warisan-dinasti-seljuk-B4Jnpbj8HX.jpg Masjid Aladdin warisan Dinasti Seljuk (Foto: AA Photo)

SEBUAH masjid bergaya era Seljuk terbangun megah dengan gerbang berbentuk mahkota dan dekorasinya yang detail nan unik. Masjid yang diketahui bernama Masjid Aladdin ini dibangun oleh Alaattin Ali dari Karaman, selama era Anatolia Beyliks di distrik Korkuteli di Antalya.

Bangunan ini berdiri kokoh dengan terkandung sejak sejarah 700 tahun, di mana restorasi yang dilakukan adalah tetap mempertahankan arsitektur aslinya.

Melansir dari laman Daily Sabah, Senin (6/7/2020), torehan sejarah yang diabadikan di Masjid Aladdin ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-14, dengan karya-karya legendaris yang telah berlangsung selama 15 tahun lamanya. Proses restorasi masjid ini melibatkan penggalian, dimana dilakukan pembangunan struktur bawah tanah untuk kembali memulihkan masjid dan gerbang mahkota yang pernah hancur sebelumnya.

Bangunan ini kembali diperbaiki di bawah proyek Direktorat Yayasan Regional Antalya, yang disetujui oleh Dewan Regional Antalya sebagai bentuk pelestarian budaya dan warisan alam. Masjid yang dibangun oleh Murad Pasha, wazir agung Usmani Sultan Ahmed I, berhasil menarik perhatian dengan keindahan gerbang mahkotanya, serta mihrab, dekorasi dan berbagai hiasan unik yang menyempurnakan arsitektur bangunan itu. Masjid ini mulai dibuka untuk beribadah sejak Maret lalu.

Dalam sebuah wawancara dengan Anadolu Agency (AA), Kepala Direktorat Regional Yayasan di Antalya, Hüseyin Coşar, mengatakan bahwa langit-langit masjid ini pernah jatuh akibat tragedi kebakaran yang terjadi hamper seabad yang lalu, yang akhirnya berujung pada hancurnya masjid dan musnah selama bertahun-tahun.

Ia menambahkan, setelah hancurnya masjid tersebut, masyarakat wilayah tersebut hanya dapat melakukan ibadah di sebuah masjid kecil yang masih satu wilayah dengannya.

Baca juga: Indahnya Masjid Agung Sang Ciptarasa Dibangun dengan Batu Bata Merah

Terungkap sebuah fakta bahwa dalam proses restorasinya, saat ditelaah kembali, masjid ini telah tertimbun tanah setinggi satu meter. Petinggi direktorat tersebut menyatakan mereka melakukan penggalian terhadap bangunan masjid yang sudah tak utuh itu, hingga menggali pada lantai asli masjid tersebut. Pada gerbang mahkota juga diteliti lebih lanjut, dimana dilakukan analisis untuk mengolah kembali pondasi berbahan dasar batu spolia itu.

Ia mengatakan bahwa timnya melakukan seleksi atas batuan-batuan itu, dimana batu yang masih dianggap bagus akan diawetkan di bawah penanganan khusus. Cosar mencatat bahwa batu spolia yang dahulunya ditemukan dalam puing-puing struktur bangunan saat hancur, kini telah diawetkan dan dipajang di halaman masjid yang telah selesai direnovasi itu.

Berdasarkan prinsip awalnya, bangunan masjid ini hanya dilakukan proses restorasi, yakni untuk memperpanjang umur bangunan dan tetap mempertahankan arsitektur aslinya. Cosar mengatakan bahwa keputusan tersebut berdasarkan pendapat para ahli. Namun tetap saja, dari waktu ke waktu mereka tetap menghadapi kritik terutama tentang bebatuan di gerbang mahkota yang diubah menjadi warna putih.

Kondisi ini bukan tanpa alasan, melainkan karena fakta bahwa prinsip pemulihan bangunan bersejarah itu tak serta merta dapat dipertahankan 100 persen keasliannya, termasuk pada beberapa bagian yang harus menjadi putih karena tak lagi bisa memakai batuan asli sebagaimana bangunan terdahulunya.

Karamanid memerintah sebagian wilayah Karaman, Konya, Isparta, Antalya dan Mersin di Turki Selatan antara abad ke 13 dan 16. Masa ini dikenal sebagai era Anatolia Beyliks, yang dimulai ketika bangsa Mongol mengalahkan Seljuk Anatolian (Kesultanan Rum) dan menginvasi Anatolia pada tahun 1243, yang menyebabkan munculnya kerajaan-kerajaan kecil yang dipimpin oleh pemimpin asal Turki. Karamanids adalah pemimpin Beylik terkemuka, hingga Ottoman muncul sebagai kekuatan dominan di barat laut dan memperluas wilayah mereka melawan Kekaisaran Bizantium.

Perjuangan melawan keduanya ini berlangsung selama dua abad. Tak hanya itu, Byelik juga dikenal dari kebijakannya yang mewajibkan penggunaan bahasa Turki sebagai bahasa resmi saat Persia dan Arab mendominasi dalam pemerintahan, pendidikan serta agama.

Ottoman berdiri sebagai penakluk, yang mewarisi sebagian besar Beylik hingga dikalahkan oleh Tamerlane pada tahun 1402.

Beylik sebagian dikembalikan karena kekalahan tersebut, namun tak lama berselang wilayah tersebut kembali jatuh ke kekuasaan Ottoman, dengan Karamanid yang benar-benar ditundukkan di bawah pemerintahan Sultan Mehmet II di awal tahun 1480-an.

Pengaruh Beylik terakhir yang tersisa hanya sebatas sebagai pendorong antara Ottoman dan Mamelukes Mesir, yang kemudian ditaklukan oleh Sultan Selim I selama periode kampanyenya untuk Mesir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini