Serangan 11 September 2001, Cerita Imam Shamsi Ali di New York Dipeluk Tetangga Katolik (1)

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 10 September 2021 20:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 10 614 2469551 serangan-11-september-2001-cerita-imam-shamsi-ali-di-new-york-dipeluk-tetangga-katolik-1-kKQRMvKdAL.jpg Serangan Menara Kembar WTC di Kota New York pada 11 September 2001. (Foto: Business Insider)

NEW YORK, Selasa pagi,  peristiwa 11 September 2001. Jarum jam belum bergerak jauh dari pukul 09:00 pagi. Ketika kepanikan mengguncang warga kota karena dua serangan atas Twin Towers  World Trade Centre (WTC), komunitas Muslim mulai menjadi sasaran kemarahan warga setempat.

Saat itu telah tersiar kabar kelompok ekstremis al-Qaeda yang bertanggung jawab atas serangan paling mengerikan dalam sejarah Amerika Serikat dan dunia.

Imam Shamsi Ali yang menetap di New York, yang pagi itu tengah menuju tempat kerjanya di PTRI, PBB, termasuk di antara yang merasakan dampaknya, bukan secara fisik, namun berupa cacian.

Baca Juga: Konstantinopel Berhasil Ditaklukan Anak Muda Islam Usianya 19 Tahun, Siapakah Dia?

"Sangat menyedihkan… sangat mencekam," cerita Shamsi Ali mengenang kejadian pagi hari, 20 tahun lalu itu.

Dua pesawat menabrakkan Gedung Twin Towers World Trade Centre New York. North Tower yang pertama ditabrak pada 08:46 waktu setempat dan South Tower pada pukul 09:03. Serangan di dua gedung ini menewaskan lebih dari 2.600 orang.

Dua momen yang sering diceritakan dan selalu diingat Shamsi Ali - yang saat ini menjadi direktur Jamaica Muslim Centre - adalah ketika mendengar cacian supir taksi yang tak tahu dirinya Muslim, dan pelukan oleh tetangga Katolik yang menyadarkannya akan hal yang menurutnya sangat penting.

Persepsi tentang Islam yang salah. Islam dan Muslim dikaitkan dengan kekerasan.

Imam Shamsi Ali (tengah) Foto: BBC

Ketika berjalan kaki pulang ke rumahnya dari Manhattan ke Queen yang cukup jauh, ada taksi yang mau berhenti dan mengantarnya.

Supir taksi — yang tidak mengetahui dirinya Muslim — "Bersedia mengantar saya dengan senang hati. Namun ketika di mobil, dia mulai mencaci maki Islam dan orang Islam."

Baca Juga: Malaikat dan Setan Berebut Menemani Orang yang Hendak Tidur Malam

Saat itu telah santer diberitakan kelompok ekstremis al-Qaida yang bertanggung jawab.

Ketika tiba di rumah — tetangganya, suami istri yang sudah sepuh — bergegas menghampiri dan memeluknya.

"Dia mengatakan tiga kali, 'Saya tak percaya', sambil menangis. 'Saya tak percaya kalau orang Islam yang melakukan ini. Kalau semua orang Islam seperti kamu tak mungkin dia melakukan itu'," cerita Shamsi mengutip tetangganya.

"Saat dipeluk orang tersebut, betul-betul perasaan saya bercampur aduk, saya memikirkan hari-hari yang akan datang, mencekam," katanya lagi.

Sang tetangga — pemeluk Katolik yang berasal dari Irlandia — sempat dicurigai Shamsi saat awal pindah ke Amerika Serikat pada 1996.

"Saya mengistilahkan, saya diajari menjadi Muslim yang lebih baik, tidak diajari Islam, tetapi diajari menjadi Muslim yang baik," katanya.

Sejak beberapa tahun sebelumnya, tetangga suami istri yang berusia 70an itu, selalu menyapu di depan rumah, termasuk di depan kediaman keluarga Shamsi.

Baca Juga: Muhasabah Sudah Sampai Mana Koreksi Diri Dilakukan?

"Ada kecurigaan di benak saya, ini non-Muslim, tapi kok baik sekali, menyapu depan rumah saya. Awalnya kita tidak pernah interaksi dengan non-Muslim, saya jadi curiga, sebentar lagi mereka akan menggoda saya. Ternyata berhari-hari, berbulan-bulan kemudian, mereka tak pernah ngomong soal agama."

Sikap tetangganya ini, kata Shamsi, justru, "mengingatkan saya, arti agama yang sesungguhnya. Agama itu bukan yang kita lakukan di rumah-rumah ibadah, tapi agama itu adalah apa yang kita lakukan di tengah masyarakat, menampilkan perilaku yang baik."

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

"Dua hal ini adalah pelajaran penting yang saya bawa dalam langkah dakwah-dakwah saya di Amerika. Betapa banyak teman-teman kita di luar sana yang salah paham dan kewajiban kita untuk memberitahu Islam yang sesungguhnya.

"Yang paling efektif bukan ceramah berapi-api tapi bagaimana menampilkan Islam dengan perilaku dan karakter," katanya lagi. (Bersambung)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya