Hidayah Mutlak di Tangan Sang Khalik, Bukan Nabi atau Rasul

Dian Ayu Anggraini, Jurnalis · Sabtu 20 Februari 2021 04:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 19 330 2365042 hidayah-mutlak-di-tangan-sang-khalik-bukan-nabi-atau-rasul-e7HyKpmnFf.jpg Hanya Allah Ta'ala yang dapat memberikan hidayah. (Foto:Freepik)

JAKARTA – Hidayah hanya Allah Ta'ala yang memberikan kepada siapa yang dikehendaki. Hidayah tidak dapat diberikan oleh mahluk manapun juga.

Hal ini untuk menegaskan kisah Rasulullah SAW saat perjumpaan terakhir dengan pamannya Abu Thalib sesaat sebelum meninggal dunia.

Diketahui sejak menjadi yatim piatu dan ditinggal kakeknya Abdul Muthalib, Nabi Muhammad SAW diasuh oleh pamannya, Abu Thalib hingga dewasa. Abu Thalib sangat menyayangi Rasulullah dan sudah menganggap beliau seperti anaknya sendiri.

Baca Juga: Dapat Hidayah di Penjara, Bernard Hopkins Putuskan Mualaf

Ketika Nabi Muhammad SAW berdakwah ajaran Islam, Abu Thalib tetap mendukungnya. Meskipun ia tidak bersedia untuk meninggalkan ajaran dari Abdul Muthalib. Bahkan sampai meninggal, dia tetap tidak mau masuk agama Islam.

Dilansir dari video milik akun YouTube Kisah Islami, Sabtu (20/2/2021), sebelum meninggal, Abu Thalib berbicara kepada Nabi Muhammad SAW terkait keinginan para pemuka kaum Quraish agar Rasulullah menghentikan dakwahnya. Namun, tentu Nabi Muhammad SAW tidak menyetujuinya.

Kondisi kesehatan pamannya semakin hari semakin buruk. Hal ini membuat Nabi Muhammad SAW khawatir. Terlebih Abu Thalib tetap berpegang teguh pada ajaran kakek mereka.

Baca Juga: Perjalanan Spiritual Herjunot Ali, Sempat Tak Percaya Tuhan hingga Temukan Hidayah

Tepatnya pada bulan Rajab, Abu Thalib meninggal dunia. Pada hari kematiannya, Nabi Muhammad SAW sempat menjenguknya. Beliau berusaha membujuk pamannya untuk masuk agama Islam. Rasulullah mengatakan, kalimat syahadat akan menjadi pembelaan untuknya di sisi Allah SWT.

Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah yang saat itu ada di sana, merasa tidak senang dengan ajakan Rasulullah. Kedua orang musyrik itu terus mendesak Abu Thalib. Hingga kalimat terakhir yang keluar dari bibirnya adalah “Aku tetap pada agama Abdul Muthalib”.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Meski begitu, Rasulullah tetap mendoakan dan meminta pengampunan untuk pamannya tersebut kepada Allah SWT. Akan tetapi, perkataan Nabi itu dibantah oleh Allah SWT lewat firmannya, Surat At-Taubah ayat 113.

“Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat (nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam.” (Q.S. At-Taubah : 113).

Nabi Muhammad SAW sadar bahwa hanya Allah SWT yang mampu memberikan hidayah kepada hambanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran Surat Al-Qasas ayat 56.

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S. Al-Qasas : 56).

Allah SWT memperbolehkan Nabi Muhammad SAW untuk memberikan syafaatnya kepada Abu Thalib. Meskipun beliau meninggal dalam keadaan kafir. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Muddasir ayat 48.

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (Q.S. Al-Muddasir : 48). 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya