Rasulullah terbayang saat Saudah meninggalkan bumi yang subur tatkala ia mendapat kesempurnaan dan kemewahan hidup serta merasakan ketenangan di atas bumi itu, tetapi kemudian ia pergi menuju negeri asing dan di tengah orang-orang yang ia tidak kenal dan mereka tidak pula mengenalnya. Bahasa mereka bukan Bahasa Arab. Agama mereka bukan agama Islam.
Bahkan, sebelum kembali dari pengasingan dan menginjak bumi Makkah, suami Saudah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Rasulullah sangat terkesan dengan perjuangan Saudah, Muhajirin yang menjadi janda itu.
Oleh karena itu, begitu Khaulah binti Hakim menyebut nama Saudah, Rasulullah segera mengulurkan tangannya yang pengasih untuk menjadi sandaran bagi Saudah pada masa tuanya serta meringankan kerasnya kehidupan yang ia rasakan.
Rasulullah bersabda kepada Khaulah,
“Pergilah dan bicaralah kepada Saudah!” Khaulah segera pergi. Ia terlebih dahulu menghampiri kediaman Abu Bakar dan baru kemudian mendatangi rumah Zum’ah.
Tidak lama kemudian, Rasulullah menikahi Aisyah binti Abu Bakar dan juga menikahi Saudah. Selama menikah, Saudah hidup bersama Rasulullah selama kurang lebih tiga tahun atau lebih, baru kemudian berkumpul dengan Aisyah.
Masyarakat Makkah merasa aneh terhadap pernikahan Rasulullah dengan Saudah. Mereka pun bertanya dengan penuh keraguan, “Janda tua yang tidak begitu cantik menggantikan Khadijah, junjungan seluruh wanita Quraisy dan tumpuan semua pembesar Quraisy?”
Sejak awal, Saudah mengetahui bahwa Rasulullah yang menikahinya karena merasa kasihan. Karena itu, Saudah juga tahu bahwa dirinya, atau siapa saja, tidak akan bisa menggantikan Khadijah di hati Rasulullah.
Pernikahannya itu tiada lain hanyalah kebajikan, kasih sayang, dan pelipur lara dari Nabi pembawa rahmat. Namun, itu semua tidak ia hiraukan karena dengan Rasulullah mengangkatnya dalam kedudukan tinggi itu dan menjadikannya sebagai Ummul Mukminin, semua itu sudah cukup baginya.
Saudah sudah merasa bahagia ketika melihat Rasulullah menertawakan dirinya saat berjalan karena tubuhnya yang sangat gemuk. Kadang beliau juga merasa damai karena keringanan Saudah dan memuji sedikit kata-katanya.
Suatu ketika, Saudah berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, tadi malam aku salat di belakangmu. Selanjutnya, engkau membawaku rukuk hingga aku memegang hidungku karena khawatir jika sampai darah menetes darinya.”
Rasulullah tersenyum lebar karena kata-kata Saudah tersebut.
Demikianlah, Saudah mampu tinggal dalam keluarga Nabi dan melayani putri-putri Rasulullah. Ia mampu menciptakan kegembiraan dan kebahagian dalam hati Nabi dengan keriangan dan kejenakaannya meskipun tubuhnya sangat gemuk.
Keadaan ini berlangsung hingga tiga tahun dan masuklah Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar di tengah rumah tangga Nabi. Saudah memberikan tempat pertama kepada Aisyah dalam keluarga itu.
Ia berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan istri muda itu dan berusaha memberikan ketenangan. Sejak saat itu, berdatangan pula istri-istri Rasulullah yang lain, selain seperti Hafshah, Zainab, dan lain-lain.