4. Memaksimalkan apa yang dimiliki
Terlepas dari semua tanggung jawab yang dimiliki Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam sebagai seorang pemimpin, guru, dan hakim; beliau memanfaatkan sedikit harta yang dimilikinya, dan biasa memerah susu kambingnya, menambal pakaiannya, memperbaiki sepatunya, dan membantu pekerjaan rumah tangga. (Lihat kitab Musnad Ahmad, hadits nomor 23606 dan dinyatakan shahih oleh Syekh Albani dalam Shahih Al Jaami’, hadits nomor 4937)
5. Jika tidak membutuhkan sesuatu, langsung sedekahkan
Sebagian besar dari umat manusia tahu apa dan berapa banyak yang "dibutuhkan" untuk menjalani kehidupan yang nyaman. Segala sesuatu di luar itu hanya menjadi "barang" yang dimiliki. Umat manusia juga tahu perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Namun seringkali ketika melihat sesuatu yang disukai, manusia berkata pada diri sendiri akan menyimpannya tanpa bertanya apakah benar-benar membutuhkannya, dan jika tidak, harus benar-benar menyumbangkannya atau memberikannya sebagai hadiah.
Ibunda Aisyah radhiyallahu anha bersedekah 70 ribu dirham, sementara roknya sendiri dulu ditambal.
6. Jangan terganggu kesenangan singkat
Gaya hidup mewah yang didambakan banyak orang hanyalah kesenangan singkat. Konsumerisme menjadi berlebihan ketika melampaui apa yang dibutuhkan.
Hal yang tersisa hanyalah keinginan menginginkan lebih, karena ketika mulai mengonsumsi lebih dari yang dibutuhkan, batasan mulai dihilangkan. Dalam prosesnya, perlahan-lahan mulai kehilangan waktu, uang, tenaga, demi mengejar kesenangan singkat.
"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan kesenangan. Namun jauh lebih baik rumah di akhirat bagi mereka yang Al-Muttaqun (orang bertakwa). Maka apakah kamu tidak akan mengerti?" (QS Al An'aam: 32)
7. Didorong dan fokus
Fokus pada apa yang memberi semangat, apa yang membuat bahagia, dan apa yang benar-benar penting. Tidak perlu dihantui target demi harta benda, tetapi untuk difokuskan pada akhirat.
Rumah tangga Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam hidup berkecukupan, namun menjalaninya dengan sederhana. Rasulullah meninggal hanya dengan beberapa harta karena lebih suka membangun rumahnya di akhirat daripada di dunia.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam menginvestasikan waktunya untuk melakukan perbuatan baik, membantu orang lain, dan menyebarkan serta mengajarkan risalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Wallahu a'lam bisshawab.
(Hantoro)