Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jangan Hinakan Dirimu, Allah Tak Suka Itu

Jangan Hinakan Dirimu, Allah Tak Suka Itu
Ilustrasi (healthline)
A
A
A

ALLAH SWT sudah mengingatkan dalam Alquran agar manusia jangan menghinakan dirinya sendiri dengan mengingkari dan mengkhianati segala nikmat yang diberikanNya.

Dalam Alquran Surah Al Baqarah ayat 195, Allah berfirman yang artinya, “…Dan janganlah kamu jatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…”

Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang juga penulis buku-buku motivasi Islami, Dr. Didi Junaedi dalam kolomnya di jaringansantri.com menulis sebuah peribahasa yang mengingatkan bahwa ketika seseorang berbuat kejahatan, apa pun bentuk kejahatan itu, meski hanya sekali, maka selamanya orang tidak akan mempercayainya.

“Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”.

Dalam artikelnya, Didi Junaedi mengulas bahwa seseorang yang pernah melakukan kebohongan kepada orang lain, akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari orang yang pernah dibohonginya di kemudian hari.

Baca juga: Rentetan Sejarah Pembatalan Haji, dari Perang hingga Serangan Wabah 

Pengkhianatan yang pernah dilakukan seorang rekan bisnis, misalnya, akan terus membekas dalam benak rekan bisnis yang dikhianatinya. Kecurangan yang pernah dilakukan seorang karyawan, akan terus diingat oleh pimpinan tempat dia bekerja. Ketidakjujuran seorang pejabat, akan menjadikan rakyat tidak lagi percaya, bahkan sinis terhadap apa pun yang dikatakan atau dilakukannya.

Singkatnya, sekali seseorang berbuat kejahatan, maka konsekuensi yang harus ditanggungnya adalah dia akan dicap buruk oleh orang yang pernah dijahatinya. Inilah hukum alam. Kejahatan yang dilakukan seseorang akan berimbas dan berdampak buruk bagi dirinya.

“Kita semua mafhum, bahwa sesungguhnya nurani kita selalu berusaha melakukan kebaikan. Kita sadar bahwa suatu perbuatan buruk yang kita lakukan akan berdampak negatif bagi diri kita. Tetapi, seringkali karena tuntutan keinginan (hawa nafsu), maka kita abaikan bisikan nurani, dan kita ikuti ajakan nafsu.”

Suatu hari, seorang sahabat Nabi Muhammad bernama Wabishah bin Ma’bah datang kepada Nabi untuk menanyakan hakekat kebaikan dan kejahatan.

Nabi SAW bersabda: “Engkau datang menanyakan kebaikan?”

“Benar wahai Rasulullah”, jawab Wabishah.

“Tanyailah hatimu! Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwamu tenang dan hatimu tentram, sedangkan kejahatan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan hati dan menyesakkan dada.” (HR. Ahmad dan Al-Darimi)

Sungguh tepat apa yang dinyatakan Rasulullah SAW dalam hadis ini. Kebaikan adalah sesuatu yang akan membuat hati kita tenang dan damai. Sedangkan kejahatan adalah sesuatu yang meresahkan jiwa, menggelisahkan batin.

Seorang pejabat yang melakukan tindak kejahatan korupsi, meski dari luar tampak ‘wah’ dengan beragam atribut kekayaan duniawi, tetapi hakekatnya, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam tersimpan kegelisahan dan keresahan batin.

Jiwanya tidak akan pernah tenang, hatinya selalu bergemuruh, tidak hanya karena khawatir kalau suatu saat kejahatannya terbongkar oleh aparat penegak hukum, kemudian ditahan oleh KPK, untuk selanjutnya diproses di pengadilan, tetapi juga karena ada perasaan bersalah (feeling guilty) yang terus menerus menghantuinya.

Seorang suami atau isteri yang melakukan perselingkuhan dengan perempuan atau laki-laki lain, maka meskipun mereka menikmati perselingkuhannya itu, tetapi sesungguhnya ada perang di dalam batinnya, yang akan membuatnya tidak tenang menjalani hidup. Mereka khawatir kalau perselingkuhan yang selama ini dilakukannya diketahui oleh pasangannya. Mereka terus menrus was-was setiap kali ada nada sms berbunyi atau hpnya berdering, sementara dia sedang bersama pasangannya.

Demikianlah, kejahatan yang dilakukan oleh seseorang akan membuatnya tidak tenang menjalani hidup. Hatinya gelisah, jiwanya resah, batinnya gundah. Karena ada perasaan bersalah atas apa yang telah dilakukannya.

Untuk itu, mari kita sadari bahwa manusia adalah makhluk mulia. Bahkan kemuliaan manusia bisa melebihi malaikat sekalipun. Mengapa demikian? Ya, karena malaikat menjadi makhluk yang taat dan tidak pernah membantah perintah Allah, disebabkan tidak adanya nafsu dalam dirinya. Malaikat hanya dikaruniai akal oleh Allah.

Sedangkan manusia, selain diberi akal juga diberi nafsu. Jika akal dapat membimbing nafsu, sehingga lebih cenderung kepada kebaikan, maka di situlah kemuliaan manusia mengungguli malaikat. Sebaliknya, jika nafsu yang lebih menguasai diri manusia, maka dia akan terjatuh dalam lembah kehinaan. Bahkan, al-Qur’an menggambarkan kondisi manusia yang demikian ini layaknya binatang ternak, bahkan lebih rendah lagi dari itu.

Kemuliaan yang sudah Allah berikan kepada kita hendaklah kita jaga. Jangan pernah kita menghinakan diri dengan melakukan tindakan tidak terpuji. Sungguh, harga diri atau kehormatan itu sangat mahal harganya. Seseorang yang menjaga harga dirinya akan terus dihormati dan dihargai orang lain. Sementara mereka yang tidak peduli dengan harga diri serta kehormatan dirinya, sehingga tanpa risih dan malu melakukan tindakan tidak terpuji, akan dipandang rendah oleh orang lain.

Seseorang yang terbiasa melakukan tindakan tidak terpuji, maka tidak hanya di hadapan manusia dia dipandang rendah, di hadapan Allah pun dia terlihat hina. Kalau sudah demikian, apalagi yang bisa diharapkan dalam hidup ini. Manusia tak menghargai, Allah pun tidak peduli.

(Salman Mardira)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement