Share

Beginilah Kekayaan Sesungguhnya Menurut Islam

Senin 13 Juli 2020 15:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 13 330 2245653 beginilah-kekayaan-sesungguhnya-menurut-islam-8BXVWGgbD6.jpg ilustrasi (stutterstock)

ISLAM tak melarang umatnya kaya. Bahkan kaya sangat dianjurkan karena Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya seperti Abu Bakar, Ustman bin Affan, Umar bin Khatib, Abdurrauf bin Auf, Zubair bin Awam adalah orang kaya.

Tapi, sembari menikmati, mereka menggunakan harta kekayaannya di jalan Allah lewat bersedekah, infaq, membeli lalu membebaskan budak, membantu logistik dan kebutuhan jihad.

Mereka tidak bermewah-mewahan dan sombong dengan harta. Apalagi rakus atau serakah dengan mengumpulkan harta lalu menimbunnya karena takut kehilangan hartanya. Mereka selalu merasa cukup dengan apa yang di miliki.

Baca juga: 10 Inspirasi Nama Bayi Perempuan Berawalan Huruf W, Menarik dan Cantik

Betapa banyak orang yang sudah memiliki kekayaan tapi tidak mendapatkan kebahagiaan karena selalu merasa kekurangan.

Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang juga penulis buku-buku motivasi Islam, Dr. Didi Junaedi dalam sebuah artikel di kolom jaringansantri.com menulis soal kekayaan sesungguhnya atau hakiki sebagaimana dinyatakan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a.

“Kaya bukanlah diukur dengan ‎banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu ‎merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)‎

Dalam riwayat lain, Nabi SAW pernah menyampaikan nasihat kepada ‎Abu Dzar al-Ghifari:

“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa ‎banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghani)?”

“Betul,” jawab Abu Dzar.

‎Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu ‎berarti fakir?”

“Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa.

Lantas ‎beliau bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghani) adalah kayanya ‎hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati ‎‎(hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban) ‎

Sebuah nasehat yang sangat mulia dari manusia mulia.

Beliau ‎menegaskan bahwa berlimpahnya materi bukan jaminan kebahagiaan ‎seseorang, jika hatinya miskin rasa syukur. Dia akan terus merasa kurang dari ‎yang telah dimilikinya. Orang-orang seperti ini bukanlah orang kaya yang ‎sesungguhnya. ‎

Kekayaan hakiki yang bisa membawa kebahagiaan adalah kaya hati. ‎Yakni orang yang meski tidak memiliki banyak harta, tetapi hatinya selalu ‎dipenuhi rasa syukur atas apa yang telah ia miliki. Inilah orang kaya ‎sesungguhnya.

Meski tidak berkelimpahan harta, tetapi rasa syukurnya ‎membuat ia merasa cukup atas nikmat yang telah Allah anugerahkan ‎kepadanya. Inilah yang kemudian disebut dengan istilah qanaah, menerima ‎pemberian Allah dengan lapang dada.‎

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Orang yang kaya hati, tidak sedih dan gundah dengan apa pun yang ‎menimpanya. Ketika musibah datang, dia bersabar. Ketika rezeki menghampiri ‎dia bersyukur. Tidak ada pikiran negatif yang hadir dalam benaknya atas ‎semua ketentuan Allah SWT.‎

Intinya, orang yang kaya hati dimulai dari sikap selalu ridha dan ‎menerima segala ketentuan Allah SWT. Ia tahu dan yakin sepenuh hati bahwa ‎apa yang Allah beri, itulah yang terbaik.‎

Orang yang kaya hati tidak pernah merasa hina dan rendah diri di ‎hadapan manusia. Dia hanya merasa hina dan rendah diri di hadapan Allah. ‎Dia memandang kedudukan setiap manusia sama. Tidak ada beda antara si ‎kaya dan si miskin, pejabat dan rakyat, direktur dan kondektur.

Semua ‎manusia sama derajatnya. Hanya iman dan takwa yang membedakannya. Dia ‎akan menghormati siapa pun yang dia jumpai. Dia akan bersikap ramah ‎kepada setiap orang. Inilah wujud nyata dari kekayaan hati yang dimilikinya.‎

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini