Ini Ciri-Ciri Orang Munafik, Apakah Kita Termasuk?

Alya Amellia Amini, Jurnalis · Kamis 13 Agustus 2020 20:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 13 330 2261775 ini-ciri-ciri-orang-munafik-apakah-kita-termasuk-wlYYhwiSZQ.jpg Ilustrasi munafik. (Foto: Freepik)

NIFAK atau munafik adalah orang yang berpura-pura mengikuti ajaran agama Islam, tetapi sebenarnya hati mereka memungkirinya. Allah Subhanahu wa ta'ala dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengingatkan setiap Muslim akan bahaya sifat munafik. Penyakit ini selain mencelakai diri sendiri juga membawa keburukan bagi orang lain.

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Sahabat Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

"Terdapat 4 perkara yang jika semuanya ada pada diri seseorang, maka jadilah dia orang munafik tulen (maksudnya akan mengantarkan kepada nifak akbar, pen) dan jika ada pada dirinya salah satunya maka dia memiliki sifat kemunafikan sampai meninggalkannya, (yaitu): (1) jika berbicara, dia berdusta; (2) jika membuat perjanjian, dia melanggarnya; (3) jika membuat janji (untuk berbuat baik kepada orang lain, pen), dia menyelisihi janjinya; dan (4) jika bertengkar (berdebat), dia melampaui batas." (HR Bukhari nomor 34 dan Muslim nomor 59, lafaz hadits ini milik Bukhari)

Baca juga: Tiga Cara Rasulullah Mengatasi Orang Munafik 

Sebagaimana dikutip dari Sindonews, Kamis (13/8/2020), rincian ciri-ciri orang munaik tersebut adalah:

1. Jika berbicara dia berdusta

Agama Islam melarang keras bagi umatnya untuk berdusta karena tindakan ini jelas memberi kerugian dan lebih banyak mudharatnya. Berdusta adalah suatu tindakan tercela yang dibenci manusia dan juga oleh agama.

Sikap berdusta termasuk penyakit yang dapat merusak jiwa pelakunya. Mereka diliputi penyakit di dalam hatinya, seperti dendam, hasad, dengki, ragu-ragu, dan penyakit jiwa lainnya. Maka sikap ini harus diobati dengan meyakini siksaan Allah Subhanahu wa ta'ala bagi seorang pembohong atau pendusta.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umatnya berkata yang baik, yaitu jujur dalam memberitakan sesuatu sesuai hakikatnya. Berdusta termasuk salah satu perbuatan terkutuk, tercela, dan termasuk deretan dosa-dosa besar.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُتِلَ ٱلۡخَرَّٲصُونَ

"Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta." (QS Adz-Dzariyat (51) Ayat 10)

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abdullah. Ia berkata bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Seorang senantiasa berbohong dan memilih bohong sehingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pembohong." (HR Bukhari)

Baca juga: Dua Cara Allah Mengatasi Orang Munafik 

2. Jika berjanji dia mengingkari

Sebagian orang sangat mudah untuk membuat janji, namun mudah pula mengingkarinya. Pada awalnya ia berniat menepati janji tersebut, tetapi di tengah jalan berbalik, lalu mengingkarinya tanpa alasan yang dibenarkan secara syariat. Tindakan semacam ini termasuk dosa lisan, dan merupakan salah satu tanda kemunafikan.

Menepati janji hukumnya wajib, artinya ketika membuat sebuah janji maka harus ditepati yang telah diucapkan. Seseorang yang ingkar janji tidak bisa memegang perkataannya sendiri dan tidak pernah menepati janji yang sudah diberikan ke banyak orang.

Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُوْلاً

"Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya." (QS Al-Isra 34)

3. Jika diberi amanah dia mengkhianati

Jika seseorang dipercaya untuk memegang suatu amanah, maka dia wajib untuk menjaga amanah tersebut. Sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam hadis riwayat Ashabu As-Sunan, "Tunaikanlah amanat itu kepada orang yang telah memercayaimu dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu."

Pengkhianatan atas amanah yang diberikan kepada seseorang akan berdampak pada rusaknya pola hubungan dan komunikasi antarmanusia. Maka itu, Allah Subhanahu wa ta'ala sangat melarang perbuatan khianat atas amanah karena akan menghilangkan kepercayaan pada diri seseorang.

Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Alquran Surah Al Anfal Ayat 27:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَخُونُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓاْ أَمَٰنَٰتِكُمۡ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."

Orang yang khianat adalah calon penduduk neraka. Ketika menjelaskan calon-calon penghuni neraka, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَالْخَائِنُ الَّذِي لَا يَخْفَى لَهُ طَمَعٌ، وَإِنْ دَقَّ إِلَّا خَانَهُ

"Pengkhianat, orang yang tidak samar sifat tamaknya, walaupun sesuatu yang kecil dia selalu berbuat khianat." (HR Muslim nomor 2865, dari Iyadh bin Himar al Mujaasi’iy)

Baca juga: Bagaimana Ciri-Ciri Orang Munafik? 

4. Jika berdebat dia melampaui batas

Hal yang dimaksud dengan al-fujuur di sini adalah keluar dari kebenaran secara sengaja, sehingga dia menjadikan yang benar menjadi keliru dan yang keliru menjadi benar. Ini yang membawanya kepada dusta.

Dalam hadis disebutkan:

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

"Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah penantang yang paling keras." (HR Bukhari nomor 2457 dan Muslim nomor 2668)

Jika seseorang mempunyai kemampuan bersilat lidah pada saat berdebat –baik perselisihan itu berkenaan dengan masalah agama atau masalah dunia– untuk mempertahankan kebatilan, dia menyuarakan kepada orang-orang bahwa kebatilan itu sebagai suatu yang benar, serta menyamarkan yang benar dan menampilkannya sebagai suatu kebathilan, seperti itu merupakan keharaman yang paling buruk serta kemunafikan yang paling busuk.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا

"Sesungguhnya di antara penjelasan (al-bayan) itu adalah sihir (yang membawa daya tarik)." (HR Bukhari nomor 5767)

Wallahu a'lam bishawab.

Baca juga: Suka Berjanji? Awas, Jangan Sampai Masuk Golongan Orang Munafik 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini