Sains Dalam Alquran, Perjalanan Zulqarnain hingga ke Siberia

Fadhil Khatamy, Jurnalis
Jum'at 13 Desember 2019 04:41 WIB
Lansekap Siberia (Foto: Flickr)
Share :

Studi ini meyakini pula bahwa runtuhan dinding Zulqarnain itulah yang sekarang ini dikenal dengan Benteng Derbent yang ada di perbukitan Kaukasus atas dasar argumen-argumen berikut:

1. Bentuk benteng serupa dengan Benteng Derbent.

2. Posisi benteng terletak pada rute perjalanan Zulqarnain, yaitu perbukitan Kaukasus.

3. Kawasan utara perbukitan Kaukasus belum terjamah oleh penaklukan pada sejarah masa lalunya, karena semua penaklukan besar dalam sejarah –seperti penaklukan Alexander yang agung dan penaklukan Islam –belum menjangkau perbukitan Kaukasus, seakan kawasan itu belum pernah mengalami pertempuran dengan dunia luar.

4. Adanya lautan berlumpur hitam di barat 'dunia baru' dan itu tidak ada barat 'dunia lama'. “... hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam lautan yang berlumpur hitam dan dia mendapati di situ segolongan umat...” Sesungguhnya, laut berlumpur hitam itu dikenal juga dengan sumur energi panas yang biasa ditemukan di daerah gunung berapi sebelah barat Amerika Utara, Amerika selatan, Selandia Baru, dan Islandia.

5. Dinding benteng yang digambarkan oleh Zulqarnain terdiri atas besi atau bebatuan yang mengandung kadar besi tinggi seperti uraian Alquran “potongan-potongan besi”. Hal itu sepenuhnya selaras dengan banyaknya kandungan unsur besi dalam jumlah besar di perbukitan Kaukasus.

6. Studi ini meyakini bahwa ketika Zulqarnain meminta tembaga dari kaum setempat, maksudnya adalah meminta cairan aspal dan bukan tembaga, karena tembaga mencegah besi menjadi karat oleh sebab-sebab berikut:

a. Kandungan tembaga tidak ditemukan di perbukitan Kaukasus, dan

b. Tembaga membutuhkan panas yang ekstrim untuk melelehkannya, lalu dituangkan ke atas besi. Sementara cairan aspal tidak butuh api untuk melelehkannya, tapi sebaliknya ia takkan beku pada suhu normal.

7. Dapat dipahami bahwa Zulqarnain memotong batu yang mengandung unsur besi lalu menyalakan api untuk melelehkannya. Dia lalu menambahkannya cairan aspal hitam ke dalam besi cair itu. Kalau saja dia mencampurkan aspal hitam dengan besi dalam keadaan api menyala, pastilah campuran itu akan terbakar. Komposisi cairan aspal dengan cairan besi menjadikannya campuran yang kuat. Itulah prinsip yang dipakai hari ini dalam proses pembuatan besi dan baja.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya