"Kemudian hal itu berkembang menjadi aktivitas dakwah baik dari pribadi maupun kelompok, mendorong gerakan sosial dan membentuk identitas muslim milenial. Meskipun diakui, pemahaman terhadap teknologi platform YouTube dan Instagram sangat terbatas," jelasnya alumni STIKP Medan dan MIKOM Fisip USU ini.
Di sisi lain, sebut Rozi, interaksi, durasi dan frekuensi penggunaan, relasi pertemanan dari muslim milenial di media sosial mendorong algoritma bekerja sesuai dengan minat dan relevansi dari pengguna.
Hal itu, menurutnya, terlihat dari muslim milenial Kota Medan yang mengakui ada konten islami dari channel/akun yang tidak mereka ikuti (unfollow/unsubscribe), yang muncul di lini masa akun/channel mereka. Pada akhirnya, konten islami yang masuk ke muslim milenial cukup besar dalam bentuk filter bubble dan menyebabkan ruang gema (echo chamber), informasi yang itu-itu saja.
“Hal ini dapat dipahami karena memang sifat teknologi persuasif, user centred design, yang dapat menstimulasi dopamin (rasa bahagia) saat terus menggunakan media sosial. Tapi secara sadar atau tidak, hal itu dapat memunculkan bias kognitif dari muslim milenial terhadap konten islami. Algoritma media sosial punya peran signifikan dalam penanaman terhadap konten islami yang memapar muslim milenial,” kata dia.
Baca Juga: Penyakit Apa Saja yang Bisa Diobati dengan Puasa? Ini Penjelasan Alquran dan Sains
Islam dalam ajarannya, telah memberikan panduan atas penerimaan informasi dengan konsep tabayyun. Majelis Ulama Indonesia (MUI) lewat Fatwa MUI No 24/2017 serta Fikih Informasi Muhammadiyah sudah memberikan panduan soal bermuamalah di media sosial dan beraktivitas di media sosial. Sayangnya, muslim milenial kurang mengetahuinya.
Mengacu pada Alquran, Surah Al Hujurat ayat 6, bahwa wajib hukumnya melakukan tabayyun jika berita disampaikan oleh orang fasik. Jikapun pembawa berita tersebut adalah orang adil maka dianjurkan untuk bertabayyun sebagai kehati-hatian (li al-ikhtiyath) sebab boleh jadi berita disampaikan dengan jujur tetapi dia mendapatkan berita dari orang lain yang belum tentu kebenarannya ataupun boleh jadi dia lupa.
“Konsep ini sudah dilakukan oleh muslim milenial Kota Medan, dengan beberapa handicap (rintangan), salah satunya pembuat konten islami kurang menanggapi upaya tabayyun dari pengguna yang dilakukan lewat kolom komentar ataupun pesan langsung (Direct Message). Kemudian faktor teknologi media sosial dan algoritmanya belum mendapatkan penanganan yang tepat. Karena itu, ditawarkan sebuah Model Tabayyun Digital,” beber ayah dua anak ini.
Model Tabayyun Digital konten Islami ini dilakukan secara komprehensif tidak saja melakukan klarifikasi lewat jalur digital, tapi juga secara non-digital, bertanya pada ustadz secara langsung dan membaca Al Quran dan Al Hadits, mengenali teknologi media sosial, dan mengendalikan algoritma media sosial yang digunakan.