Masjid Raya Al-Mashun Perpaduan Desain Timur Tengah, Eropa dan Asia Nan Menawan

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Rabu 23 Desember 2020 04:43 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 22 614 2332163 masjid-raya-al-mashun-perpaduan-desain-timur-tengah-eropa-dan-asia-nan-menawan-51AJMQYDJS.jpg Masjid Raya Al Mashun atau Masjid Raya Kota Medan terletak di Jalan Sisingamangaraja XII, Medan, Sumatera Utara. (Foto:SINDOnews)

MEDAN - Jika berkunjung ke Kota Medan serasa kurang pas jika tak mengunjungi sekaligus sholat di masjid bersejarah, Masjid Raya Al-Mashun.

Masjid Raya Al-Mashun terletak di jantung Kota Medan dan bersebelahan dengan Istana Maimun di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan, Sumatera Utara.

Masjid Raya Al-Mashun merupakan peninggalan bersejarah berarsiktetur tinggi dan dibangun pada masa Kesultanan Deli ke-9, Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsjah.

Baca Juga: Malam Tahun Baru, MUI Ingatkan Muhasabah dan Tobat Nasuha

Masjid dibangun pada 1 Rajab 1324 Hijriyah atau bertepatan dengan 21 Agustus 1906 Masehi dan selesai dibangun pada 1909 dan digunakan untuk ibadah salat Jumat pada 10 September 1909.

Bentuk masjid ini terbilang unik karena didesain dengan perpaduan gaya Timur Tengah, Eropa dan Asia. Bangunannya yang bergaya Eropa, India dan ciri khas Melayu terlihat jelas pada ornamen masjid.

Hampir sebagian besar material di Masjid Raya Al-Mashun Medan ini masih asli. Di sisi timur bagian luar, kita akan menemukan tempat wudhu dengan bangunan tua yang masih terawat. Di sisi barat, terhampar makam para raja dan Sultan Deli, termasuk Sultan pertama pendiri Masjid dan makam Sultan Deli terakhir.

Baca Juga: Hina Kelompok yang Berbeda, Ternyata Dihitung Dosa Besar

Saat memasuki bagian dalam masjid, kita akan melihat keindahan ornamen dan desain dinding masjid yang masih mempertahankan ciri khasnya. Hampir sebagian besar ornamen dan sejumlah benda di sisi dalam masih asli sejak awal masjid diresmikan untuk umum pada tahun 1909.

Mulai dari lampu gantung, mimbar khutbah Imam, mimbar bilal, semuanya masih dipertahankan. Selain itu, di dalam masjid akan ditemui sebuah mushaf Qur'an berukuran besar ditulis dengan tangan. Kitab suci ini diletakkan di dalam kotak kaca agar tetap terjaga keutuhannya sebagai saksi sejarah keberadaan masjid tersebut.

Pengurus Masjid Raya Al-Mashun Medan, Muhammad Hamdan mengatakan banyak masjid yang dibangun oleh Sultan Deli di daerah kekuasaannya. Namun, Masjid Raya Al-Mashun merupakan paling termegah dan tercantik arsitekturnya.

"Arsitektur bangunan masjid ini memang perpaduan dari ciri khas beberapa benua, termasuk Eropa. Sehingga membuat masjid raya ini unik dan megah," katanya beberapa waktu lalu.

Baca Juga: 3 Cara Qonaah Rezeki, Jangan Lihat ke Atas Tapi ke Bawah

Dalam skripsi Umi Kalsum (2016) yang berjudul "Sejarah Berdirinya Masjid Raya Al-Mashun Sebagai Warisan Arsitektur Belanda", hal tersebut diungkapnya dapat diketahui dari prasasti bertuliskan Arab Melayu, dipahatkan pada sayap kiri dan kanan pintu gerbang masuk menuju masjid.

Awalnya Masjid Raya Al-Mashun dirancang oleh arsitek Belanda bernama Van Erp dan juga merancang Istana Maimun yang merupakan pusat Kerajaan Sultan Deli di Kota Medan, berjarak lebih kurang 200 meter dari Masjid Raya Al-Mashun.

Kemudian prosesnya dikerjakan oleh JA Tingdeman yang berkebangsaan Belanda. Van Erp ketika itu dipanggil ke pulau Jawa oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk bergabung dalam proses restorasi Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Arsitektur masjid ini merupakan hasil akulturasi corak bangunan yang khas dari beberapa negara. Peleburan corak bangunan ini membuat kekhasan tersendiri pada konstruksi Masjid Raya Al-Mashun kebanggaan masyarakat Medan ini.

Dalam laman simas.kemenag yang berjudul "Masjid Al Mashun" dipaparkan rancangan arsitek masjid ini dengan denah simetris segi delapan dengan konsep kontruksi dari proses akulturasi bercorak Eropa, Maroko, Melayu dan Timur Tengah.

Denah yang persegi delapan ini menghasilkan ruang bagian dalam yang unik, berbeda dari Masjid kebanyakan. Di ke empat penjuru masjid masing-masing terdapat beranda lengkap dengan atap tinggi berkubah warna hitam, melengkapi kubah utama di atap bangunan utama masjid.

Untuk membangun Masjid Raya Al Mashun Medan banyak dekorasi yang diimpor dari mancanegara, diantaranya marmer Italia, kaca patri asal Tiongkok, dan lampu gantung dari Francis. Hal itu juga yang menguatkan nuansa kekayaan akulturasi budaya pada masjid itu.

Baca Juga: Klasifikasi Usia Agar Selalu Berbuat Soleh Sebelum Ajal Tiba

Bangunan masjid seluas 5.000 meter persegi berdiri kokoh di atas tanah seluas 13.200 meter persegi. Masjid ini memiliki ruang ibadah, tempat wudhu, kamar mandi, tempat penitipan sepatu/sandal, kantor sekretariat, serta dilengkapi penyejuk udara/air conditioner, sound system dan perlengkapan multimedia lainnya. Masjid ini menampung sekitar 1.500 jamaah.

Masjid Al-Mashun atau biasa disebut Masjid Raya Kota Medan ini menjadi saksi sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara. Masjid peninggalan zaman Kesultanan Deli ini tidak pernah sepi dari jamaah yang akan melaksanakan ibadah ataupun wisatawan yang sekadar ingin melihat kemegahan bangunan bersejarah itu.

Setiap bulan Ramadhan, jumlah jamaah di Masjid ini terus meningkat, siang hari maupun malam hari. Para jamaah tidak hanya salat, juga melakukan tadarus Qur'an sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Selain sebagai tempat beribadah bagi masyarakat Kota Medan, Masjid Raya ini juga menjadi lokasi favorit para wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini