Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merancang Masa Depan Guru Indonesia untuk Menjadi Sosok Berkualitas

Tim Okezone , Jurnalis-Senin, 11 April 2022 |11:54 WIB
Merancang Masa Depan Guru Indonesia untuk Menjadi Sosok Berkualitas
Merancang masa depan guru Indonesia menuju sosok berkualitas (foto: istimewa)
A
A
A

JAKARTA - Kebijakan pendidikan nasional memang ada di tangan Kemendikbud. Namun masa depan pendidikan Indonesia ada di tangan guru-guru. Bagaimana merancang guru Indonesia sehingga mereka menjadi sosok guru masa depan?

Mengagendakan program peningkatan mutu guru adalah penting dan mendesak. Karena kualitas profesi guru adalah faktor paling inti untuk mewujudkan mutu pendidikan. Kim (2005) mengemukakan, “the quality of education can not exceed the quality of teachers.”

Ada satu hal penting ihwal kemuliaan profesi guru, yaitu kesadaran berposisi sebagai guru. Tanpa ini, guru bakal terperangkap hanya memerankan diri sebagai pekerja biasa. Sekadar mengajar dan menggugurkan kewajiban sebagai seorang guru. Cara kerja ini tak akan membawa perubahan apa pun bagi pendidikan Indonesia.

Galibnya posisi guru sangat strategis. Posisi dengan multiperan yang mesti diemban. Peran pertama, guru sebagai profesi. Sebagai profesi, ada tuntutan yang harus dipenuhi, yakni kesungguhan bekerja. Cintailah diri sebagai guru, juga cintailah mulianya kerja mencerdaskan anak bangsa. Passion ini yang menjadi pembeda bagi guru.

Peran kedua sebagai pejuang. Berkhidmat untuk mencerdaskan anak bangsa harus siap dengan segala konsekuensi. Bahkan, bagi sebagian guru yang mengajar di pelosok daerah, mereka ditantang untuk melakukan yang terbaik dengan segala keterbatasan. Apalagi bagi guru dengan kondisi ekonomi tak berkecukupan, beban mereka semakin berat. Di satu sisi harus tuntaskan tugas dan tanggung jawab dengan baik, di sisi lain mereka harus berjuang atasi persoalan hidup mereka.

Peran ketiga guru sebagai negarawan. Ikhtiar memerangi kebodohan sesungguhnya merupakan upaya perjuangan mewujudkan welfare state. Yang mau tak mau karena ini ranah politik, guru mesti perankan diri jadi negarawan. Kendati bukan pejabat negeri, apa yang dilakukan guru adalah tugas yang harus dilaksanakan para negarawan. Bahkan, M. Natsir pernah menyatakan, “Suatu bangsa tidak akan maju sebelum ada di antara segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.” Sejatinya, guru adalah negarawan tanpa jabatan.

Masa depan pendidikan bangsa musti disiapkan. Pidato Mendikbud dalam memperingati hari guru nasional tahun 2019 memberikan petunjuk untuk menyiapkan guru masa depan. Menariknya, masalah klasik yang kerap mendera para guru disampaikan secara tersurat dalam pidato Mendikbud.

Guru penggerak hanya akan terjadi jika ruang kreativitas dan kemandirian berpikir guru difasilitasi. Realitas yang terjadi malah berkebalikan, kebijakan top down telah berhasil mengekang ruang gerak para guru. Hal ini terkonfirmasi dari kajian Suryadi (2018) tentang masalah fundamental guru di Indonesia, yaitu: 1). Guru berpikir imitatif dalam konteks pengajaran dan pembelajaran; 2). Guru berpikir prosedural-administratif dalam konteks pengembangan kapasitas profesional; 3). Guru saling terisolasi satu dengan yang lainnya dalam konteks pencapaian tujuan pendidikan nasional. Pada situasi ada guru yang hidupnya tak berkecukupan, kemandirian dan kreativitas guru terpasung, gerak guru yang tak serentak pada satu tujuan yang sama, mungkinkah gerakan guru seperti ini mampu membuat Indonesia maju?

Pada dimensi kelaluan, pemerintah harus belajar dari kesilapan membuat guru tak mandiri dalam berpikir dan bersikap. Pada dimensi kekinian, pemerintah harus segera mengubah haluan agar lebih banyak memberikan kesempatan pada guru untuk berpikir, merancang sesuatu, bereksperimen, dan menata diri mereka menjadi sosok guru masa depan.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement