SEKRETARIS Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ahmad Helmy Faishal Zaini menjelaskan, peristiwa 1 Muharram yang ditandai dengan hijrah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam merupakan peristiwa agung yang sangat penting bagi sejarah umat Islam.
Hijrah ialah metamorfosis gerakan, baik sosial, keagamaan, maupun kebudayaan. Bahkan, karena teramat pentingnya peristiwa hijrah tersebut sejarah mencatat dan juga mengabadikannya sebagai ikon ajaran Islam. Dalam rangka memaknai 1 Muharram 1442 Hijriah ini, Helmy Faisal menyampaikan poin sebagai berikut:
Pertama, ia mengajak seluruh umat Islam meneladani spirit dan nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa hijrah Rasulullah. Umat Islam harus meneladani sikap, perbuatan, ucapan, dan akhlak Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, ada empat pesan Nabi Muhammad SAW yang disampaikan saat khutbah di awal masa hijrah yakni (1) Menebarkan salam. Salam yang dimaksudkan adalah 'perdamaian'. Dalam konteks berbangsa dan bernegara ada irisan kemiripan dan kesamaan struktur sosiologis masyarakat Madinah kala itu dengan masyarakat Indonesia saat ini.
Baca juga: Buya Yahya: Amalan di Bulan Muharram Harus Bersandar pada Hadits Shahih
Irisan keduanya pada konteks kemajemukan dan kebhinnekaan. Keduanya sama-sama majemuk. Maka dalam konteks ini, pesan Rasulullah tidak berhenti pada makna tekstual menebarkan salam, melainkan yang dimaksudkan adalah menebarkan kedamaian serta menciptakan rasa aman bagi siapapun sesama manusia, terlebih sesama bangsa dan negara.
(2) Memberi makanan atau bersedekah. Pesan ini mengingatkan kepada kita semua bahwa kepedualian sosial adalah pilar penting dalam bermasyarakat. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang dibangun di atas individu-individu yang memiliki kepekaan dan kepedulian sosial kepada sesama. Baik kepedulian dalam konteks seagama (ukhuwah Islamiyah), kepeduliaan dalam konteks berbangsa (ukhuwah wahtaniyyah), ataupun yang lebih mendasar dari itu semua yakni kepeduliaan kemanusiaan (ukhuwah insaniyyah).
(3) Menjalin silaturahmi. Ini adalah aspek yang tidak kalah penting dalam konteks berbangsa dan bernegara. Kiai Abdul Wahab Hasbullah pernah bersama-sama Bung Karno menggagas silaturahmi nasional para tokoh bangsa dan elite politik yang saat itu sedang dilanda pertikaian luar biasa pada tahun 1948. Silaturahmi itu belakangan dinamakan dengan halalbihalal. Artinya dalam forum silaturahmi tersebut terdapat keberkahan yang sangat luar biasa yakni tercapainya rasa saling memaklumi, memaafkan dan mengikhlaskan satu sama lain.