Share

Abu Nawas Pusing Dengar Syair Putra Raja: Lebih Enak Masuk Penjara Saja

Miftah H Yusufpati, Jurnalis · Kamis 10 Februari 2022 06:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 09 614 2544857 abu-nawas-pusing-dengar-syair-putra-raja-lebih-enak-masuk-penjara-saja-92PJbcYMp9.jpg Ilustrasi kisah lucu Abu Nawas memilih masuk penjara dibanding dengar syair putra Raja. (Foto: Istimewa)

ABU Nawas kok diceritakan sukarela masuk ke penjara. Gara-gara apa ya? Kok dia mau? Simak kisah selengkapnya berikut ini.

Berawal dari Baginda Raja Harun Al Rasyid mempunyai dua putra. Pertama bernama Al Amin, sedangkan yang kedua Al Ma'mun. Al Amin ternyata sangat bodoh dan pemalas. Sementara Al Ma'mun terkenal rajin serta pintar dalam bidang ilmu sastra.

Raja sangat menyukai Al Ma'mun karena kecerdasannya tersebut. Ini tentu membuat Permaisuri Zubaidah tidak suka, lantaran Raja dianggap pilih kasih, padahal keduanya sama-sama putranya.

"Suamiku kenapa kau tidak begitu menyayangi Al Amin?" tanya sang permaisuri pada suatu ketika.

"Karena ia tidak bisa membuat syair dan tidak kenal dengan ilmu sastra," jawab Raja.

Baca juga: Kisah Lucu Abu Nawas Menangkap Harimau Berjenggot Genit yang Menggoda Istrinya 

"Suamiku, sebenarya kalau mau Al Amin akan lebih menguasai ilmu sastra daripada saudaranya. Sebenarnya ia lebih cerdas. Ia hanya malas," tutur permaisuri membela Al Amin.

"Apa buktinya?"

"Baik, tidak lama lagi Baginda Raja akan melihat buktinya," ucap permaisuri coba meyakinkan.

Pada suatu siang permaisuri memanggil putranya Al Amin. "Aku baru saja berdebat dengan ayahmu mengenai dirimu," kata sang permaisuri kepada putranya tersebut.

"Aku tidak rela kamu dipandang sebelah mata dan dibanding-bandingkan dengan kakakmu. Maka itu, kamu harus bisa menandinginya. Mulai sekarang kamu harus tekun mempelajari ilmu sastra supaya menjadi seorang penyair yang hebat."

Sorenya Al Amin pergi meninggalkan istana menuju sebuah tempat yang sunyi. Di tempat itulah ia coba mengasah pikirannya yang bebal.

Al Amin berusaha menulis bait-bait syair tanpa seorang guru atau tanpa bimbingan siapa pun. Beberapa minggu kemudian setelah merasa mampu menguasai ilmu sastra dan menulis bait-bait syair, Al-Amin pulang ke istana.

"Jadi kamu sekarang sudah bisa menulis syair, putraku?" tanya Permaisuri Zubaidah ketika menyambut kedatangan putranya tersebut dengan gernbira.

"Sudah," jawab Al Amin.

"Kalau begitu biar besok aku panggil Abu Nawas untuk menguji karya syairmu."

Besoknya pagi-pagi sekali Abu Nawas sudah muncul di istana memenuhi panggilan Permaisuri. "Abu Nawas, coba kamu dengarkan karya syair putraku ini," kata Permaisuri dengan bangga.

"Baik, silakan," ucap Abu Nawas.

Al Amin lalu membacakan beberapa bait syair sebagai berikut: "Kami adalah keturunan Bani Abbas. Kami duduk di atas kursi."

Abu Nawas hampir tidak sanggup menahan tawanya mendengar syair tersebut.

Baca juga: Kisah Lucu Abu Nawas dan Para Pejabat Istana yang Belum Pernah Lihat Gajah 

"Bagaimana?" tanya Al Amin kepada Abu Nawas.

"Ya, begitulah. Kalian memang dari keturunan yang mulia," jawab Abu Nawas meledek.

"Tapi coba teruskan."

"Kami berperang dengan pedang dan tombak pendek."

"Syair macam apa itu," celutuk Abu Nawas yang sudah tidak mau berbasa-basi lagi.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Al Amin marah sekali mendengar cemooh Abu Nawas tersebut. Ia lalu menyuruh seorang pasukan istana menangkap dan memasukkan Abu Nawas ke penjara.

Selama beberapa hari Abu Nawas tidak pernah muncul di istana, sehingga Raja merasa rindu. Belakangan Raja mendengar kabar bahwa Abu Nawas dimasukkan ke penjara oleh Al Amin.

la kemudian mengajak putranya itu ke penjara untuk menjenguk Abu Nawas. "Kenapa kamu memenjarakannya?" tanya Raja.

Al Amin kemudian menceritakan semuanya. "Yang sangat menyakitkan, ia telah berani mencemooh syair karyaku, ayahanda," kata Al Amin.

Baca juga: Abu Nawas Sanggupi Perintah Ambil Mahkota Surga, tapi Syaratnya Bikin Raja Pusing 

"Tentu saja karena memang karya syairmu jelek," balas Raja.

"Dia itu kan memang seorang penyair hebat. Jadi bisa menilai mana karya syair yang bagus dan yang tidak bagus. Lagi pula apa yang ia katakan itu jangan kamu anggap sebagai ejekan, melainkan sebuah kritikan yang harus kamu terima dengan lapang dada," lanjut Raja menasihati.

"Baik. Kalau begitu, beri lagi aku kesempatan waktu untuk memperbaiki karya syairku," kata Al Amin sambil beranjak pergi.

Untuk kedua kalinya Al Amin pergi ke tempat yang sepi untuk mengasah pikiran dan mendalami ilmu sastra supaya bisa menulis syair yang benar-benar bagus, tidak seperti sebelumnya.

Beberapa pekan kemudian ia sudah pulang ke istana. Besoknya pagi-pagi sekali Raja, Abu Nawas, dan beberapa penyair sudah berada di istana. Rupanya pertemuan itu sudah diatur oleh Permaisuri. Beliau ingin mereka mendengarkan syair karya putranya yang baru saja pulang mendalami ilmu sastra.

"Dengarkan karya syair putraku Al Amin," kata Permaisuri.

"Baik, silakan," sahut Abu Nawas.

Al Amin pun mulai membaca syair karyanya:

"Hai binatang yang duduk bersimpuh.

Rasanya tidak ada yang setolol kamu.

Kamu seperti hidangan kinafah.

Yang diolesi dengan minyak biji hardal dan minyak sapi yang kental.

Seperti warna seekor kuda belang."

Baca juga: Abu Nawas Lebih Hebat dari Jin Ifrit, Istana Raja Bisa Dipindah ke Atas Gunung 

Begitu selesai mendengar syair tersebut, Abu Nawas langsung bangkit dan hendak berlalu dari tempatnya. "Ke mana kamu, Abu Nawas?" tanya Raja.

"Saya lebih suka balik ke penjara saja daripada mendengar syair macam ini. Toh, sebentar lagi putra Anda ini pasti akan menyuruh polisi membawaku ke sana," jawab Abu Nawas.

Raja tertawa terpingkal-pingkal rnendengar jawaban Abu Nawas. Sementara Permaisuri hanya bisa duduk bengong. Kini ia sadar dan yakin putranya Al Amin memang tidak pandai membuat syair.

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini