Keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi Aula Andika Fikrullah Al Balad, seorang pemuda Aceh, anak pedagang sayur dalam meraih pendidikan di Amerika Serikat.
Setelah 53 kali gagal mendapat beasiswa, pemuda Aceh tersebut tak menyerah. Ia terus berjuang hingga akhirnya berhasil meraih beasiswa kuliah S2 di Lehigh University, 50 besar universitas top di Amerika. Namun keberhasilan Aula tak lepas dari doa-doa ibunya sepanjang hari.
Melalui akun Instagramnya @fa_aula, Aula menuliskan caption mengenai doa ibunya yang mengantarkannya hingga ke Amerika:
"Pergilah dengan mengucapkan bismillah, Insya Allah perjalanan ini adalah perjalanan yang mendatangkan berkah. Kini AULA sudah MERDEKA!" .
Kalimat ini terkesan sederhana untuk dibaca. Tapi, kalimat ini keluar dari bibir yang selalu basah karena asma-Nya. Kalimat ini diucapkan oleh pribadi yang tak pernah meninggalkan shaum sunnah Senin-Kamisnya. Kalimat ini diucapkan oleh sosok yang tak pernah meninggalkan tahajjud dan witirnya. Kalimat ini diucapkan oleh kepala yang lidah yang insyaAllah tak pernah lupa akan membaca Alquran tiap harinya.
Allah Akbar. Ketika hari ini saya berdiri di depan White House ini, bukanlah karena cerdas, pintar dan hebatnya seorang Aula Andika Fikrullah Al Balad, tapi ini semua karena berkahnya doa yang dipanjatkan olehnya..
Ya Allah, jika aku terlebih dahulu kembali kepada-Mu. Maka izinkanlah dia meletakkan kapas dan menutup kain kafan di wajahku.
Setelahnya, di akhirat kelak. Jika aku tidak Engkau masukkan ke surga karena kurangnya amal ketaatan dan kebaikan ku, maka karena keberkahan yang pada dirinya maka izinkan dia menjemputku untuk menemaninya ke surga-Mu kelak.
Bethlehem, USA, March 3, 2019
Untuk mu di Aceh Besar (Ummi wa Abi) dari seorang bocah laki-laki yang merindui mu.
Itulah doa dan kerinduan Aula kepada sang ibu yang doa-doanya mengantarkannya ke benua Amerika tersebut. Sejatinya doa ibu sangatlah manjur.
Sebelum sukses seperti saat ini, Aula selalu kebingungan mencari uang untuk sekolah. Sebab ia terlahir dari seorang ibu yang sehari-harinya berdagang sayur di Gampong Lampasi, Darul Imarah, Aceh Besar.
Seperti kisah hidupnya, Aula mengatakan, “it’s not about perfect. It’s all about effort.” Tak perlu harus melulu sempurna, namun segala cita-cita bisa diraih dengan berusaha.
Kisah perjuangan Aula dari Lampasi, Aceh
“Semenjak menikah dengan almarhum ayah, ibu saya sudah jualan sayur,” ujar Aula.
Ibu Aula, Siti Narimah atau Mak Cut dulu biasa berjualan dari pintu ke pintu. Namun sejak tahun 2000, Aula dan keluarga membangun kios kecil yang beratapkan rumbia di depan rumah mereka, sehingga kini sang ibu tidak perlu lagi berkeliling kampung.
“Mungkin usia beliau sekitar 60an,” ujar Aula saat ditanya mengenai usia ibunya.
Suatu ketika kejadian tragis menimpa keluarga Aula pada tahun 2004 ketika sang ayah, almarhum Ridhwan Kr Is, ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa lagi di dekat sebuah sawah. Almarhum telah menjadi korban saat terjadi konflik di Aceh. Pada waktu itu Aula masih kelas lima di bangku sekolah dasar.
Dua orang kakaknya juga meninggal pada tahun yang sama, satu karena sakit dan satu lagi menjadi korban tsunami.
Perjuangan baru pun dimulai oleh Mak Cut yang seketika menjadi orang tua tunggal yang harus memenuhi kebutuhan hidup bagi dirinya dan anak-anak. Membantu orang tua berdagang sayur memang sudah menjadi ritual Aula dan kakak-kakaknya sejak masih duduk di bangku sekolah.
“Saya SMP itu ingat. Jadi saya sekolahnya jam dua siang. Jadi pagi itu ngantar dulu ibu ke pasar untuk belanja sayur, terus jemput lagi ibu. Ibu ke pasar gitu, kemudian setelah semuanya beres, jam dua siang saya baru berangkat ke sekolah,” ujar si bungsu dari tujuh bersaudara ini.