Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tim Kesehatan Mulai Identifikasi Daftar Jamaah Safari Wukuf Jelang Puncak Haji 2023

Maruf El Rumi , Jurnalis-Kamis, 22 Juni 2023 |14:21 WIB
Tim Kesehatan Mulai Identifikasi Daftar Jamaah Safari Wukuf Jelang Puncak Haji 2023
Tim Kesehatan Mulai Identifikasi Daftar Jamaah Haji Safari Wukuf (Foto: MCH 2023)
A
A
A

MAKKAH - Sejauh ini masih ada 278 jamaah haji Indonesia menjalani perawatan yang tersebar di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan Rumah Sakit Arab Saudi.

Pasien tersebut tersebar di tiga wilayah, Makkah, Madinah dan Jeddah. Dengan jumlah pasien terbanyak berada di Makkah dengan 260 orang dan 15 pasien dirawat di Madinah, sisanya Jeddah.

Dari daftar tersebut, tim kesehatan haji Indonesia telah melakukan identifikasi atau klasifikasi tipe pasien menjelang pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna).

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Liliek Marhaendro Susilo mengatakan, ada tiga klasifikasi pasien saat pelaksanaan puncak haji pada 9 Dzulhijjah 1444 H bertepatan 27 Juni 2023.

Identifikasi tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu pasien yang disarankan mengikuti safari wukuf, badal haji dan diikutkan dengan jamaah lainnya berdsarkan hasil pemantauan rutin di kloter dan MCU.

"Nominasi safari wukuf dari tiap sektor akan dilakukan seleksi pemeriksaan dokter spesialis melalui poli safari wukuf di KKHI Makkah," kata Liliek kepada Media Center Haji (MCH), Kamis (22/6/2023)

Dikatakan Liliek, tim kesehatan tidak lelah selalu mengimbau jamaah haji yang sudah tidak mampu lagi bergerak ke Arafah dan Mina untuk dibadalkan ibadahnya. Menurut Liliek, jamaah yang dirawat di RSAS nanti badal haji atau safari wukuf akan ditangani pemerintah Arab Saudi. Sedangkan jamaah haji sakit di KKHI Makkah jika memungkinkan diikutkan safari wukuf, bagi yang tidak memungkinkan akan dibadalkan.

Lebih lanjut Liliek menyampaikan bahwa, tim promosi kesehatan juga menggencarkan edukasi kepada jamaah haji agar jamaah haji mengurangi aktifitas di luar penginapan menjelang Armuzna.

Jamaah haji diimbau untuk mewaspadai cuaca panas yang ekstrem. Dalam edukasi kepada jamaah ini, tim promosi kesehatan bekerjasama dengan tim bimbingan ibadah, ketua sektor, ketua kloter, hingga ketua regu.

Terkait kesiapan di Armuzna, tim kesehatan akan mendirikan beberapa pos kesehatan di Arafah, Muzdalifah dan Mina. Harapannya dapat mendekatkan akses jemaah haji kepada pelayanan kesehatan. Di Arafah akan didirikan satu pos kesehatan utama dan 6 Poskes satelit. Poskes ini dioperasikan tim kesehatan daerah kerja bandara dan dibantu oleh Emergency Medical Team (EMT) dan Tim Promosi Kesehatan.

Poskes utama di Arafah tersedia sekitar 30 bed perawatan dan didalamnya juga terdapat fasilitas pemulihan jika terjadi heatstroke. Selain itu juga dibuat 5 pos satelit yang ditempatkan menyebar di dekat tenda-tenda jamaah.

“Pos kesehatan satelit ini lebih ke penanganan pertama dan sifatnya sementara. Jika membutuhkan perawatan kesehatan lebih lanjut, maka dapat dikirim ke poskes utama arafah, KKHI Makkah, dan/atau Rumah Sakit Arab Saudi,” tambah Liliek.

Di Muzdalifah, didirikan pos kesehatan sebanyak 11 unit yang dioperasikan oleh tim kesehatan dari KKHI Makkah. Operasional puskes ini hanya semalam dan diharapkan tim kesehatan Makkah dapat segera kembali ke KKHI Makkah. Tim ini disiagakan untuk menangani kasus rujukan dari poskes Mina.

Setelah bermalam di Muzdalifah, jamaah haji akan bergerak ke Mina dan tinggal selama 3 hari untuk melakukan lempar jumrah. Di Mina, didirikan pos kesehatan utama yang dioperasionalkan oleh tenaga kesehatan KKHI Madinah. Sedikit berbeda dengan tahun lalu, selain poskes utama Mina akan disiagakan gabungan tim EMT, tim Pertolongan Pertama pada Jamaah Haji (P3JH), tim perlindungan jemaah (linjam), dan petugas sektor di sepanjang jalur menuju jamarat.

Gabungan 4 unsur ini akan dibagi menjadi beberapa tim yang akan melakukan pelayanan kesehatan bergerak dari pos ke pos di jalur atas dan bawah. Tim gabungan ini akan melakukan skrining dan pengamatan kesehatan jemaah yang berlalulalang sehingga bisa memberikan bantuan kesehatan bagi jemaah haji yang membutuhkan.

“Titik kritis adalah saat prosesi di Mina, oleh karenanya dibuat tim gabungan dari EMT, P3JH, Linjam dan petugas sektor. Saat ini tidak ada lagi pembedaan tugas antara Kemenkes dan Kemenag. Semua melebur untuk memberikan pelayanan kepada jamaah haji.” jelasnya.

(Dani Jumadil Akhir)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement