EMPAT negeri serumpun yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Bruneidarussalam, dan Singapura menggelar Senior Official Meeting (SOM) Menteri Agama. Pada event ke-44 yang dihelat di Singapura ini, Indonesia memperkenalkan moderasi bergama.
Kepala Badan Litbang dan Pendidikan Kementerian Agama Abd Rahman Mas'ud yang mewakili Indonesia, memanfaatkan ajang ini mempromosikan moderasi beragama dengan tema Masyarakat Islam Sukses Menyebarkan Islam Rahmat Lil Alamin.
Mas'ud menyampaikan bahwa masalah keberagamaan umat belakangan ini sangat kompleks seiring dengan era digital yang mengubah banyak hal dalam kehidupan. Era disrupsi telah melahirkan perubahan radikal yang sangat cepat dan mengakibatkan efek domino yang luar biasa dalam beragama. Kemudahan akses internet telah mengubah pola perilaku beragama.
"Era digital telah mengubah kehidupan umat Islam makin kompleks. Banyak perubahan radikal yang tidak pernah terjadi sebelumnya, sehingga disebut era disrupsi. Hal ini telah mengakibatkan efek domino yang luar biasa gara-gara pengaruh internet, termasuk mengubah pola perilaku beragama," tuturnya.
Lebih lanjut Mas'ud menyampaikan bahwa masyarakat cenderung menyukai info atau berita yang provokatif sehingga sering ditemukan pola beragama yang tekstual, mudah menyalahkan orang lain atau intoleran karena pemahaman agamanya yang rendah.
Dalam rangka menangkal paham-paham literalis dan cenderung radikal, pemerintah Indonesia telah melakukan upaya-upaya moderasi beragama agar yang ekstrem kanan maupun ekstrem kiri mau menuju ke tengah. Menurutnya, hakikat Islam itu ada di "tengah-tengah", bukan Islam "setengah-setengah". Sehingga promosi moderasi beragama harus terus dilakukan, khususnya di negara-negara MABIMS yang sejak awal memiliki latar belakang sama.