SUDAH kondang kemegahannya. Mesjid Raya tampak anggun berdiri di Kecamatan Bontoala, Makassar, Sulawesi Selatan. Setiap hari di bulan suci Ramadan 1434 H, umat Islam berbondong-bondong memakmurkan masjid tersebut.
Dari arah Jalan Masjid Raya, Bontoala, arsitektur modern bernuansa ala Timur Tengah sangat elok dipandang mata. Masuk ke dalam, interiornya membuat lapang hati setiap umat yang beribadah di sana.
Kaligrafi bertulisan 99 Nama Allah atau Asmaul Husna menjadi relief pada salah satu bagian mihrab. Perpaduan warna dan kaligrafi menghiasi bagian dalam pintu masuk ke mesjid. Semakin khusyuklah ibadah kaum Muslim karena kebersihan Masjid Raya Makassar yang terjaga.
Menurut Jusuf Kalla (JK), selaku Ketua Pembina Yayasan Masjid Raya Makassar, masjid tersebut awalnya dibangun pada 1949 dan diresmikan lima tahun kemudian di bawah pimpinan KH Muchtar Lutfi.
Pembangunan didukung oleh seluruh masyarakat dan pemerintah. Lahan yang tempat didirikannya bangunan masjid merupakan lapangan sepakbola klub Exelcior yang dihibahkan.
Layak diketahui, di Makassar, sepakbola sudah digandrungi sejak dulu demikian penuturan JK sesuai dengan temuan Nico van Horn, arsiparis dari KITLV Leiden, Belanda.
“Beberapa klub sepakbola di Makassar sebelum 1930-an, salah satunya Sportvereeniging Excelsior. Klub ini didirikan pada 1914 oleh orang-orang asal Tionghoa, antara lain punya lapangan di Koningsplein atau Lapangan Karebosi,” tulis Nico melalui surat elektroniknya kepada Okezone.
JK menceritakan, Masjid Raya Makassar direnovasi kali pertama pada 1978 oleh Gubernur Sulsel saat itu Ahmad Lamo.
Sampai 29 tahun kemudian, kondisi fisik bangunan kembali bocor dan sulit dipertahankan lagi. Karena itu, masjid dibangun kembali dengan struktur dan arsitektur baru. Namun kondisi tetap dipertahankan apa adanya sebagai lambang kelanjutan dari bangunan lama.
Muhammad Syahril, seorang pengurus Masjid Raya Makassar, menuturkan, biaya renovasi saat itu menghabiskan sekira Rp30 miliar.
“Tahun 1999 diadakan perombakan total sehingga jadi seperti ini. Biaya renovasinya kurang lebih Rp30 miliar. Sumbangan dari keluarga H Kalla sendiri sebanyak Rp18 miliar,” ucap Syahril.
Selain menjaga Kota Makassar dan salah satu landmark-nya, masjid tersebut juga kental dengan aroma perjuangan.
Dikisahkan, Salat Jumat kali pertama dilakukan pada Agustus 1949 di masjid tersebut. Kendati bangunan belum sepenuhnya rampung, seluruh ruangan penuh sesak dipadati jemaah yang melimpah hingga meruah ke luar ke jalan raya.
Panitia lalu menganjurkan agar semua masjid di Makassar ditutup pintunya saat Salat Jumat dan menyarankan kepada umat Islam agar bersatu di Masjid Raya Makassar. Ini untuk menunjukkan bahwa umat Islam tetap bersatu pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia. Diserukanlah pelaksanaan Salat Jumat berpusat di Masjid Raya.
Aktivitas itu membuat gusar tentara KNIL yang masih berkuasa di Makassar. Mereka menyesal memberikan izin membangun masjid itu.
Ditambah, selain untuk tempat ibadah, masjid ternyata juga dijadikan markas pertemuan dan kegiatan para pejuang kemerdekaan. Di mimbarnya, para mubaligh dengan fasih menerjemahkan ayat-ayat suci Alquran tentang kemuliaan kemerdekaan dan jahatnya penjajahan.
Tragedi paling pilu terjadi pada Sabtu, 5 Agustus 1950. KH Muchtar Lutfi ditembak mati sekira pukul 04.00 Wita di rumahnya.
Saat itu, tentara KNIL menyatroni kediaman beliau di Jalan Batu Putih (kini Jalan Muchtar Lutfi).
Sehari sebelumnya, Lutfi saat khotbah Jumat menguraikan arti proklamasi kemerdekaan dan mengecam keras segala bentuk penjajahan. Ulama itu berseru kepada umat agar memboikot suplai makanan sayur, beras, dan apa saja ke markas KNIL.
Wafatnya KH Muchtar Lutfi bukan malah menyurutkan, namun justru semakin menggelorakan semangat perjuangan umat Islam di Makassar.
(Anton Suhartono)