Filsafat Sejarah Ibn Khaldun

, Jurnalis
Kamis 18 Juli 2013 13:37 WIB
Share :

Kita awali tulisan ini dengan merenungkan makna ucapan Ibn Khaldun dalam kalimat-kalimat terakhir kitabnya yang termasyhur, Muqaddimah: …Sekarang kami bermaksud menyudahi pembicaraan dalam buku pertama ini tentang hakikat peradaban dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya. Kami telah menggarap secara memadai masalah-masalah yang bersangkutan dengan hal itu. Barangkali (sarjana) yang akan datang yang mendapat keteguhan dari Allah dengan karunia pikiran sehat dan pengetahuan yang jelas, akan mampu menembus persoalan ini lebih banyak daripada yang telah kami tulis. Seseorang yang menciptakan suatu disiplin baru tidaklah harus menggarap keseluruhan persoalan yang terkait dengan secara berangsur-angsur menambah persoalan-persoalan baru, sehingga disiplin itu kelak menjadi sempurna.

Muqaddimah setiap sarjana ilmu sosial yang serius tentu telah mengetahuinya sebagai sebuah karya ilmiah dari dunia kesarjanaan Islam klasik yang tak habis-habisnya mengundang kekaguman dan penghargaan para ilmuwan sampai sekarang. Kalimat penutupan itu sudah tentu bukanlah sebuah ramalan, melainkan sebuah ungkapan harapan yang tulus.

Ibn Khaldun adalah seorang sarjana yang di zamannya ibarat menara yang menjulang tinggi di atas hamparan rata tingkat ilmu pengetahuan umat manusia saat itu. Namun begitu, ia tetap menunjukkan kerendahan hati dengan tidak mengaku bahwa apa yang ia garap itu telah sempurna. Jauh dari menuntut agar orang banyak mengikuti saja apa yang telah disajikan, ia justru mengharap supaya para sarjana generasi berikutnya mengambil bagian dalam usaha mengembangkan disiplin itu.

Ibn Khaldun mengharap bahwa disiplin ilmiah (al-fann) yang baru ia rintis, yaitu filsafat sejarah yang memiliki kaitan erat dengan seluruh cabang ilmu-ilmu sosial, akan dikembangkan oleh para sarjana generasi berikutnya. Dengan begitu akan terjadi akumulasi bahan dan informasi, serta pengalaman dan kemampuan ilmiah menuju kesempurnaan bangunaan disiplin itu.

Namun harapan dan antisipasi Ibn Khaldun itulah yang justru tidak terjadi di kalangan Islam. Dari kalangan barat memang terjadi perintisan dan perkembangan filsafat sejarah dan ilmu-ilmu sosial di zaman modern ini. Tetapi, berbeda dengan hampir semua cabang ilmu yang lain di barat, filsafat sejarah dan ilmu-ilmu sosial modern itu tidak ada kaitannya dengan suatu cabang ilmu dalam peradaban Islam, dalam hal ini pikiran-pikiran Ibn Khaldun. Philip K. Hitti menyajikan keterangan menarik tentang hal ini:

Kenyataannya ialah bahwa failasuf (Ibn khaldun) ini dilahirkan pada zaman yang salah dan di tempat yang salah. Ia tampil terlalu lambat untuk bisa membangkitkan respons di kalangan umatnya sendiri diri yang tidur nyenyak dalam abad tengahnya, atau untuk menemukan calon penerjemah kalangan Eropa. Ia tidak mempunyai pendahulu dekat dan tidak pula punya penerus. Tidak ada aliran pikiran yang dapat dinamakan Khulduni. Kariernya yang melejit itu menyorot sepanjang cakrawala Afrika Utara hampir tanpa meninggalkan berkas cahaya di belakangnya.

Ibn Khaldun yang lahir pada 1332 M dan wafat 1406 M, atau sekira 3 abad setelah Al-Ghazali (1508 M – 1111 M) memang hidup dalam suasana dan masyarakat intelektual yang tidak mendukung. Dunia Islam amat terlambat mulai mengenal dan menghargainya. Penghargaan yang kemudian tumbuh adalah berkat tertariknya pemerintah dan para sarjana Turki Utsmani yang mendapatkan banyak petunjuk praktis dalam teori-teori Muqaddimah bagi kepentingan politik mereka. Tetapi ketertarikan secara intelektual tetap nihil, bahkan justru sempat muncul prasangka-prasangka yang amat keliru dan zalim terhadap Ibn Khaldun karena ia mengemukkan berbagi ungkapan yang ditafsirkan secara salah sebagai bersemangat anti-Arab (meskipun ia sendiri seorang Arab Cordova di Andalusia keturunan asal dari Hadramaut).

Sumber: Enskilopedi Nurcholish Madjid

(M Budi Santosa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya