Tradisi Gentong Haji

Ibnu Saechu, Jurnalis
Jum'at 19 November 2010 01:37 WIB
(Foto: Ibnu: Koran SI)
Share :

ADA tradisi unik yang dilakukan keluarga jamaah haji asal Cirebon, Jawa Barat. Yakni meletakkan gentong berisi air minum di depan rumah anggota keluarga yang berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Tradisi gentong haji berlangsung turun temurun dan masih dilakukan di sejumlah tempat seperti di Kecamatan Plered, Weru, Gunungjati, Suranenggala, dan Kapetakan. Jika ada gentong berisi air minum lengkap dengan gayung dan gelas atau cangkir diletakkan di depan rumah warga setempat, dipastikan ada penghuni rumah tersebut yang berangkat haji.

Pemandangan tersebut bisa dilihat di depan rumah sejumlah warga yang saat ini tengah menunaikan ibadah haji, seperti di depan rumah Putiah, warga RT 02 RW 01, Desa Weru Kidul Kecamatan Weru. Gentong berisi air minum sudah disediakan sejak tuan rumah meninggalkan rumah untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

Solihah, kakak Putiah yang sementara menempati rumah setiap hari menyiapkan air yang sudah terlebih dahulu dimasak untuk warga yang lewat di gang persis di depan rumahnya.

"Air minum dalam gentong di depan rumah sengaja kami sediakan untuk warga sebagai sedekah, mudah-mudahan adik kami yang saat ini sedang naik haji mendapatkan barokah dan selalu dalam lindungan Allah," ujar Solihah.

Menurut Solihah, warga setempat meyakini, jika gentong haji dapat memberikan dampak positif kepada anggota keluarga yang tengah menunaikan ibadah haji. "Katanya sih biar keluarga kami yang berada di Tanah Suci yang tandus merasa adem seperti air di dalam gentong," ujar Solihah.

Warga lainnya yang menyiapkan gentong berisi air minum adalah Kurnia, pemilik showroom batik Kurnia di RT 16 RK 4 Desa Trusmi Kulon, Kecamatan Plered. Kurnia menyiapkan gentong berisi air minum isi ulang persis di depan showroom batik miliknya. Kurnia mengaku menyiapkan air minum tersebut karena mengikuti tradisi  haji di daerah setempat yang sudah berlangsung turun-temurun. "Karena menurut saya tidak ada jeleknya kami tetap mengikuti tradisi yang ada. Kan katanya memberikan sedekah bisa untuk menolak bala," ujar dia.

Kurnia mengaku menyiapkan gentong air tersebut untuk para pejalan kaki maupun tukang becak yang lewat di jalan depan showroom miliknya dengan harapan ibunya, Tuni, yang sedang menunaikan haji tidak merasakan panasnya gurun pasir.

"Konon air gentong yang kami sedekahkan bisa membuat keluarga kami yang sedang haji ikut merasakan kesejukan seperti sejuknya air di dalam gentong," kata Kurnia.

Haji Suka, tokoh masyarakat Trusmi mengatakan, tradisi gentong haji sudah berlangsung lama dan diwariskan secara turun temurun. Tujuan ingin memberikan sedekah air kepada para pejalan kaki sehingga diharapkan orang yang meminum air dari gentong tersebut memberikan dukungan dan do’a kepada calon jamaah agar selamat baik ketika dalam perjalanan maupun pulang dari melakukan ibadah haji.

Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga, Made Casta mengatakan tradisi tradisi gentong haji merupakan kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Tradisi gentong haji masih dilakukan di sebagian warga Kabupaten Cirebon seperti di Kecamatan Plered, Weru, Gunungjati dan Kapetakan.

Keluarga jamaah haji memberikan minum kepada orang yang kehausan atau kepanasan dengan air yang diletakkan di dalam gentong dengan harapan anggota jamaah haji mendapatkan keselamatan selama menjalankan ibadah yang hanya diwajibkan kepada umat yang mampu tersebut. "Dalam tradisi gentong haji terdampat nilai-nilai budaya yang luhur dan sejalan dengan ajaran agama Islam," ujar Casta.

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya