ZAKAT fitrah termasuk perintah bagi setiap Muslim. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhu.
"Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam mewajibkan zakat fitrah 1 sha’ kurma atau 1 sha’ gandum atas umat Muslim; baik hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar. Beliau Shallallahu alaihi wassallam memerintahkannya dilaksanakan sebelum orang-orang keluar untuk sholat." (HR Bukhari Muslim).
BACA JUGA:
Zakat fitrah untuk menyucikan diri setelah menunaikan ibadah di bulan Ramadhan. Selain itu, juga dimaknai sebagai bentuk kepedulian kepada orang yang kurang mampu.
Namun apakah boleh zakat fitrah satu keluarga diberikan seluruhnya hanya kepada satu orang penerima zakat atau mistahiq?

Dikutip dari Nu Online, Selasa (18/4/2023), menurut mazhab Syafi’i, zakat fitrah untuk setiap jiwa harus diberikan secara merata kepada seluruh golongan mustahiq zakat di daerah setempat. Standar minimal rata adalah membagikan zakat kepada tiga orang di setiap golongan mustahiq zakat yang berjumlah delapan.
Semisal ada dua kelompok mustahiq zakat di daerah setempat, faqir dan gharim maka zakat fitrah wajib dibagi kepada enam orang, dengan perincian tiga orang dari golongan faqir, tiga orang dari golongan gharim.
BACA JUGA:
Jika hal tersebut tidak diterapkan, maka wajib mengganti rugi kepada mustahiq zakat yang tidak diberi, berupa harta paling minimal yang bisa dihargai (aqallu mutamawwal). Sebagian pendapat menyebut ganti ruginya adalah nominal harta yang sebanding dengan sepertiga zakat yang ditunaikan.
Pengecualian berlaku untuk mustahiq berupa ‘amil (panitia zakat), boleh memberikan zakat kepada satu orang saja dari golongan ‘amil. Aturan ini berlandaskan kepada ayat mengenai mustahiq zakat yang disampaikan dalam bentuk plural (jama’), al-fuqara’, al-masakin, dan seterusnya.
Hal ini tercantum dalam gramatikal Arab yang ditulis oleh Syekh Ibnu Qasim al-Ghuzzi, yang menyebutkan
(ولا يقتصر) في إعطاء الزكاة (على أقل من ثلاثة من كل صنف) من الأصناف الثمانية (إلا العامل)؛ فإنه يجوز أن يكون واحدا إن حصلت به الحاجة فإن صرف لاثنين من كل صنف غرم للثالث أقل متمول. وقيل يغرم له الثلث.
“Dan tidak boleh meringkas dalam memberi zakat atas jumlah yang kurang dari tiga orang dari setiap golongan mustahiq zakat yang ada delapan, kecuali ‘amil, maka boleh diberikan hanya kepada satu orang jika dengan satu orang tersebut terpenuhi kebutuhan. Maka jika zakat diberikan kepada dua orang dari setiap golongan, wajib mengganti rugi kepada orang ketiga berupa minimal harta yang bisa dihargai. Sebagian pendapat mengatakan ganti ruginya adalah sepertiga.” (Syekh Ibnu Qasim al-Ghuzzi, Fath al-Qarib Hamisy Qut al-Habib al-Gharib, hal. 213).
Ini yang menjadi landasan bahwa zakat fitrha tidak boleh diberikan kepada satu orang mustahiq saja.
Sementara itu, menurut pendapat Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad bin Hanbal, segal bentuk jenis zakat, termasuk zakat fitrah, boleh diberikan kepada satu orang mustahiq dan tidak wajib diratakan kepada seluruh kelompok penerima (ashnaf).
Syekh Abu Bakr bin Syatho mengatakan:
و0قال ابن حجر في شرح العباب قال الأئمة الثلاثة وكثيرون يجوز صرفها إلى شخص واحد من الأصناف. قال ابن عجيل اليمني ثلاث مسائل في الزكاة يفتى فيها على خلاف المذهب، نقل الزكاة، ودفع زكاة واحد إلى واحد، ودفعها إلى صنف واحد.
“Syekh Ibnu Hajar berkata dalam Syarh al-‘Ubab, berkata tiga imam dan banyak ulama (Syafi’iyah), boleh memberikan zakat kepada satu orang dari beberapa ashnaf. Ibnu ‘Ujail al-Yamani berkata, tiga permasalahan zakat yang difatwakan berbeda dengan pendapat al-Madzhab, kebolehan memindah zakat, kebolehan memberi zakatnya satu jiwa kepada satu orang, dan kebolehan memberi zakat kepada satu golongan.” (Syekh Abu Bakr bin Syatho, I’anah al-Thalibin, juz.2, hal. 212).
Dari kedua pendapat di atas, terlihat bahwa persoalan zakat fitrah boleh diberikan kepada satu orang atau tidak, masih menjadi perdebatan. Oleh karena itu, NU Online menyimpulkan, masing-masing dari dua pendapat tersebut boleh saja untuk diikuti.
Waallahua'lam.
(Vivin Lizetha)