Kisah Aba Dahdah Menjual Kebun Kurma yang Luas dan Surga

Nazmi Tsaniya, Jurnalis · Minggu 29 November 2020 04:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 27 614 2317632 kisah-aba-dahdah-menjual-kebun-kurma-yang-luas-dan-surga-GtI6LleqIX.jpg Kebun kurma. (Foto:SINDOnews)

JAKARTA – Islam itu indah. Banyak berbagai macam kisah yang menarik dan semestinya patut dicontoh.

"Dari buku "Kisah-Kisah Inspiratif Sahabat Nabi yang ditulis oleh Muhammad Nasrulloh dikutip pada Ahad (29/11/2020) mengisahkan:

Baca Juga: Godaan Prostitusi dan Hiburan Sudah ada Sejak Zaman Nabi

Aba Dahdah yang mendapatkan imbalan lebih dari Allah Subhanahu wa ta'ala (SWT).

Suatu ketika datang pemuda yatim ke majlis Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (SAW). Dia mengadukan perkaranya kepada Rasulullah, dan bercerita:

Anak yatim: "Aku hendak mengadukan tetanggaku pada engkau Rasulallah SAW ".

Baca Juga: Sebelum Bilal bin Rabah Masuk Surga, Gesekkan Sandalnya pun Sudah Terdengar

Rasulullah SAW: "Lantas apa yang hendak engkau adukan?"

Anak yatim: "Aku hendak membuat pagar di sekeliling kebunku. Namun ada satu pohon kurma milik tetanggaku yang mengahalanginya. Sudah aku  tawar untuk membelinya namun dia enggan menjualnya".

Pemuda yatim itu memohon kepada Rasulullah agar beliau bersedia mendatangi tetangganya agar membujuknya untuk menjual pohon kurmanya. Rasulullah SAW pun menghampiri tetangga tersebut dan memberitahukan duduk perkaranya. Rasulullah meminta agar dia berkenan memberikan pohon kurma tersebut atau rela menjualnya. Namun sang tetangga bersikukuh menolak.

Rasulullah SAW lalu mengatakan: "Juallah pohon kurma itu demi pemuda yatim ini. Niscaya engkau diakhirat akan mendapatkan pohon kurma yang luasnya andaikata orang berjalan akan menempuh waktu yang panjang".

Baca Juga: Kalbu Mengeras karena Jauh dari Allah SWT

Tawaran Nabi sangat menggiurkan karena tidak ada yang membandingi sebuah pohon kurma di dunia dengan pohon kurma di akhirat. Namun sang tetangga tidak bergeming dengan janji Rasulullah SAW. Dia tetap enggan menjual pohon kurmanya. Para sahabat pun terheran-heran dengan hal tersebut. Salah seorang sahabat bernama Aba Dahdah bertanya pada Rasulullah:

"Wahai Rasulullah. Apabila aku dapat membeli pohon kurma orang itu lalu aku berikan pada pemuda yatim, apakah surga yang engkau janjikan akan menjadi milikku?"

Nabi menjawab "lya". Tanda bahwa beliau menyepakati apa yang ditanyakan Aba Dahdah.

Mendengar hal tersebut, Aba Dahdah mendatangi tetangga anak yatim itu dan dia berkata:

"Apakah engkau tahu bahwa kebun kurmaku memiliki 600 pohon kurma?

Tetangga: "Siapa yang tidak tahu dengan kebunmu wahai Aba Dahdah. Semua pedagang pun tahu".

Aba Dahdah: "Kalau begitu. Kebun kurmaku termasuk pagar, sumur dan tempat singgahnya aku tukar dengan pohon kurmamu. Apakah engkau mau?"

Tetangga: "Tentu aku mau".

Setelah transaksi terjadi Aba Dahdah memberikan pohon kurma itu kepada pemuda yatim agar dia dapar menyempurnakan membuat pagar kebunnya. Lalu dia menagih janji kepada Rasulullah.

“Wahai Rasulullah apakah kini aku telah mendapatkan pohon kurma di surga?”

Rasulullah SAW menjawab : “Tidak.”

Baca Juga: 3 Kali Lalai Sholat Jumat, Niscaya Allah SWT Akan Mengunci Hatinya

Mendengar jawaban Rasulullah, Abu Dahdah merasa galau. Dia tidak percaya setelah pengorbanannya untuk mendapatkan pohon surga tidak membuahkan hasil. Jawaban Rasulullah membuatnya sangat terpukul.

Kemudian Rasulullah melanjutkan ucapannya: “Wahai Aba Dahdah sesungguhnya Allah SWT menawar satu pohon kurma di dunia dengan pohon kurma miliknya di surga. Namun engkau justru menambahnya dengan kebunmu dan seisinya. Kini bukan pohon kurma yang akan engkau dapatkan. Namun kebun surga yang tidak akan mampu dijangkau luasnya. Alangkah luas kebun kurma milik Abi Dahdah di Surga.”

Aba Dahdah sangat gembira. Dia begitu senang dengan kebun surga miliknya. Dia pulang dan menceritakan semua kejadian tersebut kepada istrinya. Dia katakan bahwa kebunnya telah dijual. Dibeli dengan kebun surga yang sangat luas hingga tidak akan mampu untuk diukur luasnya. Mendengar cerita Aba Dahdah. Istrinya turut bahagia. Mereka amat begitu senang. Sang istri mengatakan: “Sungguh jual beli yang sangat menguntungkan.” (Uck)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini