Selain itu, ada koleksi jam menara tempo dulu, layaknya jam pada Tower Zamzam saat ini. Jam dengan mesin manual itu informasinya, kata Subhan, dibeli dari Jerman. “Ada juga jam yang menggunakan sinar matahari (istiwa’) sehingga hanya berlaku siang hari saja,” ucapnya.
Pada bagian lain Museum Imarat Al-Haramain Asy-Syarifain, ada pula koleksi perkembangan Kota Madinah dan Masjid Nabawi. Masuk ke ruang ini, pengunjung akan diperlihatkan terlebih dahulu dengan foto-foto Kota Madinah tempo dulu dan pembangunan Masjid Nabawi. Lalu ada sejumlah koleksi manuskrip dan salinan manuskrip Alquran.
“Ada salinan mushaf zaman Utsman yang hurufnya belum ada titik dan harakatnya, lalu terus berkembang sehingga menjadi mushaf yang seperti sekarang ini,” jelas Subhan.
Menurut Subhan, koleksi tertua museum ini adalah tiang kayu penyangga bangunan Kakbah. Dalam keterangan yang tertera di sisi tiang tersebut, tertulis tiang itu digunakan sejak 65 Hijriah. Subhan berharap koleksi museum ini bisa terus bertambah sehingga dapat menampilkan bukti sejarah yang lebih lengkap.
(Erha Aprili Ramadhoni)