Shafiyah binti Abdul Muthalib, Bibi Rasulullah yang Ikut Berjuang di Perang Uhud

Suherni, Jurnalis
Kamis 19 Desember 2019 16:29 WIB
Perempuan di padang pasir (Foto: Trendland)
Share :

Shafiyah menyaksikan tersebarnya Islam secara luas ke seluruh penjuru negeri dan ia sendiri ikut andil dalam menyebarkannya. Semangat jihad begitu mengakar dalam hatinya sejak masa kecilnya.

Bahkan dalam Perang Uhud, begitu ia mendapat kesempatan untuk terlibat perang, ia pun berjalan di barisan paling depan di antara para perempuan yang ikut pergi untuk melayani para pejuang laki-laki, mengobati para prajurit yang terluka, menyiapkan makan, dan lain-lain.

Ketika Allah menghendaki kaum Muslimin mengalami kekalahan karena sebagian dari mereka menyimpang dari perintah Rasulullah sebagai panglima mereka, Shafiyah yang pemberani itu menenteng sebuah tombak dan turun ke tengah medan perang.

Dengan tombak itu, Shafiyah menghadang orang-orang yang melarikan diri dari medan perang. Ia berkata kepada mereka, "Kalian akan lari meninggalkan Rasulullah?"

Seusai perang, Rasulullah turun ke medan pertempuran untuk memeriksa para prajurit muslim yang terluka dan terbunuh. Beliau mendengar kabar tentang terbunuhnya paman beliau, Hamzah, Sang Singa Allah dan Rasul-Nya.

Saat menemukan jasad Hamzah, beliau melihat perutnya yang terburai dan jasadnya dalam keadaan yang sangat buruk. Melihat keadaan sang paman yang demikian, Rasulullah sangat sedih dan hatinya teriris.

Air mata mengucur dari kedua mata beliau karena duka atas kepergian sang syuhada Islam. Beliau bersabda, "Aku tidak akan mengalami sebagaimana yang engkau alami. Sungguh aku tidak pernah melihat keadaan yang lebih tidak menyenangkan daripada ini. Semoga Allah merahmatimu karena sepanjang yang kutahu, engkau adalah orang yang senang melakukan kebaikan dan menyambung silaturahmi. Demi Allah, jika Allah memberiku kesempatan untuk mengalahkan kaum Quraisy, aku akan membalas terhadap tujuh puluh orang dari mereka."

Selanjutnya, Rasulullah bersabda, "Andai Shafiyah tidak bersedih dan khawatir akan menjadi sunah sesudahku, aku pasti membiarkannya (jasad Hamzah) menjadi mangsa binatang buas dan burung-burung pemangsa."

Rasulullah meletakkan jasad Hamzah di arah kiblat lalu beliau berdiri dan meratap hingga terasa sesak dadanya. Beliau sangat tertekan hingga bersabda, "Wahai paman Rasulullah, Asadullah wa Asadu Rasulihi. Wahai Hamzah, wahai orang yang suka melakukan kebaikan. Wahai Hamzah, wahai orang yang senang menyingkap kesulitan. Wahai Hamzah, sang pembela Rasulullah."

Melihat kesedihan Rasulullah atas kematian sang paman, kaum Muslimin berkata, "Jika suatu hari nanti Allah memberi kita kemenangan atas mereka, pastilah kita balas mereka dengan balasan yang tidak pernah disaksikan oleh bangsa Arab."

Ketika mengetahui saudaranya, Hamzah, telah terbunuh, Shafiyah segera bergegas untuk melihatnya. Hamzah adalah saudara kandung Shafiyah. Karena itu, Rasulullah bersabda kepada Zubair putra Shafiyah, "Wahai Zubair, cegahlah ibumu!"

Dengan perasaan sedih, Zubair segera pergi untuk menghampiri sang ibu. Ia berkata, "Wahai ibu, sesungguhnya Rasulullah menyuruhmu untuk kembali." Shafiyah menjawab, "Mengapa begitu? Aku mendengar bahwa saudaraku telah dibunuh? Itu semua terjadi dalam perjuangan karena Allah. Jadi, alangkah besar keridhaan kita atas apa yang terjadi. Aku akan bersabar, Insya Allah."

Para sahabat Anshar menghalangi Shafiyah untuk melihat jasad Hamzah, saudaranya. Namun, usaha itu tanpa arti. Pada akhirnya, Rasulullah mencegah mereka.

Beliau berseru, "Biarkanlah ia!" Shafiyah yang penyabar itu pun melihat Hamzah yang telah dipotong-potong. Ia merasakan kesedihan menyayat hatinya. Shafiyah tertunduk di hadapan Rasulullah hingga ketika Shafiyah menangis, Rasulullah pun ikut menangis. Ketika Shafiyah terisak, Rasulullah juga ikut terisak.

Fathimah az-Zahra dan orang-orang yang mengerumuninya juga menangis. Setiap kali Fathimah menangis, Rasulullah juga turut menangis kemudian bersabda, "Aku tidak akan pernah mengalami seperti Hamzah."

Sayyidina Hamzah dibungkus dengan kain pendek. Jika mereka tutupkan

di kepala, kedua kakinya terbuka dan jika mereka tutupkan di kaki, kepalanya tersingkap. Akhirnya, mereka tutupkan kain di kepala lalu kedua kakinya ditutup dengan rerumputan hijau.

Ketika sang singa Allah dan Rasul-Nya ini telah dimakamkan, Rasulullah bersabda, "Aku didatangi oleh Jibril kemudian mengabarkan kepadaku bahwa Hamzah ibn Abdul Muththalib tertulis di antara penghuni langit tujuh: Hamzah ibn Abdul Muththalib Sang Singa Allah dan Rasul-Nya."

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Muslim lainnya