Share

Film Tjoet Nja' Dhien Tayang Lagi, Kisah Perang Fi Sabilillah Rakyat Aceh Melawan Belanda

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Rabu 19 Mei 2021 15:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 19 614 2412378 film-tjoet-nja-dhien-tayang-lagi-kisah-perang-fi-sabilillah-rakyat-aceh-melawan-belanda-pQgUtnlBDu.jpg Film Tjoet Nya Dhien. (Foto: Okezone/Ist)

JAKARTA - Film Tjoet Nja' Dhien  akan kembali diputar di sejumlah bioskop di Tanah Air. Film ini telah direstorasi di Belanda, sehingga tampilan gambar dan warnanya semakin tajam. Film ini dibintangi Christine Hakim sebagai Tjoet Nya Dhien.

Pada ajang Citra di Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 1988, film ini yang meraih 8 kategoti piala. Semetara penayangan dimulai pada 20 Mei 2021 di Jakarta, bertepatan dengan Hari kebangkitan Nasional. Rencananya akan dilanjutkan di berbagai kota, seperti Surabaya, Semarang, Makassar, Medan, dan sebagainya.

Lantas siapakah Tjoet Nja' Dhien ini. Srikandi asal Serambi Makkah, Aceh ini begitu ditakuti kolonial Belanda. Padahal dia hanya seorang perempuan yang hampir buta matanya.

Bagi rakyat Aceh yang mayoritas beragama Islam, Tjoet Nja' Dhien menjadi simbol begitu kuat perjuangan rakyat Aceh menghadapi Belanda.

Baca Juga: Direstorasi, Film Tjoet Nja Dhien Kembali Tayang di Bioskop

Dia dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama Islam di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan Datuk Makhudum Sati, perantau dari Minangkabau.

Datuk Makhudum Sati merupakan keturunan dari Laksamana Muda Nanta yang merupakan perwakilan Kesultanan Aceh pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Pariaman. Datuk Makhudum Sati mungkin datang ke Aceh pada abad ke 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.. Sedangkan ibunya merupakan putri uleebalang Lampageu.

Baca Juga: 7 Film Rekomendasi Biopik Pahlawan Nasional

Dikutip dari laman Wikipedia disebutkan pada masa kecilnya, Tjoet Nja' Dhien adalah anak yang cantik. Dia  memperoleh pendidikan pada bidang agama (yang dididik oleh orang tua ataupun guru agama) dan rumah tangga (memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya).

Banyak laki-laki yang suka padanyadan berusaha melamarnya. Pada usia 12 tahun, ia sudah dinikahkan oleh orangtuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra dari uleebalang Lamnga XIII. Mereka memiliki satu anak laki-laki.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Pada 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Perang Aceh pun meletus. Pada perang pertama (1873-1874), Aceh yang dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah bertempur melawan Belanda yang dipimpin Johan Harmen Rudolf Köhler. Saat itu, Belanda mengirim 3.198 prajurit.

Lalu, pada tanggal 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Köhler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Kesultanan Aceh dapat memenangkan perang pertama. Ibrahim Lamnga yang bertarung di garis depan kembali dengan sorak kemenangan, sementara Köhler tewas tertembak pada April 1873.

Pada tahun 1874-1880, di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten, daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada tahun 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh pada tahun 1874. Tjoet Nja' Dhien dan bayinya akhirnya mengungsi bersama ibu-ibu dan rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember 1875. Suaminya selanjutnya bertempur untuk merebut kembali daerah VI Mukim.

Ketika Ibrahim Lamnga bertempur di Gle Tarum, ia tewas pada tanggal 29 Juni 1878. Hal ini membuatTjoet Nja' Dhien sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan Belanda. Perang pun dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi'sabilillah. 

Teuku Umar, tokoh pejuang Aceh, melamar Tjoet Nja' Dhien. Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak. Namun, karena Teuku Umar mempersilakannya untuk ikut bertempur dalam medan perang, Cut Nyak Dien akhirnya menerimanya dan menikah lagi dengan Teuku Umar pada tahun 1880. Hal ini meningkatkan moral semangat perjuangan Aceh melawan Kaphe Ulanda (Belanda Kafir). Nantinya, Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar memiliki anak yang diberi nama Cut Gambang.

Setelah suaminya Teuku Umar gugur dalam pertempuran, dia mengambilalih memimpin peperangan  di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya. Pasukan ini terus bertempur sampai kehancurannya pada tahun 1901 karena tentara Belanda sudah terbiasa berperang di medan daerah Aceh.

Selain itu, Tjoet Nja' Dhien sudah semakin tua. Matanya sudah mulai rabun, dan ia terkena penyakit encok dan juga jumlah pasukannya terus berkurang, serta sulit memperoleh makanan. Hal ini membuat iba para pasukan-pasukannya.

Anak buah Tjoet Nja' Dhien yang bernama Pang Laot melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda karena iba. Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu. Mereka terkejut dan bertempur mati-matian. Dhien berusaha mengambil rencong dan mencoba untuk melawan musuh. Namun, aksinya berhasil dihentikan oleh Belanda. Cut Nyak Dhien ditangkap dan diasingkan di Sumedang, Jawa Barat hingga gugur dan dimakamkan di sana.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini