Inilah 7 Prinsip Etos Kerja Seorang Muslim

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 09 Juni 2021 16:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 09 330 2422578 inilah-tujuh-prinsip-etos-kerja-seorang-muslim-pRhFml4mmd.jpg Ilustrasi muslimah dalam bekerja (foto: Freepik)

JAKARTA - Ibarat antrian, urusan harian itu berjejer untuk siap dikerjakan. Semakin ditunda, tumpukannya meninggi dan memanjang tak berkesudahan. Bagi Anda yang merasa pengangguran, jangan biasakan duduk penuh khayalan. Bergeraklah, jangan diam, lakukan sesuatu yang bermanfaat, beribadah atau apapun jenis kebaikan.

Apalagi yang punya pekerjaan, aturlah waktu agar dapat mengurus diri, pengembangan diri, keluarga, pekerjaan dan profesi, organisasi dan lingkungan. Semuanya harus proporsional, terpenuhi hak dan kewajiban.

Baca Juga: Gerhana Matahari Cincin, Ini Bacaan Zikir yang Bisa Diamalkan 

Dengan demikian, hendaklah tidak menunda-nunda urusan. Bersegeralah, fokus dan disiplin dalam menunaikan tugas. Sikap profesional yang sesungguhnya harus menjadi nilai dasar seorang Muslim. “Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain,” (QS. Al-Insyirah: 7).

Baca Juga:  Ini Dia Amalan yang Pertama Kali Dihisab di Hari Kiamat

Iu Rusliana, Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah yang juga Dosen Filsafat Ilmu dan Manajemen Sumber Daya Manusia UIN Sunan Gunung Djati Bandung berpendapat bahwa seorang Muslim yang etos kerjanya hebat memiliki tujuh prinsip.

Pertama, rajin melakukan penilaian jujur pada diri (hisab). Dalam bahasa manajemen mutu, dikenal dengan istilah evaluasi diri. Disebut pula audit internal.

Kemudian dari audit itu dilanjutkan dengan perencanaan untuk langkah ke depannya akan seperti apa. Tentu saja berdasarkan hasil analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang telah dirumuskan atau dalam bahasa manajemen disebut perencanaan stratejik.

Tidak hanya pada organisasi, pribadi juga perlu merencanakan hidupnya dengan baik. Nilai lah diri dengan jujur sebelum dihisab nanti di alam keabadian. Bertaubat dan berusahalah untuk menjadi yang terbaik. Bukan hanya pada kesalahan dan dosa, juga pada sisi produktivitas dan kemanfaatan pada sesama, harus dievaluasi dan diperbaiki terus menerus agar husnul khotimah, baik di akhirnya. Hingga dapat meraih bahagia dunia dan akhirat.

Kedua, menghargai waktu. Waktu bagaikan pedang, mengiris dan melukai yang lengah, malas dan tak peduli masa depan. Menjadi alat mencapai keberhasilan bagi siapapun yang memanfaatkannya. Pepatah Arab itu, menyimbolkan waktu sebagai pedang, gambaran dari kekuasaan, kejayaan dan kemenangan. Menua miskin harta dan malas ibadah membawa sengsara. Muda kaya raya, baik kualitas ibadahnya dan bahagia keluarga, merupakan impian semuanya.

Ketiga, menjaga amanah. Lidah tak bertulang, namun ucapan dapat melukai perasaan. Janji adalah hutang, mudah diucapkan, sulit direalisasikan. Kepercayaan adalah proses, buah dari sikap amanah yang diberikan baik dari Tuhan, pimpinan atau pun teman. Menjaganya sangat sulit, merusaknya sangatlah mudah. Setelah hilang kepercayaan, tak mudah lagi untuk membangunnya. Bagi seorang Muslim, sikap amanah itu adalah karakter inti, sebagaimana dicontohkan Sang Nabi. Perhiasan indah, bagi siapapun yang melaksanakannya.

Keempat, pencipta soliditas tim. Tak ada yang dapat bekerja sendirian. Manusia membutuhkan berlipatganda energi melalui sinergi. Bersedia mengalah untuk kebaikan dan kebersamaan. Menambal sisi kosong saat sebagian lupa untuk mengisi. Bersedia maju di depan saat tak ada yang berani tampil menyemangati. Bersedia di belakang, memastikan dulu semuanya sudah melewati rintangan. Merekat yang terserak, memediasi yang sedang konflik, menghimpun yang tercecer, menyatukan yang sedang dihinggapi kebencian dengan kedamaian.

Kelima, memiliki komitmen melayani dan kinerjanya tinggi. Ukuran manusia itu dari komitmennya dalam segala hal. Melayani sesama dan lingkungan hakikatnya sedang mengurus diri. Menghimpun energi kebaikan dan menjadikannya penuh keberkahan. Komitmen dan kinerja adalah dua hal yang saling berurutan. Komitmen tinggi akan menghasilkan kinerja tinggi pula. Setiap organisasi dan pribadi merindukan manusia tipe begini. Tenanglah sang pemilik perusahaan, pun pimpinan serta rekan kerja juga bawahan.

Keenam, menjadi pembelajar seumur hidup. Dari apa yang dialami, manusia belajar ilmu kehidupan. Mereka yang terlambat belajar, akan terjerembab pada kekeliruan yang sama. Kualitasnya rendah, setingkat keledai. Belajarlah apapun, kepada siapapun dan dimanapun sejauh itu bermanfaat bagi diri dan lingkungan. Dalam ilmu pengetahuan ada kearifan, lurus dan teranglah jalan kehidupan. Mereka yang terjebak dalam kebodohan, akan sontoloyo dan linglung menjalani kehidupan. Belajarlah, jika tidak mau, akan mati dalam kesiasiaan.

Ketujuh, bekerja keras, cerdas dan ihlas. Agar kualitas pekerjaan terus membaik dan penuh makna bagi kita dan sesama, maka cerdas dan ihlaslah dalam bekerja. Dalam keihlasan ada makna yang sangat dalam dan energi kehidupan.

Rasulullah SAW adalah pekerja keras dan beliau mengajarkan kepada kita untuk berdoa memohon perlindungan dari kelemahan dan kemalasan. “Allaahumma innii a’uudzubika minal ‘ajzi wal kasali, wal jubni wal harami wal bukhli, wa a’uudzubika min ‘adzaabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaati (wahai Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada Engkau dari kelemahan dan kemalasan, kepengecutan, kepikunan dan kikir. Aku memohon perlindungan kepada Engkau dari siksa kubur, serta dari cobaan hidup dan mati,” (HR. Muslim). Wallaahu’alam

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(amr)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya