Pertama, rajin melakukan penilaian jujur pada diri (hisab). Dalam bahasa manajemen mutu, dikenal dengan istilah evaluasi diri. Disebut pula audit internal.
Kemudian dari audit itu dilanjutkan dengan perencanaan untuk langkah ke depannya akan seperti apa. Tentu saja berdasarkan hasil analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang telah dirumuskan atau dalam bahasa manajemen disebut perencanaan stratejik.
Tidak hanya pada organisasi, pribadi juga perlu merencanakan hidupnya dengan baik. Nilai lah diri dengan jujur sebelum dihisab nanti di alam keabadian. Bertaubat dan berusahalah untuk menjadi yang terbaik. Bukan hanya pada kesalahan dan dosa, juga pada sisi produktivitas dan kemanfaatan pada sesama, harus dievaluasi dan diperbaiki terus menerus agar husnul khotimah, baik di akhirnya. Hingga dapat meraih bahagia dunia dan akhirat.
Kedua, menghargai waktu. Waktu bagaikan pedang, mengiris dan melukai yang lengah, malas dan tak peduli masa depan. Menjadi alat mencapai keberhasilan bagi siapapun yang memanfaatkannya. Pepatah Arab itu, menyimbolkan waktu sebagai pedang, gambaran dari kekuasaan, kejayaan dan kemenangan. Menua miskin harta dan malas ibadah membawa sengsara. Muda kaya raya, baik kualitas ibadahnya dan bahagia keluarga, merupakan impian semuanya.
Ketiga, menjaga amanah. Lidah tak bertulang, namun ucapan dapat melukai perasaan. Janji adalah hutang, mudah diucapkan, sulit direalisasikan. Kepercayaan adalah proses, buah dari sikap amanah yang diberikan baik dari Tuhan, pimpinan atau pun teman. Menjaganya sangat sulit, merusaknya sangatlah mudah. Setelah hilang kepercayaan, tak mudah lagi untuk membangunnya. Bagi seorang Muslim, sikap amanah itu adalah karakter inti, sebagaimana dicontohkan Sang Nabi. Perhiasan indah, bagi siapapun yang melaksanakannya.
Keempat, pencipta soliditas tim. Tak ada yang dapat bekerja sendirian. Manusia membutuhkan berlipatganda energi melalui sinergi. Bersedia mengalah untuk kebaikan dan kebersamaan. Menambal sisi kosong saat sebagian lupa untuk mengisi. Bersedia maju di depan saat tak ada yang berani tampil menyemangati. Bersedia di belakang, memastikan dulu semuanya sudah melewati rintangan. Merekat yang terserak, memediasi yang sedang konflik, menghimpun yang tercecer, menyatukan yang sedang dihinggapi kebencian dengan kedamaian.