JAKARTA - Isra Mi'raj adalah peristiwa luar biasa dalam sejarah Islam ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan spiritual dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra), kemudian naik ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh (Mi'raj) dalam waktu satu malam. Peristiwa bersejarah ini terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-10 kenabian Nabi, atau sekitar tahun 620-621 Masehi, sebagai bukti nyata kekuasaan Allah SWT dan merupakan momen penting ketika shalat lima waktu diwajibkan bagi umat Islam.
Peristiwa Isra Mi'raj terjadi pada periode akhir dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah, sebelum beliau hijrah ke Madinah. Peristiwa ini dinilai sebagai penghiburan bagi Nabi Muhammad SAW yang baru saja kehilangan dua orang tercintanya: paman beliau, Abu Talib, dan istri beliau, Khadijah binti Khuwailid, yang meninggal dalam kurun waktu berdekatan. Pada saat itu, Nabi juga menghadapi penindasan yang semakin gencar dari kaum Quraisy atas dakwah Islam.
Malam yang penuh keajaiban ini dimulai ketika Nabi Muhammad SAW sedang beristirahat di kamarnya dekat Ka'bah di Masjidil Haram. Tiba-tiba, Malaikat Jibril datang membawa hewan bernama Buraq, seekor makhluk istimewa yang diciptakan Allah khusus untuk perjalanan nabi. Buraq adalah hewan putih bersinar yang lebih tinggi dari keledai namun lebih rendah dari bagal, dengan kecepatan luar biasa hingga setiap langkahnya sejauh pandangan mata. Nama Buraq berasal dari kata "barq" (kilat) dalam bahasa Arab, menggambarkan kecepatannya yang melebihi kilat.
Sebelum perjalanan dimulai, Jibril membelah dada Nabi Muhammad SAW dan membersihkan hati beliau menggunakan air zam-zam yang ditempatkan dalam bejana emas berisi keimanan. Tindakan penyucian ini dilakukan untuk mempersiapkan beliau sebelum menyaksikan keajaiban-keajaiban Allah yang luar biasa.
Setelah Nabi naik ke atas Buraq, perjalanan dimulai menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem (Baitul Maqdis), Palestina. Dalam perjalanan ini, terjadi insiden menarik ketika Nabi dikejar oleh seorang jin bernama Ifrit yang membawa api yang menyala-nyala. Namun, Jibril mengajarkan kepada Nabi beberapa kalimat suci yang, jika dibacanya, akan membuat jin tersebut jatuh dan apinya mati.
Setelah mencapai Masjidil Aqsa, Nabi mengikat Buraq di sebelah barat masjid pada batu yang ditunjukkan Jibril dengan tangannya. Tempat ini kemudian dikenal sebagai "Tembok Buraq" dan menjadi saksi sejarah nyata dari peristiwa luar biasa ini. Di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW melakukan shalat dua rakaat, kemudian Jibril menghadirkan para nabi terdahulu dan meminta Nabi Muhammad untuk menjadi imam mereka dalam shalat berjamaah. Peristiwa ini menunjukkan keutamaan dan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW di antara para nabi utusan Allah.
Setelah menyelesaikan shalat di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad naik kembali ke atas Buraq dan melanjutkan perjalanan menuju langit. Dalam perjalanan ke langit ini, Nabi melewati tujuh lapisan langit dan di setiap lapisan bertemu dengan para nabi yang mulia: Nabi Adam di langit pertama, Nabi Isa dan Nabi Yahya di langit kedua, Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris di langit keempat, Nabi Harun di langit kelima, Nabi Musa di langit keenam, dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh.
Perjalanan mencapai puncaknya ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Sidratul Muntaha, batas terakhir alam semesta yang merupakan tujuan akhir dari semua ketentuan langit dan bumi. Di tempat ini, Allah SWT menghadirkan Nabi Muhammad ke hadapan-Nya secara langsung, tanpa perantara malaikat seperti halnya para nabi lainnya, sebagai bukti kekhususan dan kemuliaan beliau.
Peristiwa luar biasa ini diabadikan langsung dalam Al-Quran Surah Al-Isra Ayat 1:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيَاتِنَا
Subhana alladhi asra bi'abdihi laylan minal masjidil harami ilal masjidil aqsa alladi barakna hawlahu linuriahu min ayatina
Artinya: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami."
Ayat ini menegaskan bahwa Isra merupakan perjalanan nyata yang terjadi dengan jasad dan ruh Nabi Muhammad SAW, bukan sekadar mimpi atau imajinasi.
Peristiwa Isra mi'raj memiliki sejumlah keutamaan dalam Islam.
(Rahman Asmardika)