Share

Idul Adha 1443H Berpotensi Beda Hari, Ini Imbauan MUI

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 07 Juni 2022 15:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 07 614 2607175 idul-adha-1443h-berpotensi-beda-hari-ini-imbauan-mui-AWNAHL7otd.jpg Ilustrasi hari raya Idul Adha 1443H berpotensi beda hari. (Foto: Antara)

HARI raya Idul Adha 1443 Hijriah/2022 Masehi dilaporkan berpotensi beda hari. PP Muhammadiyah telah menetapkan 10 Dzulhijjah 1443H atau Idul Adha bertepatan 9 Juli 2022M. Sementara pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan terlebih dahulu menggelar sidang isbat.

Terkait potensi perbedaan hari raya Idul Adha 1443H, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghimbau umat Islam untuk menunggu hasil sidang isbat Kemenag yang akan melibatkan pihaknya dan seluruh ormas Islam.

Baca juga: Hari Raya Idul Adha 1443 H, Muhammadiyah dan Pemerintah Berpotensi Beda Hari 

Ketua MUI Bidang Pendidikan dan Kaderisasi KH Abdullah Jaidi mengatakan potensi terjadinya perbedaan perayaan Idul Adha 1443H disebabkan penentuan 1 Dzulhijjah yang bisa saja terjadi pada tanggal 30 Juni atau 1 Juli 2022M.

Hal tersebut, menurut Kiai Jaidi, juga akan memengaruhi 10 Dzulhijjah untuk merayakan Idul Adha 1443H antara tanggal 9 atau 10 Juli 2022. Ia menjelaskan, proses penentuan hilal menganut Wujudul Hilal dan/atau Rukhiyatul Hilal.

"Ketinggian derajat hilal sepakat ahli hisab kurang lebih 2 derajat. Menurut perhitungan MABIMS itu masih di bawah 3 derajat kemungkinannya bisa dilihat. Tapi walaupun demikian, keharusan untuk melihat rukhiyatul hilal," jelas Kiai Jaidi, Senin 6 Juni 2022, dikutip dari mui.or.id.

Ia menambahkan, penentuan yang dilakukan pada 29 Juni tersebut akan menentukan apakah besoknya sudah 1 Dzulhijjah atau belum. Kiai Jaidi mengatakan, penghitungannya sama, hanya saja ada dua paham yaitu Wujudul Hilal dan Rukhyah.

Dirinya menjelaskan, Wujudul Hilal biasanya digunakan oleh Muhammadiyah. Apabila sudah melihat 0 plus itu sudah wujud. Artinya, esok hari sudah awal bulan.

Sedangkan Rukhyah, kata Kiai Jaidi, masih 0 sekian atau 1 derajat itu hilal sangat tipis dan tidak mungkin bisa dilihat sehingga dikenakan istibal 30 hari.

"Sehingga tanggal 1 Dzulhijjah itu jatuh pada 1 Juli 2022. Nah, dalam hal ini bagaimanapun juga harus dilihat Rukhyatul Hilal, syukur-syukur pada malam 30 Dzulqa'dah bisa terlihat hilal ketinggian 2 derajat sekian. Kalau ternyata ada yang melihat hilal, maka esok harinya tanggal 30 Juni itu sudah menjadi 1 Dzulhijjah," tambahnya.

Baca juga: 10 Panduan MUI Supaya Hewan Kurban Tidak Terpapar Wabah PMK, Yuk Disimak! 

Dia menambahkan, apabila sudah ada yang melihat hilal dan 1 Dzulhijjah jatuh pada 30 Juni 2022M, maka dipastikan perayaan Idul Adha 1443H akan dilaksakan secara bersama.

"Tetapi ternyata tidak kelihatan Rukhiyatul Hilal, maka dikenakan Dzulqa'dah 30 hari. Sehingga, pengumuman pemerintah akan mengatakan bahwa Idul Adha akan jatuh pada tanggal 10 Juli sesuai dengan kalender," ungkapnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Semangat Persatuan Harus Dijaga

Meski ada potensi perbedaan, Kiai Jaidi mengimbau untuk tetap menjaga semangat persatuan dan kebersamaan. Ia menuturkan, Idul Adha merupakan Hari Raya Kurban yang waktunya sampai ahya muntasrik.

"Jadinya masih ada waktu yang luang beberapa hari untuk melaksanakan Idul Adha bersama-sama," terangnya.

Selain itu, Kiai Jaidi juga mengimbau untuk menghormati umat Islam yang sudah mendahului untuk merayakan Idul Adha. Juga sebaliknya, kaum Muslimin yang sudah merayakan hendaknya menghormati mereka yang sedang berpuasa Arafah karena masih menganggap tanggal 9 Dzulhijjah.

"Jadi artinya 9 Dzulhijjah itu hari Arafah (atau) hari Tasua di tanggal 9 Dzulhijjah. Bagi kita yang di luar menunaikan ibadah haji disunahkan untuk berpuasa 9 Dzulhijjah walaupun saudara kita sudah berlebaran haji," kata dia.

Di saat tersebut, Kiai Jaidi sangat menekankan untuk saling menghormati, juga semangat untuk berkurban, semangat setia kawan, saling menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim.

Menurut dia, hal ini menjadi point yang paling penting dalam perayaan Idul Adha. Terlebih lagi persatuan dan kesatuan umat sangat dibutuhkan untuk menghadapi situasi akhir-akhir ini dalam situasi politik yang beraneka ragam, situasi hoaks, atau mendiskreditkan umat Islam.

"Jadi harus menyatukan barisan kita, menyatukan semangat untuk kepentingan agama dan negara. Itu semangatnya yang tidak boleh kendur," pungkasnya.

Wallahu a'lam bisshawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini