PERLIS - Persidangan Majlis Ilmuwan Nusantara (MIN) Kali Ke-4 Tahun 2026 yang berlangsung pada 14–15 Oktober 2026 di Perlis, Malaysia, resmi menyepakati 14 resolusi strategis mengenai pengembangan pemikiran fiqih Islam. Mengusung tema “Keluasan Fiqah dalam Menangani Cabaran Semasa”, forum ini menegaskan pentingnya fiqih yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, berakar pada khazanah ulama, serta responsif terhadap dinamika masyarakat Nusantara.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Perlis (MAIPs) bersama Jabatan Mufti Negeri Perlis ini dibuka oleh Raja Muda Perlis, Duli Yang Teramat Mulia Tuanku Syed Faizuddin Putera Tuanku Syed Sirajuddin Jamalullail. Dipimpin oleh Mufti Negeri Perlis, Dato’ Arif Perkasa Prof. Dr. Mohammad Asri Zainul Abidin (MAZA), persidangan ini menghadirkan delegasi ulama dan akademisi dari Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand, Vietnam, Kamboja, hingga Timor-Leste.
Penyelenggaraan persidangan ini menjadi ruang pertemuan ilmiah bagi para ulama dan cendekiawan Muslim untuk mendiskusikan tantangan keagamaan dan kemasyarakatan di kawasan Nusantara, sekaligus memperkuat pertukaran pemikiran lintas negara dalam merespons perkembangan zaman.
Delegasi Indonesia diwakili oleh sejumlah tokoh kunci, di antaranya Prof. Dr. Syamsul Anwar (Ketua PP Muhammadiyah), Dr. Saidul Amin (Rektor UMAM), KH. Fahmi Salim (Al-Fahmu Institute), Dr. Nashirul Haq (DPP Hidayatullah), Dr. Rahmat Abdurrahman (DPP Wahdah Islamiyah), dan KH. Nidlol Masyhud (Ihkam Center). Kehadiran delegasi lintas negara ini memperkaya perspektif kajian hukum Islam, khususnya dalam merespons realitas Muslim minoritas di kawasan Asia Tenggara.
Salah satu penegasan mendasar dalam resolusi persidangan adalah bahwa syariat Islam diturunkan untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Syariat bukan dimaksudkan untuk menciptakan kesulitan, melainkan membimbing manusia menuju kebaikan dan mencegah kemudaratan di dunia maupun akhirat.
Prinsip ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Atas dasar tersebut, fiqih Islam perlu dipahami sebagai disiplin keilmuan yang memiliki keluasan dan kemampuan merespons perubahan, tanpa meninggalkan landasan Al-Qur’an, Sunnah, serta metodologi istinbat hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.