Jamaah Terdoktrin Imbauan, Petugas Haji pun Pilu

Fetra Hariandja, Jurnalis
Jum'at 12 Oktober 2012 11:19 WIB
Jamaah haji Indonesia (Foto: Dok. Okezone)
Share :

SEKIRA 194 calon jamaah haji Indonesia reguler akan berada di Tanah Suci. Mereka akan menjalankan rukun Islam kelima yakni menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu. Segala persiapan di Tanah Air pun dilakukan calon jamaah, termasuk menyimak berbagai macam imbauan selama berada di Arab Saudi.

Salah satu imbauan yang terus disampaikan kepada calon jamaah haji adalah jangan percaya kepada orang yang baru dikenal selama di Arab Saudi. Maklum, penipuan dan kejahatan yang menimpa calon jamaah haji mayoritas dilakukan mukimin asal Indonesia.

Para mukimin berhati kriminal tersebut menjadikan jamaah lanjut usia dan yang sedang bingung sebagai target korban. Bahkan ada pula yang melakukan aksi kejahatannya dengan menjambret tas jamaah, meski persentasenya sedikit.

Saat melihat jamaah kebingungan atau lanjut usia yang akan berwudhu, para pelaku kriminal tersebut dengan ramah menyapa dan siap membantu. Di saat mengalami kesulitan, para pelaku kejahatan tersebut memanfaatkan situasi. "Ibu mau kemana? Mari saya antar", "Mari saya bantu pegang tasnya. Ibu atau bapak silakan berwudhu". Beberapa saat kemudian mereka menghilang entah ke mana.
 
Mengapa banyak jamaah langsung percaya dengan para pelaku kejahatan? Kepercayaan langsung terpatri dalam benak jamaah karena pelakunya berbahasa Indonesia dan warga negara Indonesia. Bahkan ada yang melakukan penipuan dengan menggunakan bahasa daerah. Sontak, jamaah tersebut merasa senang karena ada orang di Arab Saudi yang satu daerah dengannya.

Meski jumlahnya tidak terlalu banyak karena sudah ditempatkan aparat keamanan di beberapa lokasi, tetap saja imbauan itu terpatri dalam pikiran jamaah. Petugas haji resmi pun kena imbasnya. Padahal, petugas haji tersebut sudah mengenakan seragam dan kartu pengenal resmi.

Seperti terjadi di area istirahat Bandara Haji King Abdul Aziz Jeddah. Niat ingin membawakan tas jamaah atau barang lainnya harus berakhir pilu. Sebagian jamaah menolak menerima bantuan dengan mimik muka tidak percaya. Bahkan ada yang menolak mengumpulkan pasportnya saat ingin naik bus. Sesuai peraturan, pasport tersebut diberikan kepada sopir bus bersangkutan.

Begitu pula ketika petugas haji mendekati jamaah karena salah jalan menuju area istirahat. Kala dipanggil petugas haji, jamaah tersebut justru memasang kuda-kuda curiga. Setelah mendengar penjelasan, baru lah jamaah tersebut percaya dan mengikuti petunjuk petugas.

Ada pula jamaah yang ketus kala petugas menyapa dan melemparkan senyum. Tidak jarang pula jamaah yang marah tanpa alasan jelas kepada petugas haji. Padahal alasan yang membuat marah jamaah tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan tanggung jawab petugas.

Meski demikian masih banyak juga jamaah yang langsung percaya kala petugas memperkenalkan diri sebagai petugas yang disiapkan pemerintah. Mereka menerima tawaran bantuan dari petugas.

"Terkadang sedih ketika kita menawarkan bantuan, tapi jamaah tersebut seperti ketakutan. Padahal jamaah tersebut sudah payah membawa tasnya karena sudah tua. Kami hanya bisa mengelus dada dan bersabar karena menjadi bagian dari tugas sebagai pelayan tamu Allah," papar seorang yang enggan disebutkan namanya di bandara.

Seperti diketahui, petugas haji Indonesia resmi mengenakan kemeja biru dan celana bahan hitam. Mereka dilengkapi nama di bagian dada dan dibebali kartu identitas. Petugas resmi tersebut ada di Jeddah, khususnya bandara, Madinah dan Makkah. Mereka yang melayani seluruh jamaah hingga prosesi pemulangan nanti.

(M Budi Santosa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya