2. Pesantren Itu Tidak Up to Date
Pembatasan pesantren terhadap akses informasi dan komunikasi secara bebas menjadikan citra pesantren seakan-akan kudet (kurang update). Padahal, tingginya arus informasi di era saat ini menjadikan besarnya peluang adanya kabut-kabut informasi yang justru menyesatkan generasi muda kita saat ini.
Informasi penting terkait krisis ekonomi global justru malah luput diketahui para generasi muda karena tenggelam dengan informasi tak penting lainnya.
Oleh karena itu Pondok Pesantren Modern Al Umanaa memfasilitasi santri dengan koran, siaran radio internal terkait pembahasan isu terkini, serta koleksi buku-buku berkualitas untuk meningkatkan wawasan santri.
Santri pun dipenuhi dengan informasi isu terkini melalui studi kasus dalam pembelajaran di kelas, maupun dalam pengarahan rutin santri pada khutbah, tausiyah, dan sejenisnya.
3. Pesantren Itu Kuno, Gagap Teknologi (Gaptek)
Pesantren seringkali diidentikan dengan metode pendidikan yang konservatif (kuno), salah satunya dilihat dari fasilitas dan mata pelajaran yang ada. Ketika pesantren tidak tampak memiliki fasilitas canggih, mata pelajaran seputar programming, serta pembatasan penggunaan gawai dan internet, seakan-akan santri akan tumbuh menjadi pribadi yang gagap teknologi.
Pada kenyataannya, Pondok Pesantren Modern Al Umanaa mengajarkan santri untuk memanfaatkan berbagai kecanggihan teknologi saat ini dengan bijak dan bermanfaat, seperti penggunaan e-money dalam berbelanja di dalam pondok, bahkan sistem poin kedisiplinan, kebersihan, dan berbagai sistem lainnya sudah terdigitalisasi.
Santri pun dibekali berbagai keterampilan agar mampu menjawab tantangan di zamannya nanti seperti kemampuan problem solving, creativity, critical thinking, collaboration, communication, dan lainnya. Selain itu, Pondok Pesantren Modern Al Umanaa juga memiliki tenaga pengajar yang mumpuni dalam bidang teknologi, seperti Institut Teknologi Bandung.