Menag Fachrul Razi: Seorang Santri Itu Pasti Lebih Sehat, Cerdas, dan Amanah

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis
Kamis 12 Desember 2019 19:01 WIB
Santri sedang belajar ngaji (Foto: New York Times)
Share :

Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengatakan, terdapat tiga kelebihan santri jika dibandingkan dengan remaja pada umumnya.

Kelebihan ini disampaikan Menag Fachrul Razi di hadapan ratusan santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. “Seorang santri itu pasti lebih sehat, cerdas, dan amanah,” ujarnya, Kamis (12/12/2019).

 

Menurut Menag Fachrul Razi, santri disebut lebih sehat dibanding yang lain sebab sudah terbiasa bangun subuh. “Dengan bangun waktu subuh, bahkan sebelumnya, maka santri menghirup udara yang masih bersih. Dan ini menyehatkan,” terangnya seraya membandingkan remaja yang lain mungkin masih di dalam pelukan hangat selimut.

Kedua, disebut cerdas karena santri tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga ilmu umum, bahasa, sosial dan lainnya.

Ketiga, lanjut Menag Fachrul Razi, seorang santri itu lebih amanah. “Sebab santri pasti menjaga amanah dari orangtua dan menjaga amanah dari kyai. Termasuk amanah dari para pahlawan.

"Santri juga menjaga amanah dari Allah dengan jalan meningkatkan iman dan takwa,” katanya.

Meski punya berbagai kelebihan, Menag Fachrul Razi juga mengingatkan tantangan santri saat kelak mengarungi kehidupan. “Saya ingatkan para santri bahwa kalian di sini bertemu dengan orang-orang baik. Namun di luar sana bisa ketemu orang jahat. Maka perlu dibentengi dengan moral dan keteguhan sikap,” katanya.

Ia mengilustrasikan, seperti di tentara kalau latihan atau sekolah terlihat menonjol. “Namun begitu dalam operasi langsung down mentalnya,” sebut Menag yang dulu pernah menjabat Gubernur Akademi Militer itu.

Selain itu, Menag juga mengingatkan kisah Rasulullah yang mampu mendengar saran dari orang lain sekaligus cerdas dalam mengambil keputusan. “Pesan utamanya sepintar apapun kalian jangan sombong, kalau ada orang memberi saran dan masuk akal bisa digunakan,” tukasnya.

“Seperti Kyai Najib ini yang memiliki ilmu tinggi namun tetap merendah seperti filsafat padi. Makin berisi, makin tunduk,” sambungnya.

Di tempat yang sama, mewakili Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, KH Fairuzi Hafidz menceritakan perjalanan Pesantren Al Munawwir. “Pesantren Al Munawwir didirikan oleh Simbah Kyai Haji Raden Munawwir pada 1911. Sebelumnya beliau belajar di Makkah selama 21 tahun, yakni pada kurun 1888-1909,” terangnya.

Basis Pondok Pesantren Al Munawwir ini adalah Alquran. “Mbah Munawwir selain hafal Alquran juga ahli qira’ah sab’ah,” ujarnya.

“Uniknya, dulu saat di Makkah beliau kirim surat kepada orang tuanya yang ada di Yogya, yang isinya mohon doa restu ingin menghafal Alquran di sana,” terangnya.

Saat orang tuanya masih agak heran karena Alquran cukup tebal, sudah datang surat kedua. “Alhamdulillah berkat restu bapak-ibu, ananda mampu menghafal Alquran,” sebut KH Fairuzi menyitir surat kedua Simbah Kyai Moenawwir seraya menyebut rentang kedua surat ini hanya berjarak sekitar 40-70 hari.

KH Fairuzi menambahkan hingga saat ini kepemimpinan pondok mencapai generasi ketiga. “Saat ini dipegang tujuh pengasuh yang diketuai KH R Muhammad Najib Abdul Qodir,” terangnya.

Seperti dilansir website Kemenag, ia menambahkan, KH Najib Abdul Qodir dikenal hafal Alqur’an di luar kepala dan ahli qira’ah sab’ah. “Beliau itu saat mengigau dalam tidur saja yang keluar hafalan Alquran, begitu juga saat sima’an, tertidur langsung bisa meneruskan bacaan sebelumnya.”

(Dyah Ratna Meta Novia)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya