Share

Kerap Disepelekan, 5 Perkara Ini Jadi Penyebab Siksa Kubur

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 09 November 2022 11:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 09 330 2703791 kerap-disepelekan-5-perkara-ini-jadi-penyebab-siksa-kubur-7pp2cJoxPJ.jpg Ilustrasi perkara penyebab siksa kubur. (Foto: Okezone/Dede Kurniawan)

PEDIHNYA siksa kubur tidak bisa dibayangkan. Mereka yang berbuat dosa dan tidak sempat bertobat sebelum meninggal dunia, maka akan diberikan hukuman sesuai dengan pelanggaran apa yang telah diperbuat.

Ada perkara-perkara yang bisa menjadi penyebab seseorang bisa mendapat siksa kubur. Di mana perbuatan-perbuatan ini kerap dianggap sepele, sehingga sadar atau tidak malah diabaikan dan jadi kebiasaan.

Lantas, apa saja perkara yang bisa menyebabkan siksa kubur? Berikut ini lima di antaranya, seperti telah Okezone himpun.

BACA JUGA:Jadwal Sholat Hari Ini Rabu 9 November 2022M/14 Rabiul Akhir 1444H 

1. Meninggalkan sholat

Sholat lima waktu adalah tiangnya agama dan setiap muslim wajib melaksanakannya. Namun sayangnya sebagian, masih saja ada yang menyepelekannya, bahkan sampai meninggalkannya tanpa di-qadha atau ganti di waktu berikutnya.

Nah, tahukah Anda bahwa menyepelekan sholat ini menjadi ancaman adanya siksa kubur. Bahkan jika sengaja meninggalkannya akan dianggap kafir. Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda:

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Artinya: "Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah sholat. Barang siapa meninggalkannya maka dia telah kafir." (HR Ahmad, Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah)

BACA JUGA:Viral TNI hingga Polwan Lindungi Wanita Masbuk Sholat, Netizen: Allah Akan Memuliakan di Akhirat Kelak 

2. Syirik

Selanjutnya adalah syirik yang menjadi salah satu penyebab seseorang terancam siksa kubur. Bahkan Allah Subhanahu wa ta'ala melaknat dan tidak mengampuni hamba-Nya yang berbuat syirik atau mempercayai sesuatu selain Allah Ta'ala.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surat An-Nisa Ayat 48:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS An-Nisa: 48)

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surat Al Maidah Ayat 72 yaitu:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Artinya: "Sesungguhnya orang yang berbuat syirik terhadap Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun." (QS Al Maidah: 72) 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Follow Berita Okezone di Google News

3. Munafik

Orang yang munafik juga diancam akan menerima siksaan kubur. Allah Subhanahu wa ta'ala dan Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam pun tidak menyukai apabila ada seorang Muslim yang memiliki sifat tersebut.

Nabi bersabda, "Tanda-tanda orang munafik ada tiga: Jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanah mengkhianati." (HR Bukhari dan Muslim)

Kemudian ancaman siksa kubur serta masuk neraka jahanam bagi orang munafik, dijelaskan dalam Surat At-Taubah Ayat 67, Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

اَلۡمُنٰفِقُوۡنَ وَالۡمُنٰفِقٰتُ بَعۡضُهُمۡ مِّنۡۢ بَعۡضٍۘ يَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمُنۡكَرِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمَعۡرُوۡفِ وَيَقۡبِضُوۡنَ اَيۡدِيَهُمۡؕ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمۡؕ اِنَّ الۡمُنٰفِقِيۡنَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ

Artinya: "Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik."

4. Sembarang buang air kecil dan adu domba

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَينِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ. فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَا فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Artinya: "Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda, 'Sesungguhnya, keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia'." 

5. Ghibah dan namimah 

Ghibah (menggunjing) merupakan salah satu perbuatan yang dapat melemahkan persatuan dan hubungan sosial, menghancurkan moral sosial, menghilangkan rasa saling percaya dan dapat menjadi bibit yang meruntuhkan kerja sama dan sikap saling tolong menolong. Ghibah dapat menghapus amal perbuatan seseorang.

Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda:

"Tahukah kalian apa itu ghibah?" Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian beliau shallahu’alaihi wasallam bersabda, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Kemudian ada yang bertanya, “Bagaimana menurutmu jika sesuatu yang aku sebutkan tersebut nyata-nyata apa pada saudaraku?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika memang apa yang engkau ceritakan tersebut ada pada dirinya itulah yang namanya ghibah, namun jika tidak berarti engkau telah berdusta atas namanya." (HR Muslim)

Kemudian Allah Subhanahu wa ta'ala akan menghinakan dan menyingkap tabir aib orang yang meng-ghibah, di dunia maupun di akhirat. Tidak hanya itu, ghibah merupakan perbuatan yang dapat menghapus amalan.

Amalan baik pelaku ghibah akan berpindah kepada orang yang dia ghibah, sedangkan dosa-dosa korban ghibah-nya akan berpindah kepadanya (peng-ghibah).

Imam Nawawi berkata di dalam Al-Adzkar: "Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai mengghibah (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu, kalau dia tidak takut kepada mudharat yang jelas. Dan jika dia takut kepada orang itu, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika hal itu memungkinkan.

Wallahu a'lam bisshawab

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini