Dikutip dari buku Dosa-Dosa Besar karya Mutawalli Sya'rawi, syirik merupakan dosa paling besar dalam Islam. Mempercayai ramalan sama saja dengan menduakan Allah SWT dan menyerahkan takdir kepada selain-Nya. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 116:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya."
Anggapan bahwa ramalan kadang-kadang terbukti benar sejatinya hanyalah bentuk talbis (penyesatan atau pemalsuan). Para peramal umumnya menggunakan kalimat yang bersifat umum dan multitafsir agar mudah dicocokkan saat suatu peristiwa terjadi.
Selain itu, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kebenaran yang sesekali keluar dari mulut peramal merupakan bisikan kabar dari langit yang dicuri oleh jin, lalu dicampur dengan ratusan kebohongan. Oleh karena itu, ramalan tetap tidak memiliki landasan kebenaran hakiki.
Islam mengajarkan umatnya untuk menghadapi masa depan dengan ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah SWT. Segala ketentuan rezeki, jodoh, musibah, hingga ajal berada penuh di tangan Allah SWT. Wallahu a'lam.
(Rahman Asmardika)