Pemulihan layanan keagamaan dilakukan melalui kolaborasi Kemenag dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), lembaga amil zakat (LAZ), unsur masyarakat, serta perguruan tinggi. Kolaborasi ini memungkinkan intervensi yang cepat dan berkelanjutan, mulai dari penyediaan dapur umum, air bersih, MCK darurat, hingga sarana ibadah.
Di Pidie Jaya, Kementerian Agama meninjau posko BAZNAS yang menyediakan air bersih dan MCK darurat, serta meunasah yang terdampak banjir. Di lokasi lain, Kemenag bersama LAZ ASAR mendukung dapur umum yang melayani ratusan kepala keluarga, kegiatan gotong royong warga, serta pembersihan masjid dengan dukungan alat berat. Bantuan alat salat, Al-Qur’an, mukena, dan sarung juga disalurkan sesuai kebutuhan lapangan.
Pada sektor pendidikan keagamaan, Abu memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung. Peninjauan dilakukan di MIN 4 Pidie Jaya yang telah direnovasi oleh LAZ, termasuk dukungan penyediaan madrasah sementara agar aktivitas pendidikan tidak terhenti. “Madrasah harus tetap menjadi ruang aman dan harapan bagi anak-anak,” katanya.
Sementara itu, di Kabupaten Bireuen, Kemenag meninjau dapur umum yang melayani puluhan hingga ratusan keluarga, penyaluran beras, serta penyediaan air bersih melalui sumur bor. Abu menilai masjid dan meunasah berperan strategis sebagai simpul layanan sosial-keagamaan sekaligus pusat pemulihan psikososial masyarakat.