Share

Dana Zakat Dialihkan untuk Membantu Korban Bencana Alam, Bagaimana Hukumnya?

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 30 November 2022 16:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 30 330 2717835 dana-zakat-dialihkan-untuk-membantu-korban-bencana-alam-bagaimana-hukumnya-QoUUFVnd8F.jpg Ilustrasi hukum dana zakat dialihkan untuk korban bencana alam. (Foto: Shutterstock)

APAKAH dana zakat boleh dialihkan untuk membantu korban bencana alam? Pasalnya, seperti sama-sama diketahui, bencana alam beberapa waktu belakangan banyak terjadi, termasuk di Indonesia. Tentunya membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk menanganinya. Lantas, apakah boleh menggunakan dana zakat.

Dikutip dari Muhammadiyah.or.id, perlu dibedakan terlebih dahulu antara penyaluran dana infak dan sedekah dengan dana zakat untuk korban bencana alam. Mengenai dana infak dan sedekah yang disalurkan untuk korban bencana, tentunya tidak ada persoalan, karena memang tidak ada dalil spesifik yang menentukan orang-orang atau golongan yang berhak menerimanya.

BACA JUGA:9 Istilah Bencana Menurut Islam, Ada Musibah hingga Iqab 

 

Lalu begaimana dengan dana zakat yang secara spesifik telah ditentukan penerimanya yaitu fakir, miskin, amil, mualaf, memerdekakan hamba sahaya, membebaskan orang yang berutang, mereka yang di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan orang yang sedang dalam perjalanan.

Hal tersebut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS At-Taubah (9): 60)

BACA JUGA:Ini Cara Memperlakukan Jenazah Korban Bencana Alam Menurut Ajaran Islam 

Ayat tersebut memang tidak secara spesifik menyebutkan korban bencana alam sebagai salah satu yang berhak menerima dana zakat. Namun demikian, melihat kondisi yang sedang dialami oleh korban bencana, tidak menutup kemungkinan mereka mendapatkan bagian dari dana zakat dengan menganalogikannya sebagai golongan fakir dan miskin. Adapun pertimbangannya adalah:

Pertama, korban bencana berada dalam kondisi sangat membutuhkan, sebagaimana pengertian fakir dan miskin menurut jumhur ulama adalah orang-orang yang dalam kondisi kekurangan dan membutuhkan. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Follow Berita Okezone di Google News

Kedua, orang yang dalam kondisi kekurangan dan membutuhkan ini diperbolehkan untuk meminta-minta, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu alaihi wassallam:

"Diriwayatkan dari Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Said, keduanya menceritakan dari Hammad bin Zaid. Yahya berkata: Hammad bin Zaid menceritakan pada kami dari Harun bin Riyab, Kinanah bin Nu’aim al-‘Adawiy dari Qobishah bin Muhariq al-Hilaly, ia berkata: Aku membawa beban berat, lalu mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam, lalu aku bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wassallam tentangnya. Beliau menjawab: 'Tinggallah kamu sampai sedekah datang, lalu kami memberikannya padamu.'

Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda: 'Ya Qabishah, sesungguhnya tidak boleh meminta-minta kecuali untuk tiga orang; seseorang yang membawa beban berat, maka halal baginya meminta-minta sampai memperolehnya kemudian menghentikannya; seseorang yang tertimpa bencana yang menghancurkan hartanya, halal baginya meminta-minta sampai mendapat makanan untuk hidup dan tegak kembali; dan seseorang yang tertimpa kemiskinan sehingga tiga orang dari kaumnya membenarkan bahwa dia tertimpa kemiskinan, maka halal baginya meminta-minta sampai mendapat makanan untuk hidup dan tegak kembali. Adapun meminta-minta di luar itu haram ya Qabishah, makan dari hasilnya pun haram'." (HR Muslim)

Dari keterangan tersebut kiranya sudah dapat dipahami bahwa penyaluran dana zakat untuk korban bencana dibolehkan dengan ketentuan diambilkan dari bagian fakir miskin, atau boleh juga dari bagian orang yang berutang (gharimin), karena dimungkinkan untuk memenuhi kebutuhannya, korban bencana harus berutang. Dengan demikian bagian mustahiq yang lain tidak terabaikan, karena dapat disalurkan secara bersama-sama.

Wallahu a'lam bisshawab

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini