Hingga pada 2001, di usianya yang menginjak 27 tahun, Susanti mantap mengikrarkan diri memeluk Islam. Ia mengaku, proses belajar secara rasional semakin memperkuat keyakinannya.
“Saya juga berpikir, oh iya ya, memang kalau secara logika Tuhan itu kan enggak berbentuk. Tuhan itu enggak bisa dilihat. Terus saya pelajari sampai sekarang ini,” tuturnya.
Di balik keputusan besarnya itu, Susanti sebenarnya telah melewati badai ujian hidup. Sejak usia 14 tahun, glaukoma menggerogoti fungsi penglihatannya secara bertahap hingga ia mengalami disabilitas netra.
Ia menceritakan bahwa kehilangan penglihatan yang dialaminya tidak terjadi secara mendadak, melainkan proses perlahan yang membutuhkan ketabahan ekstra.
“Kalau glaukoma itu berangsur-angsur, enggak langsung. Cuma dia setahap demi setahap gitu, mundur, mundur, mundur sampai lama-lama (buta),” jelasnya.
Namun, redupnya penglihatan tak lantas memadamkan dahaganya akan ilmu. Susanti terus mencari jalan agar tetap bisa membaca dan memahami ajaran agama yang dicintainya, salah satunya melalui media huruf Braille dengan pendampingan rekan-rekan yang mahir, serta memanfaatkan materi audio.
“Kadang-kadang saya pakai huruf Braille, dengan cara saya membaca dibimbing oleh teman-teman yang mengerti,” ungkapnya.
Tidak berhenti pada pembelajaran mandiri, Susanti aktif membuka diri pada ruang-ruang bertumbuh. Ia rajin mengikuti berbagai forum keislaman, seperti daurah di Firdaus hingga kegiatan di Dewan Dakwah Bekasi yang dikhususkan bagi penyandang disabilitas.