Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Berbagai Istilah Plesetan Haji Versi Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti

Rizky Maulana , Jurnalis-Senin, 12 Juli 2021 |16:35 WIB
Berbagai Istilah Plesetan Haji Versi Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti
Serketaris Umum Muhammadiyah Abdul Mu'ti. (Foto: Okzone/Dok)
A
A
A

IBADAH haji 2021 saat ini sedang berlangsung di Tanah Suci, Arab Saudi. Tahun ini adalah tahun kedua pembatasan jamaah yang dapat melaksanakan rukun Islam kelima tersebut. 60. 000 jamaah haji tahun ini berasal dari warga negara Arab Saudi serta warga negara asing yang sudah menetap di Arab Saudi.  

Nah, untuk sebutan haji Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu'ti punya beberapa nama plesetannya dan ditulis dalam akun Twitter pribadinya @Abe_Mukti menjelaskan, ketimbang ibadah lain, haji cukup banyak penyebutannya.

"Berbagai sebutan haji menunjukkan popularitas dan penilaian masyarakat terhadap mereka yg telah menunaikan ibadah haji," tulis Mu'ti.

Baca Juga: Lagi, Pelaku Haji Ilegal Ditangkap Pihak Keamanan Arab Saudi

Sedikitnya ada sembilan sebutan yang kerap diucapkan masyarakat dalam menyematkan gelar haji. Pertama adalah haji mabrur, yang berarti yang diterima oleh Allah dan dijamin masuk surga. "Ini menjadi harapan dan dambaan setiap jamaah haji," paparnya.

Selain Haji Mabrur, ada juga sebutan yang populer di masyarakat. Adapun sebutan ini dirasa juga termasuk candaan umum. "Haji Mansur: Haji halamannya kena gusur. Berangkat haji karena halaman rumahnya terkena gusur. Haji Wahyu: Haji mergo sawahe payu. Berangkat haji setelah menjual sawah," jelasnya.

Sebutan selanjutnya versi Mu'ti adalah Haji Abidin, akronim dari haji atas biaya dinas, dalam artian berangkat haji sebagai petugas. Kemudian ada sematan Haji Kosasih, yakni haji dengan ongkos dikasih. Dimana, mereka berhaji lantaran hadiah dari lembaga atau seseorang.

Baca Juga: Gelar Haji untuk Jamaah Indonesia Sejak Kapan Disematkan?

Lalu, ada sebutan Haji Sokeh, yakni haji yang disokong 'wong akeh' atau biaya hajinya ditanggung oleh banyak orang. Selanjutnya, ada Haji Somat, haji yang disokong umat atau dalam arti biaya haji ditanggung oleh jamaah.

Ada pula sebutan Haji Tamatu. Menurut Mu'ti, sebutan ini adalah singkatan dari Haji tangi mangan turu. Sebutan ini diperuntukkan bagi mereka yang selama haji hanya tidur dan makan. Kemudian, sambung Mu'ti adalah Haji Tomat. Artinya antara lain, 'haji teko maksiate kumat' yang berarti sudah haji tetapi terus bermaksiat.

Dua sebutan haji terakhir versi Mu'ti adalah Haji Kamlan. Dimana sebutan ini khusus untuk para pekerja media yang berhaji. Kamlan diambil dari akronim kameramen dan peliputan. Lalu, ada Haji Hamim atau haji hanya mimpi. Menurut dia, Hamim dimaksudkan bagi mereka yang bertahun-tahun mendaftar haji tapi tak berangkat lantaran dibatalkan. "Itulah beberapa sebutan haji yang populer di masyarakat. Pembaca termasuk haji yang mana?" tanya Mu'ti di akhir cuitannya.

(Vitrianda Hilba Siregar)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement