Melihat Lebih Dekat Benda-Benda Sakral di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Rani Hardjanti, Jurnalis
Senin 18 September 2017 06:54 WIB
(Foto: Rani Hardjanti/Okezone)
Share :

MAKKAH – Jamaah haji yang ingin mengetahui sejarah panjang perkembangan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi bisa belajar di Museum Imarat Al-Haramain Asy-Syarifain. Diresmikan oleh Gubernur Makkah Abdul Majid bin Abdul Aziz pada 1420 Hijriah, museum ini memamerkan koleksi benda-benda bersejarah masjid dua Kota Suci.

“Museum ini dibangun 18 tahun yang lalu. Masih relatif muda. Museum ini dimaksudkan untuk menggambarkan progres pembangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi,” terang salah satu Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Subhan Cholid saat menemani tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah berkunjung ke museum. Ikut dalam kesempatan ini, Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi Hadi Rahman serta Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Kemenag Mastuki.

(Baca Juga: Serasa Hidup di Zaman Rasulullah, Menilik Lembaran Tafsir Kuno di Thaif)

Museum dengan luas sekitar 400 meter persegi ini terbagi dalam dua ruang besar, ruang koleksi Makkah dan Madinah. Koleksi yang ada disusun dalam alur kunjungan melingkar dari pintu masuk sampai pintu keluar.

Masuk pintu utama, pengunjung lebih dulu akan dimanjakan dengan beragam koleksi seputar Makkah dan Masjidil Haram. “Masuk ke ruang museum, kita akan diperlihatkan lebih dulu dengan maket perluasan Masjiidl Haram yang sekarang sudah hampir mencapai 80%,” ujar Subhan.

“Selanjutnya, kita melihat menara-menara Masjidil Haram zaman dulu yang terbuat dari tembaga. Lalu ada tangga masuk ke Kakbah. Kalau sekarang menggunakan hidrolik. Dulu menggunakan tangga itu dengan kayu yang sangat kuat,” ucapnya.

Beberapa koleksi lainnya adalah alat tenun Kiswah Kabah. Kayu tiang penyangga bagian dalam Kakbah. “Ada juga contoh potongan kayunya dari tahun 65 hijriah. Saya lihat masih bagus,” ujar Subhan.

Selain itu, ada koleksi jam menara tempo dulu, layaknya jam pada Tower Zamzam saat ini. Jam dengan mesin manual itu informasinya, kata Subhan, dibeli dari Jerman. “Ada juga jam yang menggunakan sinar matahari (istiwa’) sehingga hanya berlaku siang hari saja,” ucapnya.

Pada bagian lain Museum Imarat Al-Haramain Asy-Syarifain, ada pula koleksi perkembangan Kota Madinah dan Masjid Nabawi. Masuk ke ruang ini, pengunjung akan diperlihatkan terlebih dahulu dengan foto-foto Kota Madinah tempo dulu dan pembangunan Masjid Nabawi. Lalu ada sejumlah koleksi manuskrip dan salinan manuskrip Alquran.

“Ada salinan mushaf zaman Utsman yang hurufnya belum ada titik dan harakatnya, lalu terus berkembang sehingga menjadi mushaf yang seperti sekarang ini,” jelas Subhan.

Menurut Subhan, koleksi tertua museum ini adalah tiang kayu penyangga bangunan Kakbah. Dalam keterangan yang tertera di sisi tiang tersebut, tertulis tiang itu digunakan sejak 65 Hijriah. Subhan berharap koleksi museum ini bisa terus bertambah sehingga dapat menampilkan bukti sejarah yang lebih lengkap.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya