Share

Arti Bencana Menurut Ajaran Islam, Berfungsi sebagai Media Introspeksi

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 05 Oktober 2022 07:25 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 04 330 2680741 arti-bencana-menurut-ajaran-islam-berfungsi-sebagai-media-introspeksi-BgJyeC5aEo.jpg Ilustrasi bencana. (Foto: Dok Okezone/Arif Julianto)

MUSIBAH atau bencana adalah bentuk cobaan dari Allah Subhanahu wa ta'ala untuk hamba-hamba-Nya. Tentunya tersimpan hikmah terbaik dari peristiwa itu.

Dikutip dari Muhammadiyah.or.id, dijelaskan bahwa bencana berfungsi sebagai media untuk introspeksi seluruh perbuatan manusia yang mendatangkan peristiwa yang merugikan manusia itu sendiri. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al Hasyr: 18)

BACA JUGA:MUI Sangat Berduka atas Tragedi Kanjuruhan, Doakan yang Terbaik untuk Para Korban 

 

BACA JUGA:Arema FC Sholat Ghaib untuk Korban Tragedi Kanjuruhan, Doakan Husnulkhatimah 

Hal ini dapat dipahami bahwa perbuatan manusia terkadang dilakukan tanpa pertimbangan yang matang. Ketika melakukan sesuatu perbuatan, manusia sering kali tidak memikirkan apakah perbuatan tersebut berdampak negatif pada pihak lain (manusia dan alam) atau tidak.

Dalam konteks inilah apa yang disebut sebagai kesalahan terjadi. Kesalahan dalam hal ini dipahami sebagai sebuah perbuatan manusia yang dilakukan tanpa memperhitungkan aspek-aspek yang lebih luas.

Dengan demikian, kesalahan tidak hanya diartikan sebagai perbuatan dosa dalam konteks teologis, namun kesalahan juga diartikan sebagai dosa sosiologis yakni "kesalahperhitungan" dalam berbuat terhadap manusia lain atau terhadap alam.

Misalnya dalam bergaul dengan masyarakat yang heterogen mesti menunjukkan sikap toleransi yang tinggi. Namun ketika yang ditonjolkan adalah arogansi individual dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang merusak relasi sosial, maka pada saat tertentu perbuatan itu akan menimbulkan bencana sosial. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Akibat kesalahan perhitungan perbuatan manusia dalam menghadapi risiko, maka bencana pasti akan muncul yang berakibat negatif pada kehidupan manusia. Namun demikian, munculnya bencana juga sebenarnya berdampak positif bagi manusia.

Manusia akan lebih banyak perhitungan untuk bersikap kepada manusia lain. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS Al Insyirah: 5–6)

Pemahaman terhadap bencana seperti ini akan melahirkan sikap yang arif dan bijaksana dalam menjalin hubungan dengan manusia lain ataupun alam. Dengan kata lain, bencana yang telah terjadi merupakan media untuk instrospeksi atas seluruh perbuatan yang telah dilakukan.

Introspeksi di sini merupakan kegiatan aktif dengan memperhitungkan segala sesuatu sebelum melakukan perbuatan. Wallahu a'lam bisshawab.

*Dikutip dari buku Fikih Kebencanaan yang disusun Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini