Orang Arab, khususnya penduduk Makkah pada masa sebelum Islam, mempunyai konsep geokultural yang sedikit-banyak sepadan dengan yang lain. Mereka dahulu, seperti kebanyakan bangsa Timur Tengah, menganut keagamaan pemujaan (dewa) Matahari, yang disebut ‘Syamas”. Mereka menyebahnya saat “dewa” itu menampakkan diri, yaitu saat matahari terbit di timur. Dalam posisi itu dengan sertamerta mereka melihat diri mereka berada di pusat jagat, dengan negeri-negeri di sebelah kiri dan kanan mereka, masing-masing di sebelah utara dan selatan. Mereka menyambut negeri sebelah utara itu dengan “syam” (kiri), meliputi seluruh wilayah Syria, dan sebelah selatan dengan “Yaman”(kanan), meliputi seluruh wilayah jazirah arab sebelah selatan. Dengan sendirinya kota Makkah disebut sebagai Ummu Al-Qura (ibu negeri, metropolis), pusat dari semuanya. Pandangan geokultural orang arab Makkah itu bertahan sampai sekarang, dan nama-nama negeri Syam dan Yaman juga bertahan tanpa rasa keberatan.
Pandangan geokultural Arab Makkah ini adalah bagian dari gejala umum kultus matahari sebagai “Sol Invictus “ (Matahari yang tak terkalahkan). Sisa kultus itu ialah pandangan hari pekan pertama sebagai “Hari Matahari” (Sunday), yang berarti juga “Hari Tuhan” (Dominggos). Sisa lainnya ialah kata-kata “Orientasi” yang berarti “mencari arah”, dalam hal ini mencari arah timur, arah matahari terbit.
Kaum Yahudi mungkin tidak menganut paham geokultural, karena mereka tidak pernah berkuasa atas suatu negeri dan menguasai suatu wilayah geografis secara berarti dalam jangka waktu yang cukup lama. Tetapi mereka menganut paham kultural keagamaan yang sangat dikotomis, yakni membagi umat manusia menjadi dua kelompok. Diri mereka sendiri sebagai “bangsa pengemban perjanjian (dengan tuhan )”(B’nai B’rith”The Children of the Covenant”). Sedangkan semua manusia lainnya adalah ”gentile”, tidak saja dalam arti “bangsa” seperti makna menurut aslinya dalam bahas Ibrani, tapi juga dalam isyaratnya yang beranda merendahkan bangsa-bangsa selain bangsa Yahudi. Pada masa Israel kuno mereka memandang semua orang lain secara moral jahat dan kotor. Kaum mormon mengambil pandangan tersebut untuk menyebut selain mereka sebagai gentile. Dan sungguh menarik bahwa sebagian kaum Muslim India menyebut orang lain juga sebagai gentile.
Umat Islam memang juga mempunyai pandangan geokultural dan geopolitik yang kurang lebih sebanding. Pertama-tama ialah pembagian manusia secara garis besar menjadi kaum “mu’min” (mereka yang percaya kepada kebenaran, khususnya kebenaran Ilahi), dan kaum “kafir” (mereka yang menolak kebenaran). Jika kedua istilah itu masih berada dalam lingkup pandangan keagamaan, maka istilah-istilah “Dar Al-Islam” (Negeri Islam) atau “Dar Al-Salam (baca: “Darussalam” “Negeri Damai”) berhadapan dengan “Dar Al-Hard” (“negeri Perang”) jelas merupakan pandangan geopolitik dibagi menjadi dua, yaitu “Dunia Bebas” dan “ Dunia Komunitas”. Memang, ada usaha untuk menetralkan pandangan geokultural yang mengancam itu, dengan perkenalkannya pengerti “dunia ketiga”, bersama dengan “Dunia pertama” (“Dunia bebas”) dan “Dunia kedua” (“dunia Komunitas”). Usaha yang diplopori Indonesia berpengaruh besarsekali pada suasana geopolitik global, namun konsep dikotomis ”Dunia bebas” dan ”Dunia Komunis” tetap dominan, sampai runtuhnya “Dunia Komunis”.
Sumber: Ensiklopedi Nurcholish Madjid
(M Budi Santosa)