KAKEK-kakek di kaki Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memiliki cara cukup ekstrem untuk menunggu waktu berbuka puasa alias ngabuburit. Mereka rutin berlatih sepakbola dengan melawan tim dari beragam usia, termasuk para pemuda.
Usia senja tak menyurutkan semangat kakek-kakek ini untuk bermain sepakbola. Lapangan hijau Stadion Wujil Ungaran menjadi saksi kakek-kakek penuh semangat ini berlarian mengejar bola untuk dimasukkan ke gawang lawan.
Salah satunya adalah Muhtarom yang berusia 60 tahun. Kakek satu cucu dan dua anak itu tak mau kalah dengan tim lawan yang rata-rata masih berusia muda. Meski seluruh rambutnya telah memutih, namun dua kakinya tetap lincah mengejar bola.
“Sebenarnya sepakbola ini adalah hobi saya sejak muda. Tapi memang tantangan terberat sekarang adalah faktor U (usia),” lugas Muhtarom, sambil tertawa, beberapa waktu lalu.
Meski demikian, kecintaan Muhtarom pada dunia sepakbola tak pernah lekang oleh waktu. Pada usia senja, dia aktif dalam klub sepakbola Veteran di Kabupaten Semarang. “Jadi sudah biasa main bola. Puasa juga enggak masalah, tetep latihan,” ucapnya.
Pada setiap laga latihan ini waktu pertandingan yang mestinya 2 x 45 menit diubah menjadi 2 x 30 menit. Rentang waktu pertandingan yang lebih singkat untuk menjaga kondisi fisik, sekaligus bertujuan para pemain gaek ini tak kehabisan napas.
Ketua Askab PSSI Semarang, Budi Pramono, mengatakan, latihan rutin menjelang waktu buka puasa itu juga sebagai persiapan mengikuti turnamen sepakbola usia 47 tahun ke atas di Senayan Jakarta pada 11-19 Mei 2019. Tim Askab Semarang ini berasal dari legenda klub sepakbola PSIS Semarang, maupun pemain tarkam.
“Kompetisi yang melibatkan pemain-pemain kawakan ini diharapkan menjadi penyemangat tumbuhnya bibit-bibit baru di bidang sepakbola. Mereka pun ingin menjadi teladan bagi kaum muda, bahwa puasa bukan menjadi penghalang untuk bermain sepakbola,” pungkas dia.
(Muhammad Saifullah )